Mengapa Sekolah Alam?

Tulisan ini hanya diniatkan sebagai memento dan reminder untuk saya, tentang rezeki ilmu utk anak dan juga kami, orang tuanya. Jika ada yg berbeda pendapat silakan, sama2 belajar dan saling mengingatkan, sama2 ingin yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada niatan mendiskreditkan pilihan lainnya. Apalagi mendiskreditkan cara didik para nenek kakek.. Ini pilihan kami, berdasarkan pemahaman dan belajar sampai Runni umur 3,5 tahun. Benar salah, Allahualam. Jika benar, alhamdulilllah. Jika kurang tepat, maka semata-mata karena kami kurang lama belajar dan kurang banyak mencari tahu. Tidak ada kejumawaan anak kami sekolah di sekolah terbaik. Hasil sekolah terbaik hanya bisa kita tahu in the end of their time, right?

img_7858
Kelas saung

Bukan tanpa keraguan di awal memilih sesuatu yg tidak biasa. Menempatkan anak yg dilatih steril habis-habisan, di tempat yg sederhana, tanpa ruang kelas tertutup, bermain pasir, lumpur, nyeker (^^)! (huaaa..mamahnya keringet dingin). Dapat laporan Runni nangis panik harus cuci tangan pakai air genangan untuk membersihkan pasir, pastinya membuat galau apa kami terlalu jahat memasukkan dia ke lingkungan baru seperti itu. Membatalkan hal yg diajarkan selama ini bukan tanpa kegalauan dan keraguan diri, mempertanyakan orang tua macam apa yg selabil ini.
In the end, doanya selalu sama, jika ini yang terbaik mudahkanlah ya Allah. Alhamdulillah di tengah semester ini, gurunya dengan bahagia dan bangganya bilang: Runni keren bunda, udah berani main pasir dan kotor2an. Anaknya pun happy.
Situation that yesterday, even in my wildest dream won’t happen.

~Visi Pendidikan
Suatu hari di angkot, saya nge-wa pak suami, tetiba teringat jika saya harus berpulang lebih dulu, apa yang mau saya titipkan ke suami. Di sana saya bilang, ayah visi pendidikan untuk anak-anak adalah: “menyiapkan dirinya sebaik mungkin untuk kelak menghadap kembali ke Penciptanya”.. Too abstract? Indeed. Easy? Absolutely not. Pelajaran dari liqo di tempat saya bekerja adalah bermimpilah besar, maka kesulitan/hambatan kecil jadi tidak ada artinya.. Tidak ada yang salah kan dengan visi ini.. Jika dikaitkan dengan kesolehan, masuk.. ibadah perorangan, masuk.. Jika dikaitkan dengan kontribusi ke masyarakat, masuk juga. Bukankah sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat untuk orang lain.. Jika dikaikan dengan pekerjaan, yg bs berpulang dalam kondisi yang sebaik2nya pastinya bisa menjaga dirinya dalam situasi apapun kan.

~Disertai niat menyekolahkan dan juga sekolah lagi
Saya pribadi sadar bahwa masih banyak kekurangan saya sebagai orang tua. Maka kami sbg orang tua mencari sekolah dimana kami juga bisa ikut sekolah agar bisa lebih baik dari waktu ke waktu. Banyak PR kami untuk memantaskan diri sebagai orang tua, terlebih memantaskan diri sebagai anak dan menantu dari para kakek nenek hebat yang mengantarkan kami sampai di titik ini..

~Sekolah berbasis komunitasimg_7857
Sebagai kalangan jelata dr sisi ilmu parenting maupun agama, saya selalu keder bertemu ibu-ibu orang tua murid lainnya. Dari sana saya baru tahu mereka ternyata sama. Semuanya sama-sama baru belajar. Semua berusaha merangkul dan membantu jika yg lain kesulitan, inget anak lain, inget ibu lain jika punya info atau ilmu yang bisa di share, jika ada pertimbangan2 yg melibatkan uang, waktu, maka tak segan memperhatikan yg lain dulu sebelum dirinya dan anaknya. Di sini saya bersyukur, sebagai ibupun saya bisa bertemu teman-teman baru dan belajar banyak. Gak jarang whatsapp saya berbunyi hanya sekedar menawarkan “Runni sama saya dulu gakpapa”, “mba Ami bisa?”, atau sekedar berbagi insight culture sekolah alam. Ibu2 ini tau mamanya Runni ada amanah juga di luar. Maka mereka semacam berusaha melengkapi keterbatasan ibu2 bekerja dan yg masih sekolah. Ini saya sadar bahwa salah satu value Sekolah Alam, yaitu sekolah berbasis komunitas jelas dipahami dan diterapkan sampai ke detail terkecil. Kita menyekolahkan generasi penerus. Para pembangun peradaban di masa datang. Gak bisa sendiri. Gak bisa hanya berbasis kompetisi. Gak bisa hanya guru saja. Semua harus sama-sama berjuang untuk satu tujuan yang sama.

~Bermula dari Intuisi
Tanpa tau pasti apa itu sekolah alam, sedikit review dari kenalan, saya berkeras mencoba trial masuk ke Sekolah Alam Indonesia ini.. alasannya murni karena intuisi seorang Ibu.. intuisi bahwa sekolah ini jawaban atas pertanyaan, ketakutan, kegalauan akan masa depan anak-anak menghadapi dunia yang makin gila dengan degradasi moral dan bahaya dimana-mana, sekaligus mimpi dan optimisme akan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang..

~Terjawab seiring waktu
Dari awal saya tahu bahwa guru untuk sekolah alam di setiap kelas ada 2, laki-laki dan perempuan. Well, that’s it. Saya terima tanpa pikir panjang. Kelas parenting fitrah based education yg baru saya ikuti sabtu lalu yang menjelaskan akan hal ini. Bahwa anak di usia 7 tahun ke bawah belum perlu di-drill kognitif, melainkan value mendasar seperti fitrah beragama dan fitrah seksualitas. Yang kedua ini bukan terkait hubungan antara pria dan wanita, tetapi kemampuan anak membedakan secara tegas pria dan wanita beserta cirinya, dan yang manakah dia. Untuk mendukungnya maka pendampingan 2 sosok mewakili kedua gender menjadi penting. Di rumah bisa dengan ayah dan ibu. Sekolah alam mengusahakan pendampingan sepasang guru utk tujuan yg sama. Tidak semua anak memilki privilege kehadiran kedua orang tuanya. Penjelasan di atas ditujukan utk menjawab ‘why‘, bukan menegaskan ‘must be’ ?

Playing time
Playing time

Di awal juga saya tau bahwa anak akan didekatkan pada alam. That’s it. Saya terima mentah2 hanya berdasarkan intuisi. Dari kelas parenting pula saya paham mengapa alam. Untuk mendampingi fitrah beragama, contoh paling mudah adalah memperlihatkan ciptaan Allah dari bentuk dasar, membuka ruang eksplorasi di tempat terbuka, dan menguatkan root apa dan darimana anak berasal beserta supporting system utama kehidupan: tanah, air, dan udara.

Konsep yg umum pula mengedepankan akhlaq di atas akademik. Konsep inipun saya telan tanpa pikir panjang. Seiring waktu terjawab mengapa anak-anak hanya disuruh bermain dari waktu ke waktu. Ini cara agar anak cinta belajar dulu, baru disuruh belajar setelah 7 tahun ke atas. Hal yang ditekankan di kelas KB dan TK adalah value beragama dan kemandirian, yang juga disampaikan melalui banyak bermain.

Market Day
Market Day

Salah satu yang diupayakan dalam fitrah based education adalah keseimbangan aqil baligh dimana ketika sudah mencapai masa tersebut, anak sudah siap secara fisik maupun psikis. Ada kaitannya pula dengan kemandirian, terutama utk anak laki-laki. Trending topic yang sedang marak disosialisasikan berbagai stakeholder di Indonesia utk melatih kemandirian bangsa adalah melalui enterpreneurship. Kedua hal ini selaras dgn salah satu metode pengajaran melalui event berkala “market day” dimana bocah sedari piyik diperkenalkan transaksi jual beli. Ketika sudah lebih besar akan diperkenalkan tugas ‘fund raising’ dimana semua kegiatan outing diusahakan diawali dgn mencari uang terlebih dahulu.

 

Event Indonesian Culture
Event Indonesian Culture

Last, but not least, root kita adalah bangsa bernegara. Setiap awal semester disemarakkan demgan

 

kegiatan Indonesian Culture yg tidak sekedar upacara, tetapi juga pentas mewakili budaya Indonesia. Anak2 piyik tentunya hanya berdiri dan pegang balon merah putih dengan harapan mau ikut nyanyi ?..

Temuan-temuan dan pemahaman seiring waktu saya yakin juga bisa terjadi di sekolah manapun selama orang tua dan sekolah memiliki keselarasan visi. It’s nice to broaden our perspective from time to time about children education. Tidak boleh ada kejumawaan karena merasa lebih benar atau tahu. Yang benar semata-mata dari Allah datangnya.

Well, perjalanan masih panjang..
Sekalipun yakin atas pilihan, tetap saja banyak hari berlalu dengan hati mencelos, tulang serasa dilolosi kalau lg lihat bocah berdiri di pinggir sungai, lari2 di medan yang tdk mudah, berenang pake aer warna coklat, pegang tanah dan lupa cuci tangan.. Ya sudahlah, memang salah satu tugas orang tua adalah was was tiap waktu ya ?, yg kadang berujung ngomel krn panik (ah itu mungkin saya saja)..

Doa ayah dan mamah agar selalu dalam lindungan Allah selalu menyertai hai anak-anak sholeh sholehah pembangun peradaban dan pemakmur negeri.. Alexandrina dan Alastair, para penolong masyarakat..

Bismillah ya Allah, izinkan kami dan anak-anak menjadi manusia yang cinta ilmu, mudahkanlah langkah kami mencari ilmu, dan berikanlah kekuatan agar dapat mengamalkan ilmu yang bermanfaat. Amiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s