Tetapkanlah pikiran kami selalu melangit, namun dengan hati yang terus membumi

This is a quote that perfectly capture what I want to be and what I want for my family to be..

Akhir-akhir ini banyak kejadian yang memaksa saya merenung tentang apa yang saya pahami selama ini. Ada kejadian yang membuat saya terkaget bahwa saya di sisi pemikiran yang berlainan (bukan berlawanan) dengan kebanyakan teman mengenai suatu topik nasional. Ada sisi dimana diri saya yg biasanya mudah menerima pendapat dan mengagumi pendapat orang lain – apalagi orang-orang yang saya hormati, bisa berpendapat lho kok pada begini, ini kan namanya kita sama saja, sama jahatnya, tidak lebih baik dari mereka yang kita anggap salah. Saya memilih diam, mundur, dan introspeksi. Ternyata banyak hal yang belum saya pahami.

Sepi.

Ada kejadian lain dimana kemampuan akademis saya dipertanyakan berkali-kali dalam suatu hari. Pada hari yang sama pula saya dapat artikel yang membuat saya melongok dimana posisi saya di bidang akademis di dunia. Tempat yang kami anggap terbaik di Indonesia hanya peringkat 400an di dunia. Di tempat inipun, kemampuan saya masih sangat dipertanyakan. Sedangkan ada keinginan hati untuk setidaknya bisa memahami cara berpikir para akademisi di tempat dengan peringkat 5 besar, dan bisa mencicipi perkuliahan disana walau hanya 1 kelas pertemuan saja. Someday.

It’s like reaching the sky, so obvious, yet so far.

Sementara di sisi lain ada bocah-bocah piyik yang membutuhkan saya dan kewarasan saya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Ada kalanya berandai-andai.
Andaikan aku bisa lebih banyak belajar di kampus mungkin sudah bisa sampai….
If only I can manage my time better, I can get along well in each community that I’m in, so I can understand more about what people in my close ring way of thinking.
Andai aku gak kuliah dan meninggalkan semua amanah di luar rumah, apa aku bisa jadi istri dan ibu yang lebih proper?

Common Mommy’s problem: wanted to quit every activity outside home, every time..

Ada lagi bocah-bocah besar yang tidak bisa begitu saja saya tinggalkan atas nama ‘lanjut studi’. Selalu ada pertanyaan ‘will they survive outside world‘ jika tidak dibimbing atau diingatkan? I’m sure the answer is ‘yes’.
However, the will that want to check how they’re doing is always there.

Then I remember..
Some people might want to trade my life with them.
Some people say that I’m living their dream.
Some people say that I’m really, really, really lucky with what I have right now.
Yes.. and I would say..
I have everything that I’ve ever wanted in the world, nothing less.
All I have to do are seizing the moment and giving back to others as a form of gratitude of Allah blessing.

Pemikiran-pemikiran ini menyadarkan saya kalau hanya menjalani semuanya dengan kerja keras tidaklah cukup. Masih panjang perjalanan belajar dan mencari ilmu untuk kebermanfaatan dunia, dan bekal akhirat. Tidak ada tempat dan waktu untuk kebaperan dan kegalauan.

Bismillah.

Ya Allah. Tetapkanlah pikiran kami selalu melangit, namun dengan hati yang terus membumi.
Perkayalah kami dengan ilmu yang dapat memberikan manfaat bagi orang banyak.
Rendahkanlah hati kami agar kami tidak kehilangan kemauan untuk terus belajar dan belajar.

Amiin.

#humanDiary #mommyDiary #PhDDiary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s