Ayah dan Uni Bahagia kalau Mamah…~ NHW #2 Matrikulasi IIP

Nice Homework Institut Ibu Profesional #2: CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”…tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia…”

Saya tertawa stres di whatsapp suami ketika membaca PR minggu ini.. Banyak limit pribadi yang harus ditembus untuk bisa menyelesaikannya. Mulai dari menyiapkan mental, tahan malu, siap menerima fakta, sampai siap terima diingatkan karena sudah sama-sama tahu.. Like father like daughter, jawabannya sama-sama diplomatis dengan kesimpulan:

…selama mamah ceria, kami bahagia..


Saya coba tanya ulang ke anak 4 tahun saya. Dipancing-pancing juga kamu gimana kalau mama marah-marah. Dia jawab kalo mama marah aku begini (lihat gambar)

Ayahnya pun sama, ditanyakan berulang kali jawabannya tetap sama. Padahal pertama kali memberanikan diri copy paste pertanyaan indikator ini ke beliau butuh tarik napas panjang karena sejujurnya takut dengan jawabannya. Entah itu terkait keterbatasan saya atau harapan sederhana beliau yang belum bisa dipenuhi (misal: bisa masak kue cubit).

“Ya udah aku sama dengan Runni jawabannya”

“Ya gak boleh atuh.. dianulir ceunah”

“Lha ya emang sama”

“Gak bisaa.. gak measurable” (nanya tapi galak)

“Bisaa.. kalau mamah ngomel maksimal 2 kali seminggu kan jadi measureable

“Oh iya, ya uwes…”

Kembali saya tanyakan ke anak, mamah harus gimana supaya membuat teteh bahagia.

“Mamah sayang uni, mamah senang, mamah ceria, adik tertawa…”

dan jawaban itu konsisten walaupun pertanyaannya diulang-ulang..

Di sana saya tersadar ayah dan anak-anaknya ini sebenarnya sederhana. Gak neko-neko, gak minta macem2. Yang sulit itu justru mamahnya, kadang galau, kadang ngomel, kadang hepi, dan gak ketebak kapannya. Saya kembali mengingat ayah bukan tipe yang ngasih hadiah macem2.. Tapi kalau ayah tau istrinya akan tersenyum lebar karena sesuatu, dia pasti usahakan bantu.. Gak pernah saya kesulitan meminta izin, mulai dari kerja, kuliah, maen, sampai pilihan2 terkait pendidikan dan kesehatan anak semua didukung. Selama itu baik untuk keluarga.

Saya ingat lagi teteh termasuk anak yang lempeng diomelin maupun diancam. Salah satu karakter dia yg membuat saya gedek/gemes sekaligus bersyukur. Sesungguhnya di akhir setiap omelan mamah, pasti ada kekhawatiran menyakiti hati anaknya. Akan tetapi kalau saya marah sampai manyun dia sering berjanji nurut dan berkata: “asal mamah senyum ya…”

Introspeksi besar buat saya. Selama ini saya sering dipusingkan karena membandingkan diri dengan orang lain dalam menjadi ibu/istri. Padahal yang membuat bahagia suami dan anak justru sosok mamah yang ceria. Keceriaan yang juga sering redup ketika merasa rendah diri dibandingkan ibu hebat di luaran sana. Ah.. saatnya menutup lembaran belajar sekolah istri dan parenting di luar sana, via social media maupun di berbagai grup whatsapp/telegram. Saatnya mengendapkan yang sudah didapat dan fokus ke dalam keluarga. Letakkan HP. Tutup laptop. Sebenarnya saat-saat paling menyenangkan dan ceria buat sayapun adalah ketika bermain bersama ayah dan anak-anak, di malam hari ketika ayah pulang cepat, atau weekend. Sekalipun itu sekedar umplek-umplekan di kasur  nonton bersama.

Well.. back to nice homework..

Dari hal-hal yang membuat mereka bahagia kemudian saya turunkan menjadi indikator untuk saya. Versi sederhana tentunya 🙂

Indikator Istri:

1. Maksimal ngomel 2 kali seminggu

–> indikator mamah ceria

2. Maksimal manyun 1 kali setiap menyambut ayah pulang kerja (manyun karena plg malam

–> indikator mamah ceria

Indikator Ibu:

1. Idem indikator istri

2. Bisa main 100% sama anak2 at least 2 jam sehari (maksudnya tertawa lepas dan bebas dengan hape dan laptop)

–> indikator adik tertawa

3. Mamah mau masakin uni dan ambilin minum (target 1x sehari aja ya ^^, krn ambil minum termasuk request yg selalu ditolak krn udah bisa ambil sendiri)

–> indikator mamah sayang

Indikator individu

1. Shalat tepat waktu utk kelima waktu

2. Baca 1 buku dalam 1 bulan

3. Menulis minimal 1x seminggu

Well, that’s a wrap. Tidak ambisius memang. Buat saya tujuan menuliskan NHW ini adalah introspeksi diri, belajar menerima dan merumuskan indikator untuk saya sendiri, serta membentuk konsistensi dari hal yang sederhana, yang jika kontinu dilakukan impact nya jauh lebih besar.  Amiin.

Notes:

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:

– SPECIFIK (unik/detil)
– MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
– ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
– REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
– TIMEBOND ( Berikan batas waktu)