Recharge & Enlightenment: Episode Manajemen Kegiatan

Hampir 1 semester saya membuat pola bahwa pekerjaan terkait bekerja/kuliah hanya bisa dikerjakan setelah anak-anak tidur. Prosedural. This after that. Alhasil jika mereka tidak kunjung tidur saya akan mudah tersulut emosi. Akan tetapi saya terus meyakinkan diri bahwa bisa, bisa, dan bisa .

Denial that such thing is not effective 


Komentar pembimbing menyadarkan saya. Saya tidak pernah memperlihatkan sebelumnya kalau butuh jumpalitan untuk sekedar datang ke kampus bimbingan on very short notice. Anak-anak sama siapa, siapa yg jemput teteh, ASIp gimana. 

“Ami anak kamu berapa? Yg kecil umur berapa? Yg gede berapa?”

“Ami kamu kecapean dan kehabisan waktu ya belum selesai studi mandirinya?”

Saya hanya menjawab dengan tawa dan bilang memang saya kesulitan mempelajari sesuatu kalau belum punya thinking framework dan bayangan seperti apa ujungnya. Selalu saya doktrin ke diri sendiri anak-anak itu motivasi untuk lebih baik memanajemen waktu, bukan hambatan dalam berkarya. Baik anak sendiri maupun anak-anak di kampus. 

Alhamdulillah kemudahan tak terduga kerap kali datang. Melalui jawaban di atas saya diberikan pencerahan tentang thinking framework. Untuk anak-anak saya dikelilingi supporting environment mulai dari mba yang baik, ibu teman Runni, rekan kerja, sampai mahasiswa yang dengan senang hati mengajak bermain. 

Di sisi lain ketika sedang lelah hayati selau saja diperlihatkan perjuangan ibu lain, atau mahasiswa saya sendiri, atau teman kuliah yang sama aja riweuhnya, or even more. Jadi seringkali galaunya bukan karena lelah, tetapi karena lelah padahal ‘halah baru segitu doang’. Lama waktu yang saya butuhkan untuk menyadari jawabannya sebenarnya ada di depan mata.

  1. Saya disaturumahkan sama salah seorang yang saya tahu sangat baik dalam hal manajemen waktu. Why don’t I try to follow.
  2. Diingatkan kembali untuk menata dan mencerahkan pikiran dapat disolusikan dengan 1 langkah sederhana: menulis.
  3. Distraksi paling tinggi adalah notifikasi di berbagai grup whatsapp, solusinya: exit group.
  4. Banyak hal disesalkan, andai dulu begini, andai bisa begini, tapi memang waktunya kurang. Solusinya bukan mengejar hal yg lama, tapi membangun sistem kerja yang lebih baik ke depannya untuk kuliah maupun amanah lainnya.
  5. Perempuan memang ditakdirkan utk multitasking. Mengerjakan pekerjaan secara berurutan memang efektif tapi tidak selalu kemewahan itu bisa diterapkan setiap hari. Kerja sambil memangku atau sambil menyusui atau menjawab rentetan pertanyaan ajaib dari teteh is a must. Belajar/membaca sambil menemani bermain ya mau gak mau dilakukan. Walaupun saya belum menemukan cara bisa membacakan buku cerita sambil membaca paper hehe.

Well, ini perjalanan panjang. Dipikirkan saja tidak akan berujung pada solusi. Dijalankan berulang-ulang, sesekali stres, beberapa kali berhasil, beberapa kali sangat menyenangkan, sesekali gagal. It’s okay. In the process there’s always lesson learned we could get

Bismillahirrohmanirrohim.. solusi setiap masalah ya hanya 1: memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Luruskan niat, untuk menimba ilmu, untuk berkarya, agar dapat memberi manfaat sebesar-besarnya. Semangat!!!

#phdDiary #mommysDiary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s