A Love Letter for Ayah – part 1 NHW #3 Matrikulasi IIP

Saya kira mewawancarai suami dan anak tentang indikator kebahagiaan mereka adalah pekerjaan hebat. Ternyata PR minggu ini lebih epic. Surat Cinta ke Suami :)) Ayah sukses tertawa ketika saya cerita. Tema materi minggu ini adalah Membangun Peradaban dari dalam Rumah. Diawali dengan mengapa memilih pasangan, mengenali potensi anak, potensi diri sendiri, kondisi lingkungan, dan terakhir menyusun puzzle jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi kesatuan gambar besar peran keluarga kami di muka bumi ini.

Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.

Satu artikel yang sedang viral di kalangan teman-teman seharusnya bisa merepresentasikan jawaban atas soal di atas. Akan tetapi setelah diingat-ingat justru yang menjadi alasan tidak tertulis di dalam artikel tersebut. Saya ingat saat beliau tanpa ada gelagat sebelumnya tiba-tiba melamar. Tanpa pacaran, tanpa pernyataan suka. Saya ingat juga langsung mengiyakan 1 jam kemudian (setelah tertawa panjang dan memastikan berkali-kali kalau dia tidak bercanda). Kata “iya” yang diiringi keyakinan dan impian dalam hati namun tidak saya tuangkan dalam kata-kata pada saat itu. Keyakinan hanya karena: dia orang yang saya kenal baik sekaligus orang paling reliable yang saya kenal. There’s nothing to worry about. Bukan dalam hal bimbingan kuliah saja, tapi semua. Teringat ketika kuliah saya hanya bengong ketika materinya tidak sampai di otak, namun selalu ada senjata andalan: “minta ajarin fajrin ajah”.

Beliau juga reliable dalam hal sederhana seperti menemani jalan-jalan nonton bisokop atau jajan donat. Dulu dia masih gendut jadi diajak jajan manis masih mau. Sekarang mah disuruh makan nasi juga susah. Beliau juga selalu ada ketika saya butuh teman untuk mendengarkan curhat panjang kegalauan saya. Bahkan mengiyakan saat saya lelah mencari dan minta carikan calon suami hahaha. Tidak pernah terpikirkan sekalipun bahwa beliau yang akan menjadi suami saya. Saya hanya merasa beruntung bisa jadi teman dekat/sahabat pada saat itu. Anggapan saya: beda kasta. Fajrin jodohnya pasti kalangan elit/aktivis kampus. Saya mah apa atuh. Hehe. Well, siapa yang tau ya garis hidup mah. Ah back to topic.

Keyakinan untuk mengiyakan lamaran beliau juga tidak pudar sekalipun ketika saat melamar dijelaskan simulasi kondisi keuangan beliau yg bisa disimpulkan akan = nol saat kami telah menikah nanti. Nol karena beliau akan resign dari perusahaan multinasional tempat dia bekerja dan bergabung dengan teman dekatnya membangun usaha sendiri. It’s no problem karena justru beberapa bulan sebelumnya saya juga pernah menyarankan : “coba kamu keluar BCG aja, orang kayak kamu gak pantes kerja buat korporat, pantesnya buka lapangan kerja”. Saran semena-mena yang diucapkan pada saat kerugian saya paling banter adalah kehilangan sumber traktiran, bukan ekonomi keluarga :)). Nol juga karena beliau berkeras seluruh biaya pernikahan harus dari tabungan dia. Saya sedang S2 biaya sendiri, jadi bisa dipastikan bahwa saldo = nol juga karena buat bayar sekolah. However, kenal selama beberapa tahun membuat saya paham bahwa beliau bukan orang yang akan menelantarkan orang lain apalagi keluarganya. Semasa kuliah terkadang beliau curhat bagaimana kecewanya dia kalau tidak berhasil menolong teman kami yang hampir DO karena nilai kurang. Well, orang seperti ini yang akan jadi suami saya dan ayah anak-anak saya. Again, nothing to worry about.

Doa saya hanya sesederhana diberikan jodoh yang sayang saya, sayang keluarga saya, dan sayang Tuhannya. Jawabannya pun sederhana: dilamar sahabat saya sendiri. Nothing could’ve been better. Saya kenal dia luar dalam dari prestasi luar biasa sampe yang kecil-kecil hanya teman terdekat yang tau. Begitu pula beliau terhadap saya. Semua track record kelakuan saya yang tidak secemerlang beliau, dia juga udah tahu. Rasanya tidak ada masa-masa jaim. Yang ada justru masa menjinakkan saya yg sebelumnya semena-mena memperlakukan selayaknya teman, menjadi istri yg harus sopan dan patuh ke suami.

Sekarang, sudah 5 tahun kami bersama.. Semua harapan saya akan pernikahan terpenuhi. Saya selalu punya ‘a home to come back‘ setelah panjangnya hari. It is our little family. Anak-anak yang sehat cerah ceria. Suami sekaligus sahabat yang terkadang benar-benar berprilaku seperti teman. Tidak jarang keramaian di rumah terjadi karena rebutan HP untuk main game yang cuma ada di 1 HP itu. Last but not least, saya memperoleh kesempatan menjadi istri dan ibu, beserta ruang untuk belajar untuk menjalani kedua peran itu lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

Oh iya hal yang saya baru pahami setelah pernikahan adalah real love and real happiness is hidden in a concept called family. Cinta dan sayang itu tidak harus rasa yang menggebu-gebu atau membuat kita ingat dan rindu terus menerus.

Real love for certain person is when he simply has become an inseparable part of our life that we can’t even imagine how’s life without him. Real love is not always about let them know by saying it out loud, but constantly whispering their name on our prayers.

Terkadang saya suka termenung dan tersenyum sembari berkata dalam hati: I am happy. Ya Allah kalau saya berpulang sekarang tidak apa-apa. Semua yang saya inginkan di dunia ini saya sudah dapat. Namun pikiran seperti ini cepat-cepat saya ralat. Memang keinginan duniawi terpenuhi. Akan tetapi bekal menuju akhirat masih kurang banyak, mungkin malah masih minus. Saya masih ingin diberikan kesempatan menemani ayah, menjaga anak-anak, berbakti dan memuliakan orang tua dan keluarga, aktualisasi diri untuk bisa memberi manfaat di lingkungan saya, dan tentunya menabung untuk bekal akhirat.

Setelah 5 tahun bagaimana? Apakah Semua alasan yang saya sebut di atas masih relevan? Ya, tentu saja.

We’re gonna do great together, and our biggest project called parenting.

Okay, it’s a wrap. Thank you Ayah for everything 🙂

——–

Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

——–

Ayah : iyaa udah baca. Makasiih
Saya: Ya ayaaaah, masa segitu doang.
Ayah: ya terima kasih sekaliii.
Saya: Ayaaaah!!!!
Ayah: terima kasih sekaliiiiiii

Trus beliau tidur. Ya sudah lah..

Move on to the next question.

Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

(On the next post)