Mengenali Runni – part 2 NHW #3 Matrikulasi IIP

Membuat judul tulisan itu butuh skill ya ternyata. Jadi mohon maaf kalau judul masih kurang menarik. Ah terkadang saya iri sama kemampuan copy-writer. Back to topic. Tulisan ini masih menjadi satu rangkaian tulisan tema belajar di Matrikulasi Institut Ibu Profesional materi #3: Membangun Peradaban dari dalam Rumah. Part 1 yaitu surat cinta untuk ayah. Part 2 ini fokusnya adalah potensi anak-anak mamah yang sholehah dan sholeh cerah ceria. Keceriaan yang tidak pernah absen setiap hari. Mulai dari kelebayan teteh kalo tertawa, sampai tertawa ala youtube si adik hanya dengan cilukba saja.

Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Mamah memanggil Runni mba eneng, dan semenjak dia memiliki adik jadi mba teteh. Sedari kecil Runni termasuk anak yang tidak ‘sulit’, relatif mudah diajak berkomunikasi. Mungkin inilah salah satu rahasia Allah. Memasangkan anak bertipe seperti teteh dengan mamanya yang kurang panjang sumbu sabarnya. Tidak terbayang jumlah omelan jika saya diberikan anak yang ‘sulit’ dipahami. Ada beberapa hal yang saya coba kenali dari Runni berupa potensi/kelebihan yang perlu di-nurture supaya bisa berkembang dengan alami, yaitu: literasi bahasa dan empati.

Linguistik/Literasi Bahasa

Hal unik yang mamah kenali dari Runni adalah kemampuan bahasanya yang tidak biasa. Bukan dalam hal penguasaan bahasa asing, melainkan dalam kemampuan menyusun logika kalimat seperti layaknya orang dewasa. Seringkali potensi ini dikaburkan jika mamah kumat membandingkan dengan anak orang lain di social media. Perbandingan bukan dalam rangka: “yah anakku kalah”, namun lebih ke “oh anak mamah biasa aja, semua anak juga bisa, nothing to be bragged for“. Namun Allah terus menerus mengingatkan dengan caraNya sendiri.

Runni bukan anak yang dapat kemewahan memperoleh stimulasi terus menerus dari orang tuanya karena kami tidak selalu bisa di rumah sepanjang hari. Boro-boro ber-DIY ria bersama mamah, membaca buku bersama, atau main ke taman/museum/wisata publik lainnya. Saya menyebut kegiatan-kegiatan itu kemewahan dan kami orang tuanya belum mampu secara maksimal memberikannya. Banyak waktu dia melakukan eksplorasi sendiri dan memaksa saya sebagai mamanya mengikuti jenis stimulasi yang dia pilih. Ya. Kerap kali membacakan cerita, menonton bersama, membuat mainan itu bukan inisiatif dari saya, tapi anaknya ujug-ujug menyodorkan permainan/buku untuk dibacakan, tanpa dibiasakan sebelumnya oleh orang tuanya.

Saya terkadang bercerita ke teman-teman ketika Runni lucu bisa mengikuti ucapan di televisi dan memakainya dengan konteks tepat, padahal bahasa asing, Korea dan Jepang. Mamanya ngajarin? hahaha boro-boro, bisa jg enggak.. Kebanyakan dia dengar dari tontonan Youtube-nya. Sampai ada seorang teman berkomentar bahwa itu termasuk kemampuan linguistik. Di situ saya mulai berpikir, mungkin bakat teteh bukan bakat fisik, bakat musik, menghitung, atau seni seperti yang umum saya lihat. Evaluasi semester dari sekolah Runni oleh guru-gurunya kembali mengingatkan bahwa potensi Runni dalam literasi bahasa termasuk extra ordinary.

Bunda, itu luar biasa lho, subnallah dia bisa ngomong begitu.

Runni bisa menceritakan kembali apa yang dialami secara detail. Warning juga buat saya untuk mulai filtrasi apa yang bisa dia lihat di rumah/TV karena dia mampu menceritakan kembali ke orang lain. Runni juga bisa memahami dan menceritakan kembali bahasa tubuh orang lain, baik itu teman sebayanya, maupun orang dewasa. Gurunya bercerita Runni pernah bisa menangkap gelagat temannya yang suka pada temannya yang lain dan menceritakannya ke ibu/bapak guru “kenapa sih si A kalo si B datang suka tiba-tiba ceria”. “Waduh bahaya ini, udah ada yg bisa cerita begini”, komentar guru-gurunya. Di lain kesempatan ketika di kelas, bapak ibu guru berusaha berkoordinasi satu sama lain pakai bahasa simbolik/sinyal tertentu dengan maksud agar anak-anak tidak mengerti. Akan tetapi si Runni dengan polosnya mentranslasi bahasa simbolik itu menjadi bahasa anak-anak sehingga teman-temannya bisa mengerti. Waduh.

Saya juga terkadang lupa bahwa yang saya hadapi adalah anak mini berumur 4 tahun. Seringkali karena dia nyambung dengan apa yang saya bahas, ekspektasi saya terhadap dia juga tanpa sadar meningkat. Tidak jarang cara saya memberi tahu dia sama denga cara saya memberi tahu mahasiswa. Semacam dikasih tahu sekali harus paham dan laksanakan. Saya suka menyentil diri saya sendiri “Ami, for God sake, she’s only 4 years old“. Maaf ya nak.

Well, ini potensi yang gak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebagai orang tua text-book, ya wawasan potensi/bakat hanya sebatas yang umum-umum saja, dan harus diturunkan dari orang tuanya. Dari ayahnya ada gen kuat di matematis dan ternyata seni juga. Dari mamahnya? mamanya biasa-biasa saja. Mungkin peran mamah di sini 1: mamah dari muda sangat berharap bisa bersahabat dan bercurhat ria dengan anak-anak (maaf mamanya terlalu banyak nonton Gilmore Girl). Mungkin ini juga jawaban Allah. Diberikan anak perempuan yang bisa diajak ngobrol sedari kecil sekali. Oh iya, banyak vocabulary dan kalimat dia peroleh dari tontonan Youtube. Alhamdulillah ya neng, walaupun sering berantem terkait jumlah jam nonton, atau mamanya sering berubah wujud jadi momster kalo di atas jam 10 malam masih nonton, finally ada manfaat yang eneng bisa ambil dari sana 🙂

Empati

Selain kemampuan bahasanya, hal lain yang membuat saya kagum adalah empati ke orang lain. Sering dia melakukan hal yang tidak disuruh dan bikin senewen. Ribut ambil piring atau gelas banyak. Padahal dia doang yang mau makan. Ketika ditanya, jawabannya cuma “ya kan ini buat mamah”. Dalam hati saya bilang “padahal mamah kan galak, knapa eneng masih inget aja sama mamah”. Atau sekedar nyomot jajanan dobel dobel ketika belanja di supermarket. Sama. Dia bilang: ini buat ayah, buat mamah, buat adik.

Kepedulian memang salah satu value yang ingin sekali saya ajarkan ke anak-anak sedari kecil. Akan tetapi Runni di umur 4 tahun ini, empatinya masih murni dari fitrahnya dia, karena mamah masih di level: niat dan ide mengajarkan, cara mengajarkannya masih bingung hahaha.. Di lain waktu, dan ini agak menyedihkan, kalau saya jatuh atau luka, yang nangis dia hahaha.. Kenapa lucu? ya karena di satu sisi saya harus nahan sakit, atau justru nangis karena kesakitan, di sisi lain harus ngegendong sambil ngepukpuk anak gadis yang nangis.

Banyak cerita lain tentang kelucuan eneng berbahasa dan berempati. Namun dari semua itu satu hal yang bikin saya bangga adalah penghargaan sebagai bentuk empati yang dipadukan dengan kemampuan bahasa dia terhadap mba art dan driver ayahnya yang banyak bantu kami.

“mbaaa, selamat dataaang” ketika si eneng sudah bangun dan mba art nya baru datang

atau lain waktu dia berkeras cuci piring, walau yang bersih juga disabunin ulang

Ketika saya yang bertanya dia menjawab: “kan uni mau bantu mamah”, “kan mba yg cuci piring, bantu mba kali”, “enggak, uni mau bantu mamah”

Ketika mba nya yang bertanya: “iya kan supaya mba gak kecapean”.. ya walopun jd dobel kerjanya karena dia menolak ngebilas hahaha..tapi mudah-mudahan cukup untuk membuat embanya betah #eh

ketika mba nya pulang pun diteriakin “embaa, terima kasih banyaak sudah bantu menggendong adik”

ke driver ayahnya pun sama “makaasiih paak, sudah antar ayah pulang”

Eneng-eneng.. Apapun pilihan jalan hidup eneng, harapannya bisa menajamkan empatinya eneng agar peduli terhadap sesama, membantu sesama, dan memperlakukan orang-orang dengan baik, dan bahasa yang baik serta santun juga.. Doa mamah selalu bersama eneng.