Tentang Ubiquitous Learning

Akhirnya mewaraskan diri menulis hal yang seharusnya ditulis : topik eksplorasi mandiri untuk yg ceritanya lagi kuliah S3. Jauh dari proposal awal disertasi yaitu tentang digital literacy. Pak promotor sukses membelokkan arah dan butuh berbulan-bulan buat saya memahami ‘why‘ dan melepaskan mimpi awal (baca: topik awal) makanya gak berprogres.. halah, alesan.. Sampai suatu hari pas naik gojek (bener lho, inspirasi besar saya 2 kali dapet saat naik angkot ngetem lama dan naik gojek mendung sambil deg2an takut keujanan), tiba-tiba tercerahkan. Ya Allah, topik ini bisa meng-cover banyak hal yang ingin saya pelajari, termasuk topik awal, dan hal-hal (yang diniatkan) untuk diperjuangkan. Even more. Nurut sama pembimbing berlaku benar buat saya. Happy. Sesaat. Trus bingung lagi mulai dari mana. Hehehe.

Ubiquitous learning (u-learning) adalah tren pembelajaran yang memadukan teknologi mobile, sehingga bisa dilakukan dimana, dan kapan saja, serta sesuai konteks pembelajarnya. Apa beda dengan learning pada umumnya? Pembelajaran konvensional banyak menganut aliran lecturing, dimana dosen/guru menjelaskan di depan, dan pembelajar/ murid/ mahasiswa/ student mendengarkan. Materi yang diberikan juga sama untuk semua murid. Pada u-learning, pembelajaran diinisiasi dari muridnya berdasarkan hal yang dia ingin ketahui. Banyak yang menyebutnya dengan inquiry learning, yaitu belajar berdasarkan pertanyaan, masalah, atau skenario tertentu yang diajukan si pembelajarnya. Dengan demikian, setiap murid mungkin saja akan memperoleh pengetahuan baru yang berbeda satu sama lain, namun masih dalam topik yang sama. Materi yang ditekankan pada u-learning adalah murid dapat memahami cara melakukan/mengerjakan sesuatu dari awal sampai selesai. Bukan dengan diberikan materi berupa langkah-langkah, melainkan difasilitasi untuk melakukan eksplorasi mandiri terhadap suatu objek tertentu, menggali keingintahuan, dan mencari jawabannya secara mandiri. Peran guru/dosen/pengajar adalah sebagai fasilitator.

Ada satu konsep pengajaran yang diterapkan dalam u-learning (dan saya suka) yaitu scaffolding (rangka/ struktur bangunan). Pengajar memberikan arahan global, menciptakan suasana belajar mandiri dalam ruang eksplorasi seluas-luasnya, namun tidak out of topic. Caranya mungkin bermacam-macam, mulai dari memberikan topik untuk dieksplorasi, meminta mahasiswa/ murid mencari sendiri subtopik sesuai kesukaan dia, atau mencari subtopik yang dia ingin ketahui. Saya belum banyak jam terbang di sini jadi belum bisa cerita banyak. Hal yang perlu diluruskan disini adalah dosen/pengajar bukan jadi gaji buta tidak mengajar, tapi justru butuh belajar lebih luas terutama terkait terapan keilmuan.

Saya memahami bahwa membuat scaffolding baik literally dalam konteks bangunan, maupun pembelajaran, sama-sama bukan hal mudah. Pembuatnya harus bisa memberikan ruang gerak di dalamnya yang fleksibel, namun tidak keluar batas. Ruang gerak bisa dianalogikan dimana murid/ mahasiswa bisa eksplorasi seluas-luasnya. Batas bisa dianalogikan sebagai topik yang dibahas dan keselarasan dengan keilmuan teoritisnya. Ya dalam Islam ada tambahan, keselarasan dengan tuntunan agama dan Al-Qur’an 🙂

Alhamdulillah saya memperoleh kesempatan mencoba menerapkan dengan mengajar dimana kelas saya set banyak menerapkan karakteristik u-learning, walaupun tidak full 100%. Topik kuliah yang juga keilmuan terapan, sehingga hanya membahas sedikit teori, banyak eksplorasi contoh di dunia nyata. Yang salah satu dukungan materi bisa colek-coleh si ayah. Jadi isi whatsapp agak berbobot dikit #eh. Sesuai judulnya, perlu praktek sesuai kebutuhan untuk memahami tentang konsep u-learning beserta konsep-konsep pendukungnya. Alhamdulillah lagi Allah bukakan jalan karena tau Ami gak bakal ngerti walaupun udah disuruh baca ratusan paper juga tanpa pernah ngerasain langsung 😀

Well, itu sekilas tentang u-learning. Baru baca beberapa paper. Maybe someday akan lebih luas lagi pemahaman saya tentang ini. Semoga tulisan ini bisa memberikan gambaran sederhana mengenai apa itu u-learning. Contoh terapannya masih dalam justifikasi saya, dengan penerapan di satu kelas. Butuh jam terbang dan paper lebih banyak sampai saya bisa menyatakan tulisan ini sebagai panduan 🙂 .. hehe.. selebihnya, tulisan ini anggep aja light reading..