Startup itu Bernama ‘Kampus’

Hidup di tengah-tengah komunitas berprestasi tentunya membawa inspirasi, motivasi, sekaligus tekanan tersendiri.. Dulu di tahun 2008, hidup sesederhana lulus, bekerja, dan selesai..

Akan tetapi ternyata rencana Allah untuk saya jauh lebih indah daripada itu.. Saya diperkenalkan dunia yang benar-benar asing dimana setiap kalinya selalu membuat saya : ya ampun, ada aja ya orang teh, meuni hebat-hebat pisan.. Dari sana setiap harinya selalu ada pertanyaan: sudah cukupkah saya sampai titik ini.. Seringkali lirik kanan kiri mencemburui berbagai prestasi orang-orang yang saya kenal..

Pernah seorang teteh berkata: kalian itu sebenarnya sama aja kayak ibu-ibu jaman dulu yang berlomba pamer banyak-banyakan harta, tetangga beli apa, si ibu-ibu ikut beli.. Sedangkan kalian itu irinya sama prestasi orang, kalo si A begitu, saya harus juga.. Bukan salah, tapi seringkali menjadi tidak sehat.. Seringkali rasa iri itu menggadaikan rasa syukur atas apa yang sudah dimiliki.. Seringkali juga membuat bias apa makna hidupmu sebenarnya, yang sesungguhnya simple-but-not-easy, jadi istri, ibu, dan pendidik generasi.. Tetapi malah diperumit dengan ‘rumput tetangga lebih hijau’, atau dalam konteks kita ‘facebook tetangga lebih gemerlap dengan pujian dan hal keren’..

Saya gak terlalu suka ketika orang kenal saya sebagai “istrinya Fajrin”, saya lebih memilih orang kenal saya sebagai “Ami”, just that.. Walaupun ketika waras, saya sadar, yg benar ya dikenal sebagai istrinya seseorang.. atau mamanya seseorang.. Memang peran utama di dunia ya itu..

Sebagai “Ami”, selalu ada keinginan untuk Create Something as my legacy.. Atas nama keren.. Atas nama prestasi.. Atas nama aktualisasi diri.. Lupa kalau dibalik sebuah ‘creation‘ selalu ada ‘why‘ yang perlu dijawab, dan bahkan sebelum itu, ‘why‘ yang harus didefinisikan..

Hal yang lucu tentang manusia itu adalah jawaban atas segala kegalauan itu sebenarnya ada di depan mata.. Keinginan, kebutuhan, dan jawaban atas doa dari Allah itu sebenarnya sudah terkabul sejak lama.. Hanya saja kita memilih menutup mata atau berpaling melihat kanan-kiri, dan bukan melihat ke depan..

Jawaban dari Allah itu ada sejak pertama kali saya tercetus ide menjadi dosen, dosen dari suatu kampus yang berada dalam lingkungan dengan visi besar.. Saat itu yang terpikir oleh saya adalah saya hidup bersama seseorang yang pernah dididik suatu lembaga bervisi besar, dan saya merasakan manfaatnya. Langsung. Iseng saya bertanya ke ayah: PPSDMS Nurul Fikri punya kampus gak? Aku mau ngajar di sana klo ada.. Jadi bukan saya tau ada kampus bernama STT Nurul Fikri sejak awal, melainkan sebuah ide yang bisa dibilang random, tapi ternyata benar-benar ada..

Kenapa saya bilang startup, karena ini kampus baru.. baru aja berdiri.. baru aja punya lulusan,, dan masih terus mencari bentuk yang pas untuk dirinya sendiri..

Karena baru dan mahasiswa sedikit jadi mudah? ya coba aja tanya sama para pendiri startup, apakah mudah di awal ketika mereka mendirikan sesuatu..

Ketika banyak bisikan kanan kiri dari sesama sejawat dosen mengenai bagaimana harus A, harus B, harus C.. bukannya ini bisa dikerjain sama yg lain blablabla.. Sebenarnya saya cuma mau bilang: hmm waktu pertama kali jadi dosen pas kampusnya mulai berdiri atau pas udah udah ada ribuan mahasiswa? kalau yg kedua, maka lebih baik diam.. tapi enggak, enggak pernah saya jawab begitu atas semua saran.. lebih memilih senyum dan berkata: iyaa kami masih belajar 🙂

Sering juga saya cuma senyum-senyum aja klo mendengarkan rekan sejawat dari kampus lain membahas gaji, tunjangan A, tunjangan B, mengeluhkan kebijakan kampusnya yg C, D, E blablabla.. dimana semua yg mereka bahas bahkan menjadi last thing on our mind, because we have another priority which is how to survive but also still give best for our students..

Proses belajar yang tidak pernah mudah.. proses belajar yang selalu ada fase naik turunnya.. tertawa bersama, nangis bersama, dan terkadang nangis sendiri.. terutama ketika merasa why everything is falling down even though the vision is right, the will is right, and the effort is more than 100%..  Tetapi ini yang namanya proses belajar kan.. ini yang namanya perjalanan mewujudkan mimpi.. Bukan mimpi pribadi.. Bukan mimpi prestasi.. Mimpi sederhana bisa berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik melalui jalur pendidikan.. Mimpi sederhana kalau kami di sini berdiri untuk membantu mahasiswa kami menaikkan taraf hidupnya sendiri dan keluarganya melalui edukasi yang tak terjangkau di tempat lain, baik karena harga, maupun ujian masuk..

Ada masa-masa di mana sangat sulit..
Ada masa-masa penuh tawa..
Ada masa-masa kebersamaan yang penuh kehangatan..
Ada pula masa-masa perpisahan yang terasa sangat dingin dan menyesakkan..
Ada masa-masa begitu bangga dengan keadaan..
Ada pula masa-masa mempertanyakan apakah kita masih di jalan yang benar, dengan cara yang benar..?

Di sini saya belajar bahwa salah besar kalau ada yg bilang “yang penting niatnya baik”..
Salah besar kalau bilang “saya sudah maksimal”..
Kembali saya pahami makna perintah “Iqro”.. Baca..
Semuanya tidak selesai sampai niat.. tidak selesai sampai cara yang benar.. tidak selesai sampai hasil yang cukup..
Perintah itu dimaksudkan agar kita Baca.. Belajar.. Terus lagi.. dan Lagi..
Karena selalu ada versi kebenaran lainnya di atas kebenaran yang kita tahu..
Selalu ada ruang untuk naik kelas.. Selalu ada ruang untuk lebih baik..
Selalu ada waktu untuk jatuh dan kemudian bangkit kembali..
dan Selalu ada masa untuk salah sebelum memahami apa yang benar..

Bagi para pejuang di institusi pendidikan, either itu pengajar, maupun rekan-rekan supporting system, tidak semua prestasi bisa di-capture dalam sebuah piala, plakat, atau sekedar gambar yang instagram-able, dalam kata-kata yg Facebook-able, tweet-able, atau bahkan hanya sesederhana ucapan terima kasih.. Saya tidak mengganggap pengajar adalah posisi paling mulia, semua pihak-pihak yang membantu proses agar ‘mahasiswa bisa belajar’ juga punya peran sama besar, dan pahala yang saya harapkan juga besar..

Bayaran atas semua kerja keras itu terkadang sesederhana melihat seseorang tumbuh dari orang yang bikin garuk-garuk kepala dalam menghadapinya, sampai di akhir perjalanan dimana kami tidak berhenti tersenyum melihat how much he/she grows..

atau bayarannya hanya ketika melihat dari kejauhan ketika mahasiswa tersenyum bangga atas capaian dirinya sendiri 🙂

Seiring perjalanan saya menyadari bahwa ini bukan sekedar profesi, bukan sekedar pekerjaan, bukan sekedar lahan mata pencaharian.. Ini pengabdian.. Pengabdian dimana menanggalkan berbagai atribut pribadi, ambisi pribadi, dan meletakkannya untuk kepentingan orang lain..

Justru setelah menanggalkan atribut itu, jalan rejeki terbuka luas.. rejeki ilmu,, rejeki aktualisasi diri.. rejeki sehat.. rejeki belajar.. rejeki beasiswa S3 #eh.. hehehe.. rejeki bertemu orang-orang hebat.. rejeki insight utk pendidikan anak sendiri,, dan rejeki bisa mewujudkan mimpi lainnya, my own creation as legacy..

Doa saya Allah selalu membersamai, memudahkan rejeki, dan memberkahi rekan-rekan seperjuangan.. baik yang bersama kami, maupun dengan jalan perjuangannya sendiri.. semoga visi besar ini bisa tercapai.. semoga para mahasiswa bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya.. semoga bisa lebih besar lagi sehingga menjangkau lebih banyak orang untuk kemudian bersama mewujudkan Indonesia yang lebih baik.. Amiiiin..

Jadi definisi ‘why‘ buat saya sebelum memulai hari dan sebelum bekerja kembali adalah:

Everyone deserves a good education..
and I try my best to fill the gap.. 

 

 

 

One thought on “Startup itu Bernama ‘Kampus’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s