Teteh Auditori, Youtube, versus Mamah Posesif

Runni (5 yo) nyanyi lagu 17 Agustus dan Indonesia Raya dengan suara toa-nya, fasih, dan lantang.. Mamahnya bangga bener dengernya, sebelum kembali tersadar kalau saat itu kami di…. gerbong kereta jarak jauh dimana penumpang lainnya pada tidur..
Okay it’s fine.. asal gak di pesawat ajah.. oh wait, udah kejadian ding..

M: kok runni hebat sih? bisa hapal.. belajar di rumah? sekolah? (ketauan mamanya gaji buta)
R: enggak.. dari Youtube lah mah..
M: ………….

Gaya belajar teteh sangat dominan auditori pada umurnya saat ini.. Sementara mamahnya dominan kinestetik jadi banyakan nyuruhnya karena kebiasaan kalau gak praktek langsung gak akan ngerti suatu hal.. Teteh harus kudu belajar pakai suara, either musik, video, atau instruksi yang rapi, plus ngoceh yg gak ada berentinya.. Tapi gak tau kenapa kalau yg didenger omelan emaknya, itu kuping kayak ketutup tembok.. ya udah hukum alam kali ya, karena kalo beneran didenger semua, bisa stres anak.. ..

Anyway terkait Youtube sebagai media belajar teteh.. Mamahnya udah baca puluhan paper (modus pencitraan sebagai mahasiswa) mulai dari yang jadul sampai terkini.. Semua punya 1 benang merah, yaitu anak-anak kita belajar akan pakai gadget, self-regulated (belajar mandiri), dengan rasa ingin tahu anak sebagai faktor utama.. Orang berlomba-lomba membuat teknologi/gadget untuk memudahkan belajar.. Mulai dari pakai komputer, mobile phone, sampai weareable device, dan mulai masuk ke ranah IoT (internet of things).. Maybe sebentar lagi orang hanya butuh mikir perlu info apa, triiing, langsungmuncul di layar kacamatanya.. This phenomenon is not coming soon, it’s already arrived.. Hal yang sudah tiba tidak semestinya dihindari kan?

Meanwhile, mamah juga khatam soal efek negatif gadget, internet, dan unfiltered content.. mau yg jangka pendek, panjang, kena ke mata, ke syaraf motorik, ke otak, daya tahan fokus, pertumbuhan anak, bahkan sampai ke pergeseran value karena buat remaja kebenaran itu didefinisikan oleh idolanya, bukan the truth itself.. Misal nih ya, ada yang saran sesuatu terkait kesukaan Runni nonton, pasti dalam hati ngomong “believe me, we know what we’re doing“.. However, mamanya Runni anak sholehah, jd kalau yg kasih saran para eyang dan ayah masih dibuka kupingnya 😁

Mamahnya Runni banyak baca jadi pinter? oh tidak, malah lieur.. Akan tetapi dengan pengetahuan akan dua hal yang cukup kontrakdiksi di atas, dan sukses bikin sutris, saya jadi bisa menentukan strategi, yaitu jadi Satpam Youtube. Selain itu saya men-challenge anak untuk bisa digitally literate, tahu dan paham cara pakai media digital sebagaimana mestinya..

Runni dilepas nonton sendiri..

Lha terus? Batasannya gimana? Okay disambung di tulisan tentang prinsip kontrol Youtube ☺️ dan strateginya yaa..

Kalau ada kalimat-kalimat bernada sombong, anggeplah mamah Runni masih berada di Mount Stupid, tempat berkumpul orang-orang bodoh alias know-nothing, tapi sombong.. Ohiya seoran teteh mengatakan bahwa sudah ada teori yang membantah pembagian gaya belajar (auditori-visual-kinesteti), ya buat fyi aja 🙂 Well, kita adopsi yang cocok, namun tetap wajib kritis ya..

IMG_4281
Hasil Youtube-an (juga) padahal harusnya pakai cat muka, ini pakai cat air hadiah loma 17-an

#Tantangan10Hari
#Level4 #Day15
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

#ODOPfor99days
#Day4

Note: #Day14 nyempil editorial di web http://attitude.web.id