Strategi Mamah jadi Satpam Youtube

Apa itu Satpam Youtube? hahahaha

Itu adalah istilah saya untuk tetap berkuasa (eh posesif) terhadap anak yang suka nge-Youtube.. Ada beberapa strategi yang saat ini saya terapkan untuk memberikan akses (berbatas) untuk teteh ekplorasi mandiri melalui Youtube..

Waktu dan Frekuensi

Tentunya rumah jarang sunyi senyap.. Tiap hari udah kayak perang dunia buat menerapkan screentime berbatas waktu.. kadang sukses, kadang gagal.. Jika waktu tidak berhasil karena agak sulit diterapkan kepada anak yang belum mengerti jam, maka frekuensi yang kemudian menjadi acuannya..

M: mau berapa kali?
R: 1 mamah.. (1 video maksudnya)

Strategi ini sukses sampai kemudian dia bisa berhitung bahwa 1 itu sedikit sekali.. Kemudian dia pakai strategi 1 video, pilihnya lama karena harus penuh perhitungan gak boleh yang bikin bosen, dan kemudian diulang-ulang.. Ya bener sih tetap 1 video..

Grrr..

M: mau berapa kali?
R: *dadah dadah pakai 2 tangan* yg artinya 10 kali..

Sebel banget kan.. tetep aja mama kalah pinter.. Bisa juga di lain waktu, gak dibolehin dan dia ngerayu:

“Satu kali mamah, satu kali aja, gak diulang-ulang, gak diulang-ulang, gak diulang-ulang”
(iya begini banget mintanya, diulang-ulang sampai panas kuping)

Jadilah cara ini sekalian buat Runni latihan konsisten, screentime, sekaligus berargumen.. (yg terakhir ini bikin mamah sakit kepala)

Filter Konten

Omelan panjang mamah tentang alasan Runni harus udahan nonton atau pilih-pilih apa yang boleh dan tidak ditonton udah disampaikan panjang lebar di sini. Salah satu hal yang saya pahami, di era digital ini, salah satu kemampuan literasi digital yang harus dimiliki adalah mampu menyaring konten baik dan buruk tanpa bantuan sistem.. Runni sering di-challenge kemampuannya untuk filter konten secara mandiri.. Buat saya, tontonan layak untuk Runni itu semacam very high-spec.. Terkadang dia sampai bertanya: “mamah ini kan film anak-anak, lagunya aja ______ anak yang baik, kenapa gak boleh juga?”

Di lain waktu, ketika sedang waras, saya suka bertanya: “Runni tahu, kenapa sama mamah gak boleh nonton ini?”

Melihat dia diam dan mikir itu ya ada sedikit kelegaan di hati, berarti ada pelajaran yang bisa dia ambil.. Kadang jawabannya sesuai.. Kadang juga tidak.. Butuh waras buat sadar bahwa kemampuan filter konten pun butuh pembentukan konsep diri anak terlebih dahulu dan butuh WAKTU.. Gak serta merta jreng bisa.. Pendefinisian konsep diri dilakukan sesuai fitrahnya, dia siapa, yang menciptakan dia siapa, agama dia apa, gender dia apa, peran dia apa di rumah, di keluarga, di sekolah.. Jadi orang tuanya juga gak keblinger larang sana sini (ini kejadian di saya), dan hopefully, anaknya bisa bikin sendiri definisi right and wrong yang sesuai dengan konsep dirinya..

PR banget kan buat orang tua.. Pertumbuhan konten di internet itu seperti banjir.. Beragam pula bentuknya.. Gak selalu semua dalam penguasaan orang tuanya.. Mengelompokkan tontonan atau konten dengan asas percaya producer, percaya sistem, berdasarkan kelompok umur, tampak tidak selalu relevan.. Ketika dia itu perempuan, maka ada konten bersifat aman anak, tapi sebenarnya lebih cocok untuk anak laki-laki.. Ketika dia itu Islam, maka ada tontonan ramah anak perempuan, tapi tidak ramah anak perempuan berjilbab.. Ketika tontonan itu diperankan anak sebayanya, tapi yang sudah familier dengan istilah pacaran dan suka-sukaan, maka tetap belum ramah utk anak yang masih polos.. dan seterusnya..

Proteksi di belakang layar

Nah untuk lebih bisa tenang dalam membebaskan teteh nge-Youtube, maka ada kegiatan belakang layar yang mamah terapkan yaitu mengelola portfolio Recommendation Video di halaman Home dan menyalakan fitur Restricted Mode.. Setelan ini hanya berlaku untuk 1 gadget.. Kalau ada 2 atau lebih gadget, maka harus manual satu-satu menyalakan fitur ini.. Ini yang saya sebut memberi ruang eksplorasi anak, but under control.. Analoginya seperti memasang baby proof di seluruh penjuru rumah sehingga anaknya bisa wira wiri sendiri..

Pada poin pertama: mengatur Recommendation Video di halaman Home dilakukan untuk memastikan teteh masih di wilayah eksplorasi yang aman.. Saya sering dapat saran untuk download video dan membuatnya jadi playlist.. Itu tidak bisa diterapkan untuk Runni.. Jika mau diterapkan harus ke anak yang belum pernah mengenal fitur Recommendation Video, yaitu berbagai rekomendasi video terkait yang bisa ditonton.. Nah masalahnya rekomendasi video itu bisa kemana-mana.. Yang tadinya tontonannya masuk dalam kriteria ini dan ini, nah fitur rekomendasi video ini bisa bikin blunder.. Misalnya begini (hanya simulasi contoh) nonton baby shark, aman.. Kemudian dapat rekomendasi video berbagai versi baby shark, masih aman.. Kemudian dapat video hiu beneran, masih aman.. Kemudian potongan video hiu di film thriller box office, masih masuk akal.. Kemudian potongan video hiu di film thriller ece-ece, yang kita tau pasti dilengkapi berbagai adegan yang tidak boleh ditonton anak-anak.. Nah ini yang lebih horor dari film nya kan (^_^!)

Kedua cara ini lumayan bisa mengamankan jalur eksplorasi mandiri Runni di Youtube.. Baca deh tutorialnya.. Pegel beneeer.. Emang iya.. Nah, kata siapa merawat anak gampang, apalagi di era digital.. hehehe..

Sumber Gambar: http://www.s4bb.com/wp-content/uploads/2012/08/

#Tantangan10Hari
#Level4 #Day17
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

#ODOPfor99days
#Day6