Orang Tua dengan Pamrih

Seringkali karena anak belum beradab, yang memang belum waktunya jika masih di bawah 7 tahun, orang tua sering kali memaksakan adab itu, termasuk saya..
Mulai dari cara yang paling hina, yaitu memerintah, mengancam, dan menghukum dengan kekerasan..
Selanjutnya yang agak mendingan, yaitu menyuruh dengan tegas..
Kemudian yang bisa disebut dengan ibu sabar dan baik hati.. mengungkapkan dengan lemah lembut.. mengajak jalan-jalan.. melakukan bonding.. dengan niatan: supaya anak nurut ke orang tuanya.. bukan supaya ada kedekatan hati dengan anak..

Yang terakhir ini yang saya sebut dengan pamrih..

Contoh lain adalah ketika menyediakan waktu buat mengajari dia sesuatu.. mengaji misalnya.. supaya pinter hapalan or ngajinya.. bukan supaya dia cinta AlQuran dan cinta belajar..

Ini juga saya sebut pamrih.. karena anak pinter itu dekat dengan kebanggaan orang tuanya..

Adalagi misalkan masak keren supaya anak bangga dengan masakan mamanya.. For God sake.. masakin anak teh basic thing.. klo itu bener, maka efek lainnya mengikuti..
(note: di saya kasusnya basic thing aja masih belum becus, but hei, orang tua juga berproses kan ya)

Ketika kita mengiyakan apa yang diinginkan atas niatan supaya anak senang punya Bapak Ibunya yg sekarang.. ini juga pamrih..

Berkali-kali saya diingatkan Allah karena tidak mengerti juga soal hal ini..

Berkali-kali saya mengiyakan nemenin anak main kemana dia mau, ngajak kemanapun saya bekerja.. Berkali kali pula dia tampak bahagia, dan berkali-kali pula beberapa jam sesudahnya ada kejadian drama jerit jerit hebat yg memecahkan rekor sebelumnya..

Awalnya saya tidak mengerti..

Why is it always turn out different with what I expected?

Knapa sih ya Allah.. knapa susah sekali.. untuk sekedar berjalan ideal satu hari saja..

Apa yang salah?

I read.. like a lot.. I also tried so hard to implement those theories..

Lama.. lama sekali waktu yg dibutuhkan untuk sekedar menyadari konsep :

“orang tua dengan pamrih”

Pamrih bukan ketika di hari tua kita menuntut bantuan finansial ke anak..
Pamrih bukan ketika kita minta anak berterima kasih karena sudah kita besarkan..
Pamrih itu sesederhana adanya ekspektasi tertentu terhadap anak yang membuat kita sebagai orang tua melupakan tentang “proses” dan tentang hal yang sesungguhnya harus dikejar.. Hal-hal yang jika dipenuhi, sebenarnya pasti yang lain-lain juga akan terpenuhi..

Supaya besok gak nagih-nagih lagi, bukan supaya anak bahagia terpenuhi kebutuhannya..
Supaya mamah/ayahnya senang, bukan supaya dia bisa menguasai certain life skill..
Supaya anak pintar, daripada supaya anak cinta belajar..
Supaya anak bisa banyak membaca, daripada cinta buku..
Supaya anak hafalannya banyak, daripada cinta Al-Quran..
Supaya anak rajin beribadah, daripada cinta pada Penciptanya..
Supaya anak naik BB nya, daripada anak sehat dan makan dengan menyenangkan..
Supaya anak nurut ke orang tuanya, daripada sayang kepada keduanya..
Supaya anak dapet sekolahan bagus, daripada supaya anak bahagia bersekolah..
Supaya anak bisa menjadi ‘seseorang’ kelak, daripada menerima anak the way she is, and what she/he becomes..

Alhamdulillah.. fortunately..
Sekali lagi ruh tidak pernah salah bergaul..
Ada aja cara Allah mendekatkan saya dengan pencerahan dan bukan jawaban langsung..

“menjadi orang tua soleh” oleh Abah Ikhsan
orang tuanya manusia” oleh Munif Chatib
fitrah based education” oleh Harry Santosa
“orang tua durhaka” oleh Ust Bendri
“harapan hanya 1 yaitu anak terikat hati dengan orang tuanya” oleh pak Halilintar
“regulasi emosi” oleh ibu Pipin dr sekolah alam
ibu profesional” oleh ibu Septi Peni Wulandani
“komunikasi baik dan benar” oleh ibu Elly Risman dan ibu Wiwit Perwitasari YKBH

Ya Allah butuh waktu sangat lama buat merangkai semuanya untuk sekedar dapat benang merah, butuh disentil berkali-kali baru paham bahwa saya MASIH menjadi orang tua dengan pamrih..

Toh setiap manusia diciptakan dengan suatu peran di muka bumi.. butuh waktu beberapa, belasan, bahkan puluhan tahun untuk menemukannya..

Begitu pula dengan bocil.. gak bisa terburu-buru dipaksakan menemukan perannya, bakatnya, adabnya,Β atau sekedar kebisaan/dan ketidakbisaannya..

Manusia diciptakan dengan fitrah belajar.. eventually dia akan sampe kesana klo semua hal yang mendukung dipenuhi..

Manusia diciptakan dengan fitrah ketuhanan.. ini juga kalo di nurture, diingatkan siapa Tuhannya beserta segala ciptaannya, maka ibadah akan menjadi panggilan hati..

Anak itu tidak tahu batasannya.. Akan tetapi rasa ingin tahu, emosi, logika, keinginan berbuat benar, dan kebutuhan mendekatkan diri ke yang Maha Pencipta itu semua fitrah..
They are already installed since the day she/he was born..

Jadi seharusnya peran orang tua nurturing semua fitrah itu.. sembari memberitahu koridor dan batasan seberapa jauh dia bisa berkeksplorasi di dunia untuk memenuhi fitrahnya.. dengan fitrah rasa ingin tahu lah yang paling kentara di anak kecil, sekaligus paling bikin geleng-geleng orang tuanya..

We create our own stories, yes child,,
maybe it is not quite like some good stories written out there..
It’s different.. but it will be fine.. and it will be also wonderful..Β 

Selalu ya.. sebelum bisa moving on,Β become better, dan memahami apa solusinya.. maka ya harus bisa identifikasi dulu apa masalahnya..

Well at least we passed the first phase..
Long way to go..
A truest relationship between parent and children..
But we’ll get there eventually.. with many prayers.. patient.. and semedi.. hehe..
Insya Allah..
Bismillah..

——–
Disclaimer: tulisan ini merupakan diary mamanya Runni dalam menemukan arti menjadi orang tua sesungguhnya, bukan mendebatkan sesuatu, bukan menilai sesuatu, mostly based on pengalaman pribadi.. klo ada kesamaan, ini bukan sindirian, hanya pengingat bersama.. πŸ™‚
——–