Kemampuan Literacy untuk Anak

Sesuai tema materi bunda sayang bulan ini adalah melatih kebiasaan membaca anak.. Sesungguhnya ketika 10 hari pertama, ini materi yang menyenangkan.. Tetapi sembari berjalan semakin kurang menyenangkan karena memang habit dan sense nya belum terbentuk.. Baik membuka buku, maupun orang tuanya membacakan..

Hal yang saya banyak pahami dari pekerjaan maupun interaksi sehari-hari dengan gadget adalah kebutuhan manusia saat ini bukan hanya literasi dasar untuk membaca, melainkan literasi digital.. Ini saya anggap jadi hal utama yang perlu dikuasai di era digital dulu.. Akan tetapi apakah kemampuan ini bisa begitu saja diperoleh..

Kembali ke ajaran pertama untuk Nabi Muhammad yaitu Iqra.. Membaca.. Sebenarnya hal yang perlu dikuasai terlebih dahulu agar kita bisa memahami literasi yang lain, ya membaca.. Bukan sekedar membaca.. Akan tetapi memahami..

Anak baru sampai stage Berbicara dan Berpendapat, yang katanya tahap 1 sebelum bisa membaca, dan kemudian bisa menulis.. Jika benar urutannya seperti ini, maka dia masih on track.. Hanya saja terkadang fitrah mamaknya dalam mengasuh suka bias dan tertutup kabut kalau lagi teringat berbagai teori tentang gadget dan lain-lain.. Dia lebih suka nonton daripada membuka buku, trus praktek berbicara dan melatih kemampuannya berpendapat.. Sebenarnya ini bisa dibenarkan kan ya jika melihat urutan di atas..

Lupa bahwa mengasuh itu dinikmati, bukan dibawa stres…

Berpikir jauh ke masa depan sering kali membuyarkan masa sekarang.. Entah kenapa kalau lagi jenuh, kita seringkali tertutup kejernihan pikirannya.. Terkadang atas nama keharusan membaca, jadi penuh ancaman gak boleh nonton.. Dipikir-pikir yang dibentuk kan kecintaannya terhadap literatur dan ilmu ya.. Bukan sekedar habit membacanya.. Rasa ingin tahunya.. Kemauannya belajar mandiri.. Selebihnya yang lain-lain mengikuti harusnya.. Berkaca pada diri sendiri yang kalau baca hanya hal-hal yang ingin dipahami.. Selebihnya tidak.. Berarti ini berlaku juga ya ke anak..

Mamak lagi sutris.. Sulit berpikir jernih.. Lupa padahal mamak bisa bacain juga tapi malah sibuk ngoprek game edukasi yang bisa dimainin teteh.. Ini juga PR ya.. Sebagai orang tua yang gadget-fanatic, sense untuk kegiatan non-gadget itu terkadang hilang.. Bukan gak mau.. Keingetan aja juga enggak untuk melakukan hal-hal secara konvensional.. Entah ini hal yang perlu disembuhkan atau dibiarkan saja.. PR nya lebih ke semedi dan menggali lebih dalam “fitrah” sebagai orang tua untuk tipe pekerja dan peneliti dunia IT seperti kami ini bagaimana.. Seringkali berlawanan dengan common sense dan common habit di luaran.. Udah tau kayak gitu, tapi tetep aja banyak baper mendengarkan berbagai teori parenting.. Hahaha.. Trus sutris maning..

Ya sebenarnya kayak balik ke jaman SMA, cuma dengan topik yang lebih complicated aja.. Ikut kursus/les2an, tapi gak mau dibilangin atau rajin masuk dengan alasan: udah tau, udah khatam, bosen dengernya, temen2nya beda pemahaman, tapi mau ngajarin saya.. Inget ayah nanya: “mam gak ikut kelas yg pembicaranya ibu2 di kantor?” (beliau nanya karena tau saya suka berburu kelas ibu-ibu hahaha)? “Ayah, I’m way pass that topic.. Right now, what I need is beyond that topic..” Si ayah ketawa aja mungkin pasrah kalo istrinya lg keluar songongnya.. Emang iya kadang-kadang seminar/materi parenting umum tu udah tau.. Hal yang aku pengen tahu bukan di sana ayah.. Tapi lebih ke tips-tips kegagalan dalam menerapkannya atau challenge nya ketika dihadapkan sama kondisi tidak ideal.. Itu yang orang jarang bahas.. Ketika ada yang mampu menjelaskan sebuah topik parenting dari sisi cara kerja otak manusia, dari sisi pertumbuhan manusia, penciptaan manusia dan konsep keluarga, yang memang ini hal yang dikasih sama Allah, Maha Pencipta dari sononya, ini baru bikin hati tergerak buat lirik-lirik.. hahahaha..

#aliranrasalevel5
#iipDepok