Berita yang Perlu Dikritisi

Masih hangat di linimasa perseteruan vaksin dan antivaksin yang memanjang kemana-mana. Terkadang ikut emosional, terkadang memilih diem aja. Ya dipikir-pikir bukan ranah saya, maka apa yg keluar dr jempol saya, sebaik-baiknya, hanyalah hasil parafrase atau interpretasi suatu sumber yg dibaca, bukan beneran paham ilmunya.

Oleh karena itu, yang bisa saya tuliskan adalah yg masih terkait dengan bidang saya: literasi digital. Pada tulisan ini bukan tentang bagaimana sebaiknya menyikapi isu di atas, melainkan kembali ke hal yang lebih sederhana. Membaca berita.

Hal ini tentunya menjadi kebutuhan setiap dari kita, entah itu berita nasional maupun berita seputar lingkungan kita. Cara umum yang digunakan adalah membuka social media, Facebook atau Twitter. Ada pula yang lebih memilih membuka portal berita. Apakah isinya informatif? Oh iya, apakah benar? Hmm relatif. Apakah bermanfaat? Yang hanya bisa menjawab ya masing-masing pribadi yang membacanya.

Hati ini seringkali tertegun. Ya Allah berita kok gini-gini amat. Rasa self-assurance saya yang rendah selalu menemukan berjuta alasan pembenaran di baliknya. Mulai dari memang sudah seharusnya seperti itu, atau ya mungkin memang berita yang seperti itulah yang menjadi selera mayoritas masyarakat Indonesia.

However, yang namanya salah ya salah. Hati nurani pasti akan selalu berteriak. Di sini saya tidak spesifik menyebutkan apa portal beritanya, pun tidak mencirikan secara spesifik. Silakan menebak dan menilai sendiri. Isinya pun tidak selalu ‘ajib’. Ada kalanya saya terkesima dengan kemampuan jurnalisnya menyampaikan topik yang tidak mudah, namun dengan bahasa yang bisa diterima orang awam. Ada kalanya hanya miris, ini mba/masnya yg menulis beneran tidak paham atau sengaja, karena jelas-jelas isinya pembodohan publik. Keduanya dari portal berita yang sama. Sekalipun berita kedua memang hanya berita ringan. Ya tapi tetap saja.

Kembali ke tulisan sesuai kompetensi saya, hal yang (imho) paling bijak bisa saya paparkan di sini adalah karakteristik artikel berita yang perlu dikritisi.

✒️Infotainment
Saya nemukan sebuah portal Tanpa Headline tentang infotainment. Akan tetapi portal itu bisa begitu memikat pembacanya. Jadi saya memahami bahwa boleh kan ya kita gak cari masalah kehidupan dengan membaca infotainment. Isinya akan mba itu lagi itu lagi. Isu selingkuh lagi. Isu cerai lagi. Ini sebenarnya si mba beneran memberikan signifikansi terhadap kenaikan hit rate suatu topik atau manajer si mba yang pesen supaya dipasang terus?. (Yang kedua hanya su’udzon tanpa bukti). Kesimpulan yang bisa saya jujur ambil adalah tidak satupun, dengan pembenaran dalam bentuk apapun, manfaat yang bisa diambil. Sebenarnya infotainment itu luas ya. Ya yang bagus-bagus banyak kok ya tapi kenapa kita sibuk baca si A selingkuh, pelakor, si A pacaran sama si B. So what?

✒️Lifestyle

Kemarin saya baca berita dengan judul sangat seru. Gak terlalu penting sih. Sekedar berita tentang sebuah tren. Yang menjadi masalah adalah bahwa isinya bahkan dituliskan bahwa si judul belum confirmed. Hah?! Boleh ya sekarang seperti itu. Okelah kalau sekedar status di social media. Tapi ini media massa mainstream. Tempat banyak orang mencari klarifikasi atas suatu hal. Tempat yang sama yang dikunjungi orang dengan asumsi bahwa di sanalah tempat mencari segala hal terpercaya.

✒️Berita Serapan

Ini maksudnya berita hasil translasi dari bahasa lain. Jika itu berita terkini akan menjadi kewajaran. Sebagaimana mayoritas berita tentang kejadian internasional akan mengacu ke Reuters. Yang saya maksud adalah berita artikel populer, misalnya tips, trik, dan cara melakukan sesuatu. Saya paham kok pekerjaan jurnalis itu berlomba dengan waktu. Saya sering sudah baca versi aslinya karena memang bersumber dari media massa internasional mainstream. Beberapa minggu/bulan kemudian, hal yang sama tampil dengan bahasa Indonesia di portal berita lokal. Pertanyaan saya: is it hurt to conduct a little research? Selain translasi, apakah memberikan sedikit komparasi/konfirmasi dari website terpercaya itu sebegitu sulit? Contoh, artikel kesehatan dikonfirmasi mengguna WebMD atau MayoClinic. Keduanya website kesehatan dengan bahasa sederhana namun isi terpercaya.

✒️Clickbait

Saya speechless bahas topik ini bahkan ketika alasannya untuk ‘marketing’. Saya belum menemukan alasan pembenaran yang masuk akal. Yang saya bisa tuliskan di sini mungkin wawasan yang bikin bahagia. Coba cek akun @clickunbait di Twitter 🙂

✒️Making ‘the stupid people’ famous

Sebenarnya kepikiran ini medianya yang kurang cerdas, atau kita pembacanya yang bodoh. Maksudnya udah ya gak penting, ya di-kepo-in juga.

✒️Hoax : Pembodohan Publik

Saya selalu elus-elus dada saking sedihnya kalau ya masih aja ada yang share berita Hoax, bahkan di grup dosen, dosen IT pula. Gak cukup 1 paragraf bahas soal ini. Janji saya akan menulis soal ini dalam satu artikel tersendiri.

✒️Postingan ‘Gak Pake Mikir’

Entah bagaimana kok ya bisa kepikiran bikin suatu topik yang sangat vulgar dan jadi headline. Yang paling bikin sebel adalah menyatakan bahwa suatu hal yang salah sebagai “it’s okay👌 “. Salah mah salah aja ya 😅 . Banyak lho orang yang dalam fase mencari-cari pembenaran akan tindakannya yang salah. Dengan 1 aja artikel nyeleneh, maka ikut turut berkontribusi pada degradasi moral pembacanya. Niatnya menulis buat amal jariyah, kan sedih kalau malah jadi dosa jariyah. Saya kadang mikir, coba yang menulis/editorial artikel infotainment/lifestyle itu wajib telah menikah. Hehe. Saya pikir sudut pandang yang diambil pastinya bisa lebih bijak dan tidak melulu mendewakan “kebebasan” yang dibungkus dalam bahasa “hak asasi”.

✒️Membahas Trending Topic/kompilasi Youtube/Instagram

Ini sebenarnya saya tidak bilang salah. Hanya saja saya belum menemukan alasan kenapa hal semacam ini wajar. Bukannya media massa dan media sosial itu bersaing ya?. Semacam aneh aja kita memberitakan sesuatu yang menjadi kelebihan media kompetitor.

Sekali lagi di sini saya tidak punya basic jurnalisme dan marketing. Bukan hak saya memberikan judgement salah benar tanpa rekomendasi konkret untuk perbaikannya. Saya tidak paham keseluruhan detail proses bisnis dunia media. Hal yang bisa saya lakukan adalah menuliskan ini dalam rangka edukasi publik, dan advokasi hak pembaca. Pembaca boleh lho jadi lebih cerdas. Pembaca juga boleh lho belajar mengkritisi apa yang dibaca. Semuanya dengan cara yang santun tentunya. Anggap pembelajaran bersama.

Ide besarnya adalah perbaikan mulai dari diri sendiri, baru ditularkan ke yang lain. Jika konsumen naik level kecerdasannya, pastinya penyedia layanan juga otomatis ikut naik level sajiannya kan.

Sumber Gambar: https://www.pexels.com/search/notebook/