Bagaimana Mengkritisi Sebuah Bacaan

Bacaan bisa berupa berita, artikel populer, status orang yang kita idolakan di portal berita, Whatsapp atau Facebook. Membaca itu gak sekedar merangkai huruf jadi kata/kalimat yang punya arti. Itu namanya spelling. Anak kecil juga bisa. Ini kan kita orang dewasa. Membaca itu seharusnya adalah proses memahami yang disertai kegiatan mengkritisi isi bacaan. Pada artikel sebelumnya, saya coba menuliskan contoh berita yang perlu dikritisi. Setelah saya baca ulang rasanya menggantung jika tidak disertai saran konkrit yang menjawab pertanyaan:  Bagaimana Caranya.

Apakah kemampuan mengkritisi bacaan adalah bawaan lahir? Oh tidak. Perlu dilatih, dan tidak dalam waktu singkat.

Saya sudah bisa? Terkadang merasa iya. Ya tapi ada pula moment of truth ketika pak suami dengan gamblangnya bilang: kok cara bacanya masih begitu. Kala itu saya baca cepat sebuah artikel, atau membaca dan kemudian baper. 😅 Nyebelin (curcol).

Anyway, back to topic. Dahulu, membaca mungkin tidak perlu disertai kritisi karena dunia aman tentram. Lha ya sekarang tiap hari mainannya sama hoax, status galau, tulisan sotoy, dan banyak lagi. Menurut survey Masyarakat Telematika terhadap 1116 responden dalam waktu 48 jam, 44.3% responden berpendapat bahwa mereka menerima hoax setiap harinya.

Jadi, emak jaman now kudu setroong, eh bukan, kudu cerdas!!

Saya selalu beranggapan bahwa edukasi literasi digital itu berlaku dua arah. Bagi penulis konten dan bagi pembacanya. Seringkali kita tak berdaya dan hanya bisa menjadi posisi yang kedua. Maka,

menjadi pembaca kritis namun santun itu wajib

Pada tulisan ini saya mencoba berbagi bagaimana menjadi pembaca yang lebih cerdas.

Bagi kita memilah bacaan itu mudah, karena sering beredar di media sosial, mudah memperoleh wawasan, punya akses ke ahlinya atau sumber terpercaya. Nah yang tidak seberuntung itu bagaimana? Kasian kan. Tau bahwa mereka sedang terjerumus pun tidak. Hoax kampring (it’s so obvious) mah gampang ya identifikasinya. Itu baca aja di berbagai artikel dan portal berita juga banyak. Saya mau membahas sedikit lebih dalam. Mudah-mudahan tulisan ini bisa terdampar ke yang nun jauh di sana.

Hoax vs Tulisan Tidak Benar

Hoax adalah hal yang dimaksudkan untuk menipu atau dengan kata lain disengaja salah. Maka sekalipun gedeg sama hoax, dan penyebarnya, namun khuznudzon terhadap sebuah bacaan tetap perlu. Ada kata kunci: disengaja. Maka dari sini boleh ya kita menyimpulkan bahwa penyebar hoax itu ada. Perlu kesengajaan untuk membuat dan menyebarkan sebuah bacaan/gambar/video yang salah. Apa niat di baliknya? Itu yang saya tidak mau tuduhkan di sini, datanya (mungkin) ada, sumbernya? Maka bahasan niat penyebar hoax berhenti sampai sini ya.

Nah yang tidak sengaja bagaimana? Kita sebut saja Berita/Tulisan/Artikel Tidak Benar. Yang ini anggep aja karena penulisnya kurang pinter. Eh, boleh gak sarkastik begini? Gak boleh ya. Maka mari kita bahas secara lebih objektif. Penulis konten bukan lagi jurnalis, bukan lagi ahli, setiap-tiap dari kita bisa menjadi penulis konten yang dibaca sejagat raya. Ini yang perlu kita pahami sebagai pembaca bahwa: Penulis Konten Bisa Siapa Saja. Bisa Salah. Pembaca yang serta-merta berasumsi ini-pasti-benar lah yang salah.

Tulisan tidak layak baca/share

Sadis ya judulnya. Ini maksudnya untuk mempermudah hidup ☺️. Daripada terlanjur baper, atau lelah hayati mencari klarifikasinya. Ada beberapa karakteristik yang saya tandai sebagai artikel TIDAK LAYAK baca untuk saya:

  • Diawali dengan “copas dr grup sebelah” tanpa keterangan itu apa, darimana, siapa penulisnya
  • Ada kalimat penutup: silakan sebar jika anda peduli keluarga/ teman/ lingkungan Anda, namun tanpa sumber penulis
  • Menggunakan angka jumlah minimal orang harus di share. Ini udah jelas ya gak jelasnya. Tolong skip.

Bacaan keren yang penuh istilah science dan teknis

Coba deh baca artikel dari website suatu lembaga resmi dengan tulisan personal tentang suatu topik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Berasa deh bedanya. Yang lebih banyak istilah sulitnya yang mana? Kenapa? Motivasi mendasar orang dalam menulis itu adalah membuat paham. Jika niatnya benar, motivasinya benar, maka isinya akan dibuat sesederhana mungkin agar semua orang paham. Jika sebaliknya, niatnya apa? Terusan kalimat ini bisa kita isi apapun ya. Tapi namanya spekulasi, hanya pendapat, tebakan, tanpa bukti. Kita berhenti di sini.

Hoax/Berita dari Institusi Resmi/Kementerian

Begini, ini common sense, kita tahu instansi negara itu tugas utamanya melayani masyarakat. Jika memang ingin memberikan himbauan, standar yang dipakai sederhana: semua masyarakat harus paham. Ya kalau pakai istilah sulit bagaimana bisa dipahami? ya kalau banyak typo, indentasi gak jelas, gak rapi, lha ya gimana orang mau paham.

Sejauh khuznudzon saya, cara instansi pemerintah bekerja, walaupun beda-beda cara, kebijakannya pro-kontra, tetapi ada 1 semangat bersama: semuanya mengusahakan kestabilan dan ketenangan di masyarakat. Maka bacaan yg memantik kebencian dan amarah, bahkan tanpa perlu dibenturkan dengan kepentingan pribadi, perlu dipertanyakan.

Saya pernah menemukan sebuah artikel, ada nama penulis, tp gak nyambung kompetensinya. Tau beginian darimana? gugling juga langsung ketemu di nomer 1. Lha ya masa nama menteri ketuker-tuker.

Profesor xxx berkata: …..  dan diakhiri bahwa ini Info dari Kementerian yyyy.. Lha ya si xxx dosen perikanan, sejak kapan jadi menteri kesehatan. Dosanya dobel. Mencatut dan menyebarkan berita salah. Di re-share. Maka dosanya jadi ‘jariyah’. (Tiga kalimat terakhir mengandalkan emosi, maka abaikan karena yang menulis bukan Ustadzah).

Tulisan yang Bukan Ditulis oleh Ahli = Hanya Interpretasi

Interpretasi itu padangan, pendapat terhadap suatu hal. Lucu rasanya ketika kita mendewakan sebuah pandangan sebagai acuan kebenaran. Buat wawasan dan belajar okelah, acuan kebenaran? Big no no..

Sekarang buat apa ada sistem pendidikan, buat apa orang sekolah, baik yang di sekolah formal, non formal, maupun home schooling. Ya karena butuh paham sesuatu dulu kan baru bisa melakukan sesuatu. Tidak lupa kan ya dengan alasan ini?

Kemudian mengapa perlu ada spesialisasi dalam belajar? karena orang butuh fokus belajar suatu ilmu dari hulu ke hilir. Jadi wajar ya saya pakai alasan ini sebagai dasar mengapa harus ahlinya yang kita ikuti. Ahli itu tidak sekedar mampu capture sepotong keilmuan, tapi tau dasarnya sampai implementasinya.

Horor yang sebenarnya buat saya, membuat hati mencelos, bahkan mamas Pennywise pun kalah, adalah ketika membaca artikel yang membeberkan data beserta istilah rumit, tapi interpretasi dan kesimpulannya penuh asumsi. Lha ya terus ngapain pakai data. 😅 Ini saya mencoba menahan diri dari mengambil kesimpulan: ya iya aja emang yang nulis kurang cerdas. Tidak. Gak boleh kan ya merasa pintar. Mungkin ada alasan mulia lain yang saya belum tahu saja.

Analoginya seperti soal ujian: Pernyataan A benar, Pernyataan B benar, namun tidak berhubungan.

A: Kalau lantai basah orang kepleset.
B: Kalau tidak membawa gelas hati-hati, air bisa tumpah.
Maka A dan B TIDAK berhubungan.

Akan tetapi banyak penulis konten yang meneruskan kalimat ini : maka semua orang yg minum dengan gelas akan membuat orang lain terpleset. Jauh kan? Itu namanya probability, kemungkinan, bukan kesimpulan. Sedih ya. Serampangan menambahkan kata semua pun itu pertanggung jawaban akhiratnya pun luar biasa, karena sifatnya tuduhan mengarah fitnah. (Lagi, kalimat terakhir basisnya emosi, boleh diabaikan) #selfreminder

Akhir-akhir ini saya sedih ketika orang menganggap kemungkinan sebagai acuan kebenaran, dan fakta terbukti (proven fact) sebagai hoax. Apapun topiknya. Setidaknya itu yg terjadi di linimasa Facebook saya. Trus saya kudu piye?

Ini bukan bodoh. Ini jahat.

Bedakan antara Fakta dan Testimoni

Testimoni itu benar adanya. Tidak perlu diperdebatkan. Maka tidak perlu mencela testimoni orang. Ya memang dia mengalami. Yang kudu kritis itu yang baca. Yakin prekondisi Anda sama dengan prekondisi yang memberikan testimoni? Itu kenapa butuh tanya ke banyak orang, karena 1 testimoni Tidak Bisa jadi acuan kebenaran.

Sedih lagi kan ketika justru yang sudah ditanyakan ke banyak orang sebelum  disimpulkan justru dibilang hoax. Akan tetapi testimoni beberapa orang dianggap benar. Ya gakpapa sih. Probabilitas kebenarannya selalu ada. Perlu dihargai. Tapi ya jangan dibalik. Hal paling dasar yang jadi common knowledge tentang manusia adalah bahwa manusia itu unik. Allah menciptakan kita semua unik. Untuk menemukan pola kesamaan itu perlu cara. Selain yang memang dari sononya, atau tersirat dalam Alquran, maka orang yang ditanya perlu banyak.

Ini kenapa dibalik? T__T

Yang dipercaya itu pernyataan yg masih bersifat probabilitas, kenapa yang udah melalui tahapan generalisasi dianggap salah?

Sekian dulu yang saya bisa tuliskan. Jika ada kesalahan, mohon dikritisi. Jika ada kesalahan, maka itu adalah saya masih dalam proses belajar, belum menjadi hebat, apalagi jadi ahli.

Butuh cinta untuk mendidik,
butuh ketulusan untuk mengedukasi,
tapi butuh doa & teladan untuk membentuk pemahaman..

Sumber gambar: https://www.pexels.com/photo/facebook-instagram-network-notebook-266246/