Karena Ilmu kita Bagai Remahan di Kaleng Rengginang

Di era derasnya arus informasi tentunya banyak dari kita merasa tahu dan bangga jadi yang pertama tahu. Menahan jempol untuk tidak re-share berita viral itu rasanya seperti gak boleh makan in**mie. Tempting.

Kita butuh mindset yang tepat jika kurang mampu menahan diri. Ada sebuah konsep yang bisa diilustrasikan pada gambar di bawah ini bahwa pengetahuan kita hanyalah bagai debu di dunia. Istilah kerennya bagai remahan di kaleng rengginang.

Enak, tapi tidak signifikan.

.. those with limited knowledge in a domain suffer a dual burden: Not only do they reach mistaken conclusions and make regrettable errors, but their incompetence robs them of the ability to realize it (Dunning & Krugger, 1999).

Jadi berdasarkan penelitian keduanya, mudah-mudahan masih relevan karena sudah 18 tahun berlalu, disebutkan bahwa orang yang pengetahuannya kurang itu mengalami dua hal. Yang pertama adalah kesalahan dalam mengambil sikap dan kemudian menyesalinya. Yang kedua adalah tidak sadar bahwa dia tidak paham.

Kalimat terakhir membuat tertawa miris ya. Hehehe. Mentertawakan diri sendiri tentunya karena sungguh mengena.

Jleb! right to the heart.

dunning-kruger-0011 (1).jpg(gambarย dari interpretasi jurnal ini)

Ketika kita merasa tahu atau lebih tahu, maka perlu sejenak introspeksi. Benarkah tahu? Benarkah paham? Yakin kita paham di level plateau of sustanaibility? atau justru masih di puncak gunung kebodohan, Mt Stupid. Jika ada rasa sombong yang mengiringi pengakuan bahwa kita paham mungkin saja jadi tanda bahwa sesungguhnya kita tidak paham apa-apa.

Pada ilustrasi gambar diperlihatkan orang yang sombong (high confidence) seringkali sebenarnya tidak tahu apa-apa. Justru yang lebih tahu ada yang stay humble, atau malah justru sedang terpuruk di valley of despair. Situasi saat kita menyadari bahwa.. jreng.. oh my.. berarti selama ini gue bodoh banget. Ya itu tadi, bagai remah rengginang.

This is a real feeling, not just humble bragging.

Jadi, eh lagi bahas apa tadi. Oh iya, untuk menahan jempol itu susah. Himbauan tips dan trik juga susah menerapkannya buat yang ngeyel. Butuh ganti mindset. Salah satunya dengan memahami bahwa kita belum tentu lebih tahu, masih bodoh.

Oleh karena itu maka cari tahu lagi, belajar lagi, baca lagi. Jika itu juga masih sulit, maka tahan jempolnya agar berita viral atau tulisan yang belum jelas asal muasalnya berhenti sampai layar Anda.

Note: Just another diary of digital literacy enthusiast.