Review Pandu 45 (part.3)

Nature vs Nurture

Keduanya merupakan sudut pandang yang dipilih dalam memandang bakat anak. Keduanya tidak serta merta dapat disalahkan jika hal lainnya benar. Keduanya pula memiliki dasar teori masing-masing.

Nature itu dimana kita memandang kemampuan seseorang adalah bawaan gen/lahir. Saat ini manusia seperti apa itu banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang telah dimiliki sejak lahir. Istilah lainnya adalah hereditas yang kita kenal sehari-hari sebagai keturunan.

“oh wajar, memang sudah turunan”

IMHO, ini sudut pandang yang umum kita gunakan sehari-hari. Hal yang sudah menjadi common sense pula dalam memandang kemampuan/capaian anak.

Sudut pandang berikutnya adalah Nurture dimana karakter seseorang terbentuk melalui pendidikan dan lingkungan. Ini sepertinya yang melandasi konsep manusia dilahirkan sebagai kertas putih dengan pendidikan dan pengalaman sebagai pena yang mewarnai karakteristik manusia tersebut.

Intepretasi

Saya termasuk aliran yang by default menganggap bahwa orang pinter itu banyak dipengaruhi oleh gen. Seiring waktu barulah hal ini sedikit bergeser bahwa karakteristik bisa pula dipengaruhi oleh perjalanan hidup manusia tersebut. Jadi saya memahami bahwa apa yang membentuk manusia dengan berbagai karakteristiknya ada yang berupa hal-hal yang memang dari ‘sono’ nya, yang dikenal dengan fitrah dan ini berupa karakteristik dasar manusia. Adapula yang berupa ‘rekaman’ yang tertulis dalam DNA manusia sebagai keturunan dari sepasang manusia.

Sedangkan berbagai proses pembelajaran yang dialami manusia tersebut seumur hidup merupakan hasil interpretasi dia dengan fitrah yang ada. Fitrah pada dasarnya adalah bekal agar manusia berjalan sesuai makna penciptaanya. Jika berbagai pengalaman ini diperoleh dengan tetap menyesuaikan fitrahnya, maka karakteristik yang terbentuk akan sesuai nilai-nilai yang ada, dan sebaliknya.

 Penerapan

Jika hal ini dipetakan terhadap anak-anak, maka akan menjadi pengalaman menarik bagi orang tua. Kita dapat menyaksikan langsung anak dengan berbagai fitrahnya kemudian tumbuh menjadi pribadi unik sekalipun dalam 1 keluarga yang sama. Di sini saya memahami mengapa perlu menjaga fitrah dalam membersamai pertumbuhan anak, agar semua bekal dari penciptaNya tetap bisa menjadi karakteristik utama dia.

Fitrah yang paling terlihat dari bayi adalah rasa ingin tahu yang besar yang dituangkan melalui oprek segala sesuatu. Ini juga dikombinasikan dengan fitrah jenis kelamin dimana kecenderungan anak beserta preferensinya harus menyesuaikan fitrah jenis kelaminnya. Membersamainya sesederhana apakah binar itu muncul ketika dia bermain hal yang sesuai untuk umur maupun jenis kelaminnya, atau apakah ada gelagat berlainan yang masih bisa ‘diluruskan’, atau apakah sebenarnya sudah sesuai hanya saja mamahnya parno. Abaikan kalimat terakhir.

Fitrah kakaknya yang berumur 5 adalah fitrah ketuhanan. Saya dulu memahami bahwa fitrah ini terlihat ketika anak mau shalat atau belajar ngaji. Naif. Lupa bahwa kedua ibadah utama ini seharusnya didahului Iman. Salah kaprah yang kemudian diluruskan oleh PenciptaNya. Bahwa di umurnya yang sekarang teteh bukan rajin shalat/ngaji melainkan mempertanyakan berbagai hal untuk memahami Tuhannya. It’s just another prove that fitrah is exist. Bahwa aliran nature juga ada benarnya. Hanya saja yang sering digunakan pada aliran nature bukan mengenai fitrah, tapi judgement di awal apakah anak bisa atau tidak.