Yang Murah Aja, Mamah

Itu jawaban teteh akhir-akhir ini ketika minta dibeliin mainan. Barangkali dia lelah harus adu argumen sama emaknya karena suka dikomplain: gak, itu mahal, yang murah aja. Makanya ketika ditawarin sesuatu, atas dasar adil, karena adiknya habis dibeliin mobil-mobilan mini,
teteh jawab: emang boleh mah?
mamah: iya boleh
teteh: yg murah yg mana mah?
mamah: ini murah (nunjuk lilin, sebelumnya dia minta clay pdhl dua kali lipat harga)

Sepulangnya dia begitu hepi mainan lilin dan terus mengagumi: mah ini kok murah tapi bagus ya. Ah, that satisfying feeling. The excitement when we find something good with cheap price. Ini bagi saya, jadi pengalaman yang perlu dialami bocah sebelum rasa kontrol terhadap barang yang diinginkan beserta harganya muncul. Mudah-mudahan konsisten ya eneng sampe dewasa. Sesungguhnya generasi milenial (emaknya) itu generasi lifestyle dan experience. Ada kemungkinan gen-Z juga mengikuti, dimana layak tidaknya harga bergantung pada experience yang diberikan suatu benda. Jadi memang cobaan bocah lebih besar untuk bisa mengatur keuangan. IMHO. Ditambah lagi buat emak-emak kadang suka lupa diri kalau buat anak terkait hal-hal yang menjadi kebutuhan dasar. Jadi PR nya dobel, benerin emaknya dulu, baru si emak bisa mengajari anaknya.

Note: Tulisan ini hasil interpretasi pribadi penulis. Jika ada simpulan mengenai sesuatu, belum tentu dapat digeneralisir pada anak/keluarga lain.

Sumber gambar: custom menggunakan gambar dari http://www.flashrob.com/350.html