Catatan Keuangan

🌸🌸🌸🌸🌸

5 tahun lalu pernah menulis ttg ini. Semacam hebat. Tapi klo membuka file yang sama sekarang, prestasinya hanya 1, yaitu masih melakukan hal yang sama.. mencatat keuangan.. gak banyak perubahan di dalamnya.

https://amaliarahmah.com/2012/08/11/family-financial-2-mengelola-keuangan-keluarga/

Google sheet yang dibuat mencatat pun masih mirip bentuknya. Hanya budgeting-nya dinamis sesuai kebutuhan keluarga pd saat itu.

Tapi setelah 7 taun, maka sekarang saya boleh berbagi.. krn yg dulu sifatnya hanya sbg tips denger dari finansial planner, sekarang udah proof of concept.

🌸 Konsistensi
klise tp ini prekondisi mutlak

🌸 Nabung itu di awal, saat gaji turun
krn pasti gagal keburu dipake jajan ini itu, apalagi klo rajin liat instagram #eh

🌸 Nabung dikit gak masalah asal terus-terusan, pas ada rejeki tambahan, masukin dulu ke tabungan, baru jajan

Kami punya beberapa pos tabungan yang harus diisi sebelum sisanya adalah untuk kebutuhan bulanan. Di antaranya dana pendidikan, rumah, haji, dan pensiun. Umum. Semua seminar financial planning pasti menyuruh hal yg sama.

Aturan sederhana adl semua pos tabungan perlu diisi sekalipun isinya absurd jumlahnya. Contoh kebutuhan dana pendidikan 20juta tp nabung per bulan cuma 50ribu. Ya biarin aja. Yang penting rutin. Nanti kalau dapat rejeki baru ditambah dikit-dikit.

🌸 Dana pendidikan is a must, no matter what

Kami start dari nol. Literally. Saat suami melamar yg dia kasih lihat adalah detail gaji dia, laporan tabungan pribadi, dan prediksi bahwa itu smua akan habis utk biaya nikah. Biasa laki-laki, kompetitif. Temennya nikah biaya sendiri, dia harus juga.
Kemudian gaji yang settle itu akan berubah setelah menikah menjadi angka tidak pasti karena beliau memutuskan resign dan membangun usaha bersama teman dekatnya.

Intro yg tidak umum utk melamar.

Tapi kan tren perempuan jaman sekarang, emang nyari hidup susah di awal kan 😂 eh iya gak?.

Di tengah2 pernikahan mengalami defisit tabungan sampai minus, tp kan catetan keuangan tetap harus jalan. Fleksibel aja. Maka skala prioritas. Dengan nomer 1 pos yang harus aman adalah lagi-lagi dana pendidikan.

Sejak awal nikah, bahkan sebelum hamil, dana pendidikan anak sudah masuk komponen tabungan pasti isi. Kami menghitung inflasi pendidikan dan perkiraan 6-7 taun kemudian bth berapa. Dari situ baru tahu berapa per bulan disisihkan utk kondisi wajar dan bisa leyeh-leyeh saat anak harus sekolah. Ini satu anak. Kalau 2, 3, dan 4 gimana. Ya kembali ke dimensi Ketuhanan klo anak itu ada rezekinya masing2 hehe..

Misal harusnya 300rb per bulan. Tp jaman itu, atuhlah mana ada uang segitu utk 1 pos tabungan doang. Dimana idealnya (kata mba dan mas financial planner) ada 5-7 pos tabungan, blm lagi biaya operasional bulanan.

Di sana kami belajar bahwa bukan tentang angka idealnya. Tapi lesson learned utama dari manajerial keuangan keluarga adalah konsistensi. Jd diawali dengan 100rb truuuus sampai kondisi membaik.

Buahnya memang baru bisa dinikmati bertaun-taun kemudian. Sekolah anak beserta printilan arisan buku (eh eh salah fokus) jadi bisa lebih tenang karena dipersiapkan sejak 7 taun yg lalu.

Mungkin itu dl yg bs di share. Mohon maaf jika ad kesalahan kata. Saya punya background murni IT. Jd mungkin ada salah-salah..

Tulisan di atas tampak hebat. Sesungguhnya kenyataannya adalahsaya dipantengin suami setiap akhir bulan utk menyelesaikan catatan keuangan keluarga yg terdiri atas 5 sheet di Google drive. Belum lagi waktu sidak dadakan karena yg namanya google drive bs diliat kapanpun dmnpun. “Hayooo itu uang jajan mu udh abis sblm akhir bln gmn ceritanya”..

Ya begitulah.. karena istri itu perlu dikekep, gak selalu karena sayang, tapi karena suka jajan.

Wasaalammualaikum,

-Ami
Dituliskan dalam sharing Bunda Sayang IIP Depok