Melatih Berhitung dengan Menghabiskan Bekal

Dahulu saya blunder bahwa prestasi anak dalam hal makan bekal adalah ketika dibawain banyak dan habis. Baru ketika akhir semester saya mendapatkan pencerahan bahwa maksud gurunya bukan makan kenyang, tapi makan habis.

Kenapa coba harus makan habis dan dikasih bintang. Kenapa yang habis tapi karena jumlah bekelnya hanya 3 sendok tetap yang disebut berprestasi. Gurunya pun menjelaskan bahwa bekal hanya 3 kepal sendokan saja beserta lauk (dan sayur kalau untuk anak orang, anak sendiri mah tak mungkin).

Baru kemudian saya menyadari ketika berkaca pada diri sendiri. Mengapa saya susah sekali mengira-ngira berapa banyak bahan makanan yang harus dibeli. Jika yang akan makan 5 orang, maka berapa lauk dan sayur yang harus dibeli untuk makan tengah. Buat orang lain ini tentu bukan hal mudah. Buat saya ini sangat sulit, dan seringkali offset. Ntah kebanyakan, atau kurang.

Saya menebak-nebak bahwa kebiasaan buruk menyisakan makanan lah salah satu penyebabnya. Jadi dengan kata lain saya gak biasa mengira-ngira porsi untuk diri sendiri. Boro-boro mengukur untuk orang lain. Beda dengan suami yang selalu pas, walaupun kadang-kadang saya merasa awalnya itu kesedikitan, atau kebanyakan, tapi ternyata pas.

Akhirnya setelah 30 tahun baru menemukan alasan kenapa makan harus habis. Karena jika tidak, bukan masalah mubazir saja, tapi imbasnya akan merepotkan diri sendiri sekarang dan seterusnya.