Calistung pada Umur 7

“Mah kita mau ketemu Pak Ucok ya”

Begitulah pertanyaan teteh setiap diajak ke kampus di gedung tertentu. Dia sudah hapal pembimbing S3 saya, dan happy (sebagaimana emaknya masih keder) karena selalu dibaik-baikin sama “opung”.

Melihat Runni, ada kalanya pembimbing bertanya, anak jaman sekarang suka sekali ya pegang gadget. “Nonton apa? Lagu dan film anak ya?”

Oh itu semua udah lewat, dia suka liat video tutorial. Jadi belajar ya dari sana, karena belum 7 tahun, maka belum disuruh calistung.

Lagi-lagi keblunderan menjawab 😅 sebagaimana jawaban blunder kalau lagi ditanya “why” yg melandasi penelitian yang dilakukan. Sebenarnya Runni bukan dilarang, cuma belum disuruh belajar aja. Tapi udah bisa. Kenal huruf, menuliskan namanya dan adiknya, serta menghitung penjumlahan sampai belasan juga bisa.

Kemampuan yang saya bilang bisa sendiri. Kepercayaan yang dianut emaknya adalah kalau kemampuan dasar ya eventually akan bisa. Somehow. Entah karena dia butuh bisa, jadi belajar sendiri. Atau memang krn otaknya sudah pas menerima materi itu jadi percepatan belajarnya signifikan.

Pembimbing saya menjelaskan hal yang selaras. Sebagai orang yg tau root keilmuan, terlibat di berbagai penyusunan standar kurikulum dan pengajaran, maka bukan tempat saya untuk mendebat.

“Ami, orang-orang yg bikin aturan bahwa calistung itu harus 7 tahun adalah orang-orang pintar. Tapi bukan dilarang, mengenalkan boleh. Diperlihatkan huruf dan angka, dan anak mengidentifikasinya. Itu boleh. Namanya pattern recognition. Yang tidak boleh itu kalau disuruh mengeja, menulis indah. Tapi implementasinya, banyak yang salah kaprah jadi benar-benar melarang”

😊 Seringkali saya bersyukur dapat ilmu tambahan seperti ini. Sebenarnya selaras, tapi karena jawaban gugup jadi saya seperti melarang total. Padahal tidak.

Ini juga sudah memadukan hasil perngeyelan ke eyang yang rajin nyuruh saya ngajarin anak baca. Saya sadar, eyang juga benar kan udah bertahun2 ngajari saya. Jadi fifty:fifty. Ya bukan diajari tapi dikenalkan sesuai keingitahuan bocah. Jadi semua senang 😁 walaupun eyang tetep geleng2 karena emaknya udah bs baca dr 3 tahun. Cucunya lempeng aja sampai 5 tahun baru bisa baca Runni dan Bukalapak #eh

Runni bisa menuliskan namanya karena dia butuh melabeli semua barangnya. Baru saya tahu kemudian, bahwa dia juga bisa menuliskan nama adiknya. Mungkin sayang adik. Sampai kertas presentasinya pun dia namai : Runni Kala. Saking sayangnya sama adik mungkin. Padahal kontribusi adiknya terhadap tugas presentasi teteh hanya: ngeberantakin krayon dan memicu teriakan emak dan tetehnya karena ancang2 nyoret hasil karya teteh.