Jajan All the Way

Jadi sekarang ini sudah masuk periode teteh melebarkan sayap perngadatannya. Tadinya cuma kasus tertentu, sekarang di tempat belanja juga 😐😐. Maka sebagaimana biasanya kalau mamak pening maka diiyain aja supaya adegan ala radio rusak (diulang-ulang tanpa henti) bisa di-stop. Kalau ada ayah, maka bisa didiemin dan ditinggal pergi. Ya kan kalo mamanya pura-pura gak kenal masih bisa ya. Da gak mirip. Kalau ayahnya? Hahaha 😈

Cantik kan ya anak urang 😘 Ini ketika kondisi masih kondusif.

Mulai tengilnya keluar.

Rebutan troli sama adiknya pun bisa jadi drama panjang bin berisik. Tapi paling berisik tetep kalo ada yg request es krim dan harus saat itu juga 😐. Hadeeh.Ditinggalin aja bareng ayah dan mamanya pura-pura gak kenal. Tapiii, atu da teteh keras keinginannya.. She could request the same thing over and over again, for a long time. Sampai mamah menyerah. Untung es krimnya masih tataran Peddle P*p, jadi ya uwes lah.

Adik jadi tameng kalau buat jajan “iya kan Uni beli buat adik juga”

Kadang ide larangannya lebih ke sebatas pengenalan kontrol diri ya. Bukan ke harga, karena emang vocabulary belanjaannya teteh masih sebatas es krim murah meriah. Akan tetapi ada rasa perlu untuk tidak membelikan segala sesuatu yang diminta saat itu juga. Kurang baik rasanya.

Kembali introspeksi diri. Again, like mother, like daughter. Ada yang perlu dibereskan dulu dalam diri emaknya sebelum anaknya bisa diajarin hal yang benar. Sampai saat ini, setting emak buat hal-hal “harus sekarang juga” masih offset. Kalau mau sesuatu ya saat itu juga, terlebih soal makanan πŸ˜…. Lha ya gimana mau ngajarin bocah. Alasan kuatnya aja terkadang belum nemu.

Mudah-mudahan kelak ada jawabannya. Sejauh ini salah satu faktor yang saya bisa kaitkan dengan offset nya setelah cerdas dalam belanja ini adalah: suka gak ngabisin makanan. Imho, Iya lho ngefek. Belum ada studi empiris sih, masih tataran hipotesis yang bisa diargumentasi.

Gak menghabiskan makanan artinya menghilangkan kemampuan mengukur kebutuhan diri sendiri, secara perlahan. Jika tidak bisa mengukur secara pasti, ya bagaimana mau mengontrol kebutuhan itu.

Hehe. Sekian dulu.