C for Challenge

Pada tulisan sebelumnya saya mencoba mendefinisikan creativity yang sesuai dengan konteks yang saya jalani sehari-hari. Benar tidaknya relatif. Pada tulisan ini saya ingin menjabarkan kembali makna setiap huruf tersebut, setidaknya yang sesuai dengan apa yang dialami sehari-hari.

C (in CREATIVITY) for Challenge dalam konteks pengasuhan anak adalah bagaimana memandang kesulitan, gedeg, sutris, gak bisa bisa, gak sekali dibilangin beres itu sebagai challenge. Makanya emak-emak jaman sekarang teh rentan baper, karena tau teori, ada berbagai pembanding bertebaran di medsos, sementara kegagalan penerapan berbagai teori parenting itu kejadian on daily basis. Alias banyakan gagalnya daripada berhasilnya.

Contoh aja toilet training, udah berhasil, ya ada lagi masa-masa penurunan yang perbaikannya makan waktu bulan bahkan tahun. Ada pula soal makanan. Ada pula soal diri sendiri, misal sumbu pendek jadi seriiiing ngomel. Tarik napas panjaaang dan istighfar itu menjadi kegiatan rutin buat emak-emak. Ya itu tadi, satu-satunya bangkit dan kembali belajar ya dengan menganggap kegagalan itu sebagai challenge. Baper, ngomel, dan sutris tetap ada pasti. Sering. Haha.

However, if we look back, without realize it, we’ve grown so much during those times. We didn’t do nothing. We’re growing up to be better ones, each day

Contoh yang lebih hepi terlihat di gambar. Itu percobaan ke sekian bikin foto adik tertawa. Caranya bukan dikasih lawakan, tapi dipeluk dan diajak ketawa. Ya itu tadi selama belum bisa, tapi anggep sebagai challenge, selalu ada upaya untuk bisa berhasil.