There’s Always an Imagination for Them

Jadi kemarin itu sedang di perjalanan, persisnya di atas kereta. Selalu lupa bahwa 2 bocil ini selalu bisa paling ribut segerbong. Jadi mungkin 6 jam perjalanan isinya hanya instruksi mengecilkan volume atau udahan dulu ngomongnya.

Seperti biasa teteh kalo gak di depan HP akan siaran radio, yang batrenya gak abis-abis. Semacam semua hal dikomentarin, bisa secara langsung, atau merembet kemana-mana yang ngejawabinnya juga bingung. Kalau jawab gak tau maka akan diulang-ulang sampai dijawab atau sampai mamah habis sabar.

Sepertinya memang buat anak kecil, perihal “grab your imagination” bukanlah hal yang berat. Buat ortunya yang memang kurang kreatif lah hal ini jadi masalah.

Kemarin di sepanjang jalan ada TV yang memutarkan berbagai film disney mulai dari panda, baymax, sampai nemo. Ya namanya teteh akan nanya segala sesuatu yang bahkan gak ada di film. Seperti mamahnya kemana? orang tuanya kemana? meninggalnya kenapa? Padahal memang dari awal tokoh-tokoh tersebut tidak ada.

Memang sih kalau analisis suami, kebanyakan film anak itu tidak ada ibunya. Iya juga ya. Belum nemu alasannya kenapa. Diamati kembali ada pula yang tidak tidak ada kedua orang tuanya. Ada pula yang bapaknya 2 (bukan lg*t), seperti Panda, yg ada Bapak kandung dan ada Bapak asuh.

Jadi kesempatan sebenarnya ketika dia bertanya kok orang tuanya dua, kok terpisah, kok mamanya meninggal. Kesempatan untuk mengajarkan dia bersyurkur apa yang dimiliki saat ini, berkah dan rejeki keluarga lengkap.

Ada juga tentang science, dia komentari robot di fil Big Hero 6 itu dari magnet. Ntah darimana dia belajar soal magnet. Tapi ngeh aja konsep dasar yg dipakai itu bisa dianalogikan dengan gaya tarik magnet.

Sederhana memang cara berpikir anak-anak. Tapinya canggih. Imajinasinya suka bikin iri ya. hehe. Andai orang dewasa punya daya imajinasi (yg konstruktif) sekenceng itu, mungkin semua pekerjaan/amanah yang dilakukan bisa lebih lancar.