False Celebration

Sebenarnya yang mau dituliskan di sini bukan tentang dongeng maupun cerita, tapi pengalaman gagal. Sesungguhnya di balik dokumentasi cerita hebat parenting, ada lebih banyak cerita gagalnya. Baik itu sekedar inkonsistensi, kehabisan ide, sampai omelan dan teriakan. Selalu setelah mengalami semua itu, emak down atau minimal galau.

Kemudian tarik napas dan kembali menyemangati diri, dan kemudian ceria. Begitu terus berulang-ulang. Gak berasa anak tetiba sudah besar. Gak berasa pula di tengah-tengah siklus itu tersisip cerita-cerita success story yang sesungguhnya lebih layak pamer eh tayang. Jadi memang cerita menarik itu tidak bisa dibuat setiap hari, kecuali untuk pencitraan. Itupun kalau ide pencitraanya habis ya berenti juga.

“Everything is falling down”

Ini juga pikiran-pikiran yang sering muncul. Semacam kalau lagi semuanya gagal, atau di bawah ekspektasi, baik dalam membesarkan bocah, maupun amanah di ranah publik. Ada kalanya ingin keluar dan hanya memilih salah satu. Tapi mimpinya terlalu jauh untuk berhenti sampai sini kan. Hehe.

Ujung-ujungnya kembali ke PhD mommy. It’s never been easy, though it’s a journey worth to try on. Betapa transformasi diri menjadi keharusan yang dilakukan terus menerus. Semacam selesai satu, ada lagi tantangan menunggu di depan. Tapi bukannya semua begitu ya. Semua orang mengalami hal yang sama, tantangan yang berbeda. Jadi ya sama-sama sulit.

Kemarin malam diingatkan oleh suami akan 1 hal sederhana tapi sungguh menjadi pembeda dia yang konsisten maju, dan dia yang jalan di tempat.

“Ya cari solusinya dulu”

….nah baru kemudian curhat kalau ada masalah. Sebenarnya sudah terbiasa seperti ini, jika ada problem maka usaha beresin dl, baru chat ke suami alternatif solusi untuk sekedar FYI atau minta approval, yg ujungnya dibalas singkat dengan “ok”. Karena kalau kita curhat ke orang, mau itu teman, socmed, ataupun keluarga maka secara tidak langsung menyerahkan masalah tersebut ke mereka. Makanya habis curhat di socmed seringnya hanya jadi lega, tapi masalah ya tetap ada. Atau tiba-tiba selesai karena paksu yang ambil keputusan, yang melibatkan dia juga. Itu kan merepotkan.

Ya begitu tapi emak-emak, kalau udah riweuh, pengen nulis , ngantuk, ada bocah teriak-teriak, ada new habit and rule yang harus diterapkan ke anak, ujung2nya susah mikir jernih. Ya itu, like everything is falling down. Padahal enggak. Padahal gitu doang. Yang masalah cuma ada di pikiran, padahal dunia baik-baik aja hahaha. Memang musuh terbesar emak itu baper dan lebay 😀 Kalau bisa lebih kalem, mungkin jauh lebih banyak yang bisa dikerjakan.

Inilah bagian dari usaha mendokumentasikan kegagalan. Istilahnya false celebration. They said, it’s okay, it’s part of process so we need to appreciate too.