Resume Diskusi Kekerasan Seksual pada Anak

Berikut ini merupakan resume diskusi yang dibawakan oleh mba Anggun Kurniasari, Annisa Ariadarma, dan Annisa Fauziah dari Ibu Profesional Bunda Sayang Depok.

Apa itu kekerasan seksual anak?

segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi pada anak yang tidak dipahaminya dimana orang dewasa atau anak lain yang usianya lebih tua memanfaatkannya untuk kesenangan/rangsangan/aktivitas seksual. (CASAT
programe, Child Development Institute; Boyscouts of America; Komnas PA).

SIAPA KAH YANG DIMAKSUD ANAK?

seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk
anak yang masih dalam kandungan
(UU perlindungan anak Anak no 23 tahun 2002 )

APA SAJA YANG TERMASUK KEKERASAN PADA ANAK

Menurut (nasrun dkk,2015 )
bentuk kekersan seksual pada anak Terbagi menjadi 2 :
1.sentuhan
🚫mencium atau memeluk anak dengan cara yang tidak tepat (seksual)
🚫 memaksa, memanipulasi atau mengajak anak berhubungan seks
🚫memaksa, memanipulasi atau mengajak anak berhubungan oral seks (mulut ke penis atau
mulut vagina)
🚫memaksa, memanipulasi atau mengajak anak untuk memegang bagian pribadi anak atau
bagian pribadi pelaku

2.tanpan sentuhan
🚫Menggunakan bahasa seksual untuk mengejutkan anak atau membuatnya terangsang
secara seksual
🚫membuat anak mendengar atau menonton hal-hal yang berbau seksual
🚫memaksa, memanipulasi atau mengajak anak untuk berpose sensual
🚫memaksa, memanipulasi atau mengajak anak untuk menjadi pelaku prostitusi.

DARURAT KEKERASAN SEKSUAL ANAK

Indonesia sudah masuk ke dalam darurat kekerasan seksual pada anak.
Menurut komnas anak,tahun 2017 jumlah kekerasan seksual anak menempati posisi pertama dlm kategori kekerasan anak.
52 % : kekerasan seksual anak
30 % : kekerasan fisik
17% : kekerasan psikis
1 % : kekerasan bentuk lain

Di awal tahun 2018 jumlah korban anak sudah mencapai 117 anak dengan 22 pelaku.
Sementara di tahun 2017 terdapat 393 korban anak dengan pelaku 66 orang laki-laki.

❇❇❇❇

Oleh karena itulah maka menjadi penting bagi kita orang tua untuk menanamkan nilai nilai fitrah agar anak terhindar dari kekerasan seksual

ANAK ADALAH AMANAH dan BAGIAN DARI LINGKUNGAN SOSIAL

Dalam islam anak adalah amanah.
Anak adalah khalifah dimuka bumi.anak merupakan penerus generasi bangsa yang harus dilindungi segala kepentingannya,
fisik, psikis, intelektual, hak-haknya, harkat dan martabatnya.

Dalam agama maupun negara melindungi anak bukan kewajiban orang tua biologisnya saja melainkan menjadi kewajiban kita
semua sebagai bagian dari masyarakat.

Untuk itu menjadi penting setiap orang tua dan individu memahami pencegahan kekerasan seksual pada anak melalui pemahaman fitrah seksualitas kepada anak

Seksualitas adalah bagaimana seseorang bersikap, berpikir, bertindak sesuai dengan gendernya.

Secara fitrah seksualitas, seseorang hanya dilahirkan sebagai lelaki atau sebagai perempuan. Jika ada yang mengatakan bahwa homo atau lesbian itu bawaan dari lahir, sesungguhnya ia telah menyimpang dari fitrahnya. Tidak ada manusia yang terlahir “abu-abu” atau bias gendernya.

Fitrah seksualitas ini juga yang nanti berperan penting dalam pembentukan peran keayahan pada laki-laki, serta peran keibuan pada perempuan. Atau biasa disebut fitrah keayahibuan.

Lalu, apa hubungan fitrah seksualitas ini dengan kekerasan seksual ( sexual abuse ) pada anak usia dini?
🤔

Sebelum lanjut lebih dalam lagi, kita bisa pahami dulu nih tentang penyebab dari kekerasan seksual itu sendiri

Kekerasan terhadap anak dapat terjadi akibat banyak faktor, baik yang berdiri sendiri ataupun kombinasi dari beberapa faktor.

Menurut Gelles Richard J (1982), faktor penyebab kekerasan terhadap anak adalah:

1⃣ Pewarisan antargenerasi, yaitu saat seseorang mengalami kekerasan seksual pada masa kecilnya, cenderung akan menjadi pelaku kekerasan seksual juga
2⃣ Stress sosial, mencakup pengangguran, penyakit, kondisi perumahan yang buruk, dan kematian anggota keluarga
3⃣ Struktur keluarga, misalnya orangtua tunggal lebih memungkinkan melakukan tindak kekerasan dibandingkan keluarga utuh

(Kurniawati, 2013)
Jika diperhatikan dari sini, kekerasan seksual muncul karena adanya penyimpangan fitrah seksualitas dari si pelaku.

Selain itu, peluang terjadinya kekerasan seksual pada anak juga disebabkan oleh pendidikan seks yang kurang kepada si korban.
Oleh karena itu, pendidikan fitrah seksualitas sangat diperlukan sesuai dengan tahapan usianya.

Menurut konsep Fitrah Based Education (FBE) yang digagas Ustadz Harry Santosa, mendidik fitrah seksualitas dilakukan sesuai dengan tahapan usia berikut :

1⃣ Usia 0-2 tahun : merawat kelekatan ( attachment ) awal

🗝 Anak lelaki atau anak perempuan didekatkan kepada ibunya karena ada masa menyusui

2⃣ Usia 3-6 tahun : menguatkan konsep diri berupa identitas gender

🗝 Anak laki-laki dan anak perempuan didekatkan kepada ayah dan ibu secara bersama.

Dari sini mereka mulai memahami bahwa “saya perempuan seperti ibu” atau “saya laki-laki seperti ayah”.

Mereka juga mulai memahami adab toilet. Jika saya perempuan, maka saya cebok dan mandi bersama dengan ibu, tidak boleh dengan ayah. Begitupun sebaliknya.

Dari sini, orangtua bisa meminimalisir potensi kekerasan seksual pada anak, sebab anak sudah mulai diajarkan tentang perbedaan gender.

3⃣ Usia 7-10 tahun : menumbuhkan dan menyadarkan potensi gendernya

🗝 Anak laki-laki didekatkan kepada ayah, anak perempuan didekatkan dengan ibu

Dari konsepsi identitas gender menjadi potensi gender. Anak laki-laki perlu suplai maskulinitas yang kuat dari ayahnya, sedangkan anak perempuan perlu suplai feminitas yang kuat dari ibunya.

Pada tahap ini, anak sudah mulai tumbuh fitrah sosialnya, sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dari sinilah, anak belajar konsep interaksi dengan lawan jenis, sehingga mereka perlu didekatkan dengan orangtua yang sama gender dengannya. Perlu diperhatikan bahwa di usia inilah yang paling rawan potensi kekerasan seksual pada anak.

4⃣ Usia 11-14 tahun : mengokohkan fitrah seksualitas

🗝 Anak laki-laki didekatkan kepada ibu, anak perempuan didekatkan dengan ayah

Saatnya untuk saling memahami lawan jenis. Di usia ini, anak mulai memahami cinta mulai dari orangtuanya. Anak laki-laki belajar memahami kelembutan khas karakter perempuan. Anak perempuan mulai memahami bagaimana karakter laki-laki yang bertanggung jawab. Dengan demikian, anak yang berada pada periode pra aqil baligh ini bisa dilatih menjaga dirinya sendiri.

5⃣ Usia > 15 tahun : matang fitrah keayahibuan

🗝 Anak laki-laki kembali didekatkan kepada ayah, anak perempuan kembali didekatkan dengan ibu

Ditukar kembali, sebab usia ini adalah masa aqil baligh, dimana anak sudah harus bisa menerapkan konsep adab pergaulan dalam Islam. Sudah mulai memahami tentang mahrom dan aurat, sehingga harus sudah bisa menerapkan konsep menutup aurat dan menundukkan pandangan.

Selain itu, anak harus sudah bisa memahami perannya dalam rumah tangga dan berkeluarga kelak, sehingga tidak ada lagi penyimpangan fitrah seksualitas yang sungguh meresahkan.

Setelah kita mendapatkan penjelasan tentang kekerasan seksual pada anak dan tentang fitrah seksualitas anak. Yuk sekarang kita cari tahu kira-kira apa yang menjadi solusi untuk tersebut! 🤔

Dalam presentasi kali ini, kami menguraikan solusi preventif terhadap kekerasan seksual pada anak dari sudut pandang pendidikan seksualitas dalam Islam.

Berikut ini adalah infografis tentang bagaimana anak-anak kita bisa melindungi diri dari kekerasan seksual.

✅Ajarkan kepada anak tentang sentuhan baik dan sentuhan tidak baik. Beri pemahaman bahwa tidak semua orang berhak menyentuh bagian tubuh anak. Dan komunikasikan kepada anak untuk berani berkata “Tidak”!!! dan menolak jika ada orang (siapapun itu) yang melakukan tindakan yang membuat anak tidak nyaman.

Nah, kadang para ibu bingung apa sih media yang bisa digunakan untuk memberikan pendidikan seks kepada anak usia dini 🤔. Mungkin beberapa contoh berikut bisa dijadikan media edukasi untuk menumbuhkan fitrah seksualitas pada anak-anak di rumah. Tentu eksekusinya dikembalikan lagi kepada kreativitas para ibu ya 😉

Kesimpulan:

  • kasus kekerasan seksual merupakan akibat kurangpahamnya akan fitrah seksualitas
  • perlu adanya upaya pencegahan kekerasan seksual yang holistik dimulai dari keluarga, masyarakat, sampai pemerintah
  • keluarga merupakan institusi pertama yang berperan menjaga fitrah seksualitas anak agar berjalan sesuai perannya sebagai perempuan dan laki-laki sejati