Pentingnya Pendidikan Seks pada anak

Hasil Diskusi Kelompok 5 Bunda Sayang #2 Depok oleh mba Debby, Aida, dan Dien.

Sering kali para orangtua menganggap bahwa memberikan edukasi seksual pada anak merupakan suatu hal yang tabu. Padahal sesungguhnya memberikan pendidikan seks pada anak sejak dini adalah hal yang sangat penting.

Mengapa hal tersebut sangat penting? Karena dengan memberikan pendidikan seks usia dini secara baik dan benar maka akan bisa mencegah dan melindungi anak dari berbagai tindak pelecehan seksual, perilaku seks bebas, kehamilan di luar nikah, pemerkosaan, aborsi dan juga penularan berbagai jenis penyakit seksualitas. Ketika seorang anak tidak diberikan pendidikan seks yang baik sejak dini dikhawatirkan saat terjadi pelecehan seksual mereka menganggap hal itu bukanlah masalah.

Namun sayangnya seperti yang sudah dikatakan diawal tadi bahwa banyak orang tua masih menganggap hal ini sebagai suatu yang tabu dan juga mereka belum mengetahui apa saja pentingnya pendidikan seks pada anak. Bahkan ada yang menganggap bahwa membicarakan tentang seks dengan anak sama saja mengajarkan mereka untuk berhubungan seksual. Tentu ini merupakan pemahaman yang salah, karena dalam memberikan pendidikan seks juga disesuaikan dengan usia anak. Apa itu

*Pendidikan Seks menurut Pakar Parenting*

Menurut Ibu Elly Risman, Psi.
Pendidikan seks adalah mengajarkan totalitas kepribadian seseorang, mencakup: cara berpikir, merasa, bereaksi, berbudaya, dan beragama serta berinteraksi sosial dalam kapasitas kepribadiannya.

Ustadz Harry Santosa
Bahwa pendidikan seksualitas berarti menumbuhkan fitrah gender.
Fitrah gender adalah cara seseorang berpikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrah sebagai perempuan atau laki-laki sejati, sehingga dapat memenuhi peran, fungsi, dan karakteristik.

Ibu Lita Edia, Psi.
Pendidikan seks adalah mempelajari tentang perbedaan jenis kelamin, perbedaan peran perempuan dan laki-laki, cara merawat organ biologis, adab interaksi antara perempuan dan laki-laki, mempelajari proses reproduksi dan cara merawatnya, termasuk mempersiapkan ilmu pranikah dan adab berhubungan suami-istri.
Beberapa hal ini berkaitan dengan norma yang berlaku, agama yang di anut dan sistem sosial tempat tinggal kita.

Semakin dini pendidikan seks dapat diberikan di rumah, semakin dini anak mampu menetapkan konsep2 yang benar tentang seks, dan akan semakin mudah para orang tua nantinya dalam menghandle situasi.

Berikut persiapan2 yang harus dimiliki orang tua dalam memberikan pendidikan seks ke anak (Faiz Hayaza,2013):

*1.membangun komunikasi efektif dengan anak*
kita harus menjadi pendengar yang baik, serta menyediakan dan memberikan jawaban yang jujur sesuai kenyataan.anak harus dibiarkan memiliki opini dan menyuarakan isu2 tentang seks tanpa rasa ketakutan akan adanya hukuman atau menjadi bahan olok-olok.
*2. Siapkan diri kita sebagai pendidik dengan belajar sebanyak-banyaknya*
sediakan back up informasi seperti buku,artikel atau video,melakukan latihan penyampaian,dan rencanakan dan siapkan sebelum anak2 datang ke kita dengan topik yang baru.
*3. Hindari conversation Stoppers.*
Jangan mengatakan opini anak adalah salah, jangan memotong pembicaraan,jangan berhenti mendengarkan,jangan mengkritisi atau bereaksi marah,jangan terburu2 berasumsi anak terlibat masalah yang serius/mereka dalam masalah ketika mereka bertanya tentang seks
*4.atasi moment2 canggung.*
Jika kita tidak mampu menjawab pertanyaan anak,katakan saja.kita bisa mencari jawabannya bersama2 dengan anak misalnya di buku, artikel atau video.

Tau kah kita bahwa belajar tentang seks berbeda dengan kita belajar tentang keterampilan yang lain?

Misalnya kita belajar renang agar mengetahui tentang teknik berenang yang baik, namun belajar tentang seks bukanlah belajar bagaimana aktivitas seks yang baik, melainkan apa yang akan timbul atauĀ dampak dari aktivitas seks tersebut.

Psikolog Vera Itabiliana Hadiwijojo berpendapat, pendidikan seks tidaklah melulu sesuatu yang sulit.Ā  Menurutnya, yang pertama harus dilakukan para orangtua adalah perubahan pola pikir.

Dengan menganggap seks bukan sesuatu yang tabu, orangtua diharapkan bisa lebih nyaman menyampaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut. Selanjutnya orangtua bisa lebih kreatif menyampaikan hal yang berkaitan dengan seks, dengan kata yang sederhana dan mudah dipahami.

1. MENGENALKAN PERBEDAAN LAWAN JENIS

Jelaskan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan yang memiliki perbedaan jenis kelamin. Hal ini yang menyebabkan beberapa hal menjadi berbeda, seperti cara berpakaian, gaya rambut, cara buang air kecil. Terangkan bahwa anak laki-laki jika sudah besar akan jadi ayah dan anak perempuan akan menjadi ibu. Dengan demikian, anak bisa memahami peran jenis kelamin dengan baik dan benar

2. MEMPERKENALKAN ORGAN SEKS

Caranya cukup mudah, misalnya dengan menggunakan boneka ataupun ketika mandi. Perkenalkan anak secara singkat organ tubuh yang dimiliki, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut, serta jangan lupa penis dan vaĀ­gina. Terangkan juga fungsi dari anggota tubuh dan cara pemeliharaannya agar terhindar dari kuman penyakit.

3.Ā Ā MENGHINDARI ANAK DARI KEMUNGKINAN PELECEHAN SEKSUAL

Tegaskan pada anak bahwa alat kelamin tidak boleh dipertontonkan secara sembarangan. Tumbuhkan rasa malu pada anak, misalnya ketiika keluar dari kamar mandi hendaknya mengenakan pakaian atau handuk penutup. Selain itu, jika ada yang menyentuhnya, segera laporkan pada orang tua atau guru di sekolah. Anak boleh teriak sekeras-kerasnya dalam hal ini untuk melindungi dirinya.

4. INFORMASIKAN TENTANG ASAL-USUL ANAK

Untuk anak usia prasekolah, bisa diterangkan bahwa anak berasal dari perut ibu, misalnya sambil menunjuk perut ibu atau pada ibu yang sedang hamil. Sejalan dengan usia, anak boleh diterangĀ­kan bahwa seorang anak berasal dari sel telur ibu yang dibuahi oleh sperma yang berasal dari ayah. Tekankan bahwa pembuahan boleh atau bisa dilakukan setelah wanita dan pria menikah.

5. PERSIAPAN MENGHADAPIĀ MASA PUBERTAS

Informasikan bahwa seiring bertambahnya usia, anak akan mengalami perubahan dan perkembangan. Perubahan yang jelas terlihat adalah ketika memasuki masa pubertas. Anak perempuan akan mengalami menstruasi/haid, sedangkan anak laki-laki mengĀ­alami mimpi basah. Hal ini menandai juga perubahan pada bentuk tubuh dan kualitas, misalnya bagian dada yang membesar pada waĀ­nita dan suara yang memberat pada seorang pria.

Penjelasan yang diberikan tentu menggunakan istilah tepat namun tetap dapat dipahami anak.

Orang tua dapat memberikan anak buku dengan topik pendidikan tentang seks. Bacalah bersama anak dan diskusikan apa yang telah dibaca. Hati-hati menonton acara televisi yang mungkin tidak sengaja berisi kasus-kasus perkosaan dan kekerasan seksual lainnya.

Oleh karena itu, orang tua harus peka untuk langsung mendiskusikannya dan menjelaskan secara baik, sebab akibat dari kasus tersebut. Yang terpenting di sini adalah meluangkan waktu, untuk menyampaikan pendidikan seks dengan santai dan cukup waktu. Perhatikan juga karakter anak dan rentang atensi yang dimiliki anak, sehingga anak tidak bosan atau jenuh. Gunakan media seperti gambar, buku, dan benda lain yang menarik minat anak dan buat semenarik mungkin.

Untuk memberikan pendidikan seksual pada anak, sebaiknya kita memahami dahulu bagaimana tahapan perkembangan anak secara keseluruhan untuk tiap usia anak. Berikut adalah cara memberikan pendidikan seksual pada anak sesuai dengan tahap perkembangannya :

Tahapan Pendidikan Seks:

1. Usia 0-2 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan ibunya.
Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun, menyusui bukan memberi ASI tanpa pumping dan tanpa di sambi pegang Hp.
Untuk ibu yang tidak bisa memberikan ASInya, saat memberi susu pada anak ibu harus menemaninya tanpa di sambi pegang Hp dan anak harus lebih dekat dengan ibunya.

2. Usia 3-6 tahun
Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya, perbanyak aktifitas bersama.
Usia 3 tahun, anak harus dengan jelas mengatakan identitas gendernya.

Misalnya anak perempuan harus berkata “bunda, aku anak perempuan”.
Dan anak laki-laki berkata “bunda, aku anak laki-laki”.

Mulai kenalkan anggota tubuh anak secara detail dan dengan kata yang benar. Orang tua harus mengajari anak bahwa tubuhnya berharga, mana yang boleh di sentuh dan mana yang tidak boleh di sentuh orang lain agar anak terhindar dari kejahatan pelecehan seksual.
Untuk kemaluannya sebut dengan nama medis, laki-laki penis dan perempuan vagina.
Mulai juga ajarkan toilet training sesuai dengan adab thoharoh dalam islam.
Belikan mainan dan pakaian sesuai gender, misalnya anak laki-laki di belikan mainan mobil-mobilan, robot-robotan, pesawat, pakai celana, kaos, kemeja, baju koko.
Anak perempuan di belikan mainan boneka, masak-masakan, pakai rok, dress, gamis dan jilbab.

3. Usia 7-10 tahun
Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya.

Jika anak laki-laki dekatkan dengan ayahnya ajak anak beraktifitas yang menonjolkan sisi kemaskulinannya. Seperti main bola, nyuci motor, belajar sholat ke masjid bersama ayah, dll.

Jika anak perempuan dekatkan dengan ibunya, libatkan anak dalam aktifitas yang menonjolkan kefeminimannya. Seperti mulai di ajarkan menutup aurat seperti pakai jilbab, membantu ibu memasak, belajar sholat bersama ibu di rumah, dll.

Pada usia ini kenalkan mana yang mahram dan bukan mahram, anak laki-laki dan perempuan di pisahkan tempat tidurnya, pengenalan organ seks secara detail, mempersiapkan masa pubertas, mempersiapkan proses terjadinya mimpi basah dan menstruasi.

4. Usia 11-14 tahun
Pada usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir, mulailah dekatkan anak lintas gender.

Jika anak laki-laki dekatkan dengan ibu dan jika anak perempuan dekatkan dengan ayah.

Ada sebuah riset yang menunjukkan jika seorang anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya maka data menunjukkan anak tersebut 6X lebih rentan di goda dan terpikat oleh laki-laki lain yang menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk kepuasan.
Jika anak laki-laki tidak dekat dengan ibunya, ia akan menjadi kasar, tidak memahami perempuan.

Bagaimana kalau orang tuanya bercerai atau LDR? Maka hadirkan sosok lain sesuai gender yang di butuhkan, ada kakek dan pamannya. Ada nenek, bibi dan ibu susunya.

Fase berikutnya setelah 14 tahun bagaimana?
Sudah tuntas, karena jumhur ulama sepakat usia 15 tahun adalah usia aqil balig, anak tersebut sudah menjadi mukallaf yaitu orang yang di kenakan beban syari’at jika dia mengerjakan perintah Allah maka mendapatkan pahala dan jika meninggalkan perintah Allah mendapatkan dosa.

Ajarkan batasan aurat laki-laki dan perempuan, memberikan pemahaman tanggung jawab moral dalam pergaulan, menjelaskan hubungan pria dan wanita, pacaran/tunangan, pilihan hidup menikah atau membujang ajarkan sesuai dengan nilai-nilai agama, penguatan iman, akhlak, adab dan bicara, memberikan penjelasan mengenai “safe sex”, bukan hanya menghindari kehamilan tetapi juga penyakit seksual, menjelaskan bahaya PMS (penyakit menular sexsual) terutama HIV/AIDS.

Ajarkan etika pergaulan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram seperti yang tercantum pada Al-Qur’an surat An-Nur : 30-31.

Ajarkan mereka agar menjaga kehormatan dan harga diri agar mereka menjadi manusia yang bertakwa dan baik, karena perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). (QS. An-Nur : 2

Jadi, banyak hal sebenarnya mesti harus kita tahu mengenai pendidikan sex ini agar anak semakin bagus dlm tumbuh kembangnya..

kesimpulannya,

Pendidikan seks sangat penting diberikan sejak dini kepada anak agar anak2 kita terhindar dari permasalahan pelecehan seksual dan tindakan seks bebas. Namun sebagai orang tua kita harus memiliki ilmu yang cukup dan memahami bagaimana menyampaikan pendidikan seks yang tepat dan sesuai dengan perkembangan usia anak sehingga anak mampu menetapkan konsep yang benar tentang seks dan terhindar dari perilaku2 seks yang tidak baik dan dapat menjaga dirinya dari pelecehan seksual.