Pengaruh Keluarga pada Gender

 

PENGARUH KELUARGA PADA GENDER
Diskusi Hari ke-5 oleh Kelompok mba Nina, Mefisya, dan Nurlita

Ortu memiliki pengaruh signifikan pada perilaku PERAN GENDER dan TIPE GENDER anak karena mereka bertindak sebagai partner interaksi, instruktur langsung dan penyedia kesempatan bagi anak untuk belajar perilaku dan sikap sex-role. Contoh : Warna Biru untuk anak laki dan Pink untuk anak perempuan

Perlakuan sosialisasi dan pendidikan orangtua terhadap anak yang memberikan perhatian kepada anak laki-laki maupun perempuan biasanya berdasarkan:
1. Kebutuhan khusus : berkaitan dengan aspek biologis/ reproduksi
2. Kebutuhan umum yang berkaitan dengan kebutuhan psiko-sosial

PENGASUHAN YANG RESPONSIF GENDER

  • Pengasuhan responsif gender yang dilakukan oleh orangtua terhadap anaknya tidak terlepas dengan pembagian tugas (job distribution) antara ayah dan ibu.
  • Peran gender dalam keluarga juga berkaitan dengan harapan terhadap peran dan tugas yang disepakati antara ayah dan ibu.
  • Day et al. (1995) menyatakan bahwa harapan dan tugas seorang ayah adalah untuk memiliki fisik yang kuat, mampu mencari nafkah, dan mampu melakukan pekerjaan rumah yang berhubungan dengan kekuatan fisik.
  • Sedangkan harapan dan tugas seorang ibu adalah dapat menyiapkan anak-anak secara fisik dan emosional serta sebagai pendidik anak-anak dari usia dini agar dapat berintegrasi dengan baik di masyarakat.
  • Dengan demikian terjadi “gap” yang besar dari harapan peran gender dalam keluarga antara ayah dan ibu.  “Gap” tersebut kemudian berdampak pada perilaku orangtua dalam melakukan pengasuhan pada anaknya juga terbias oleh gender
  • Ayah dan Ibu perhatikan personalitas anak yang masing-masing adalah unik (perpaduan antara introvert /feminin dan extrovert/ maskuline).
  • Selalu mencari pendekatan pengasuhan yang demokrasi dan tepat diterapkan pada anak perempuan dan laki-laki yang berkaitan dengan sifat individual yang unik dengan memperhatikan kebutuhan khusus (berkaitan dengan aspek biologis) dan umum (berkaitan dengan aspek aspek psiko-sosial) dari setiap anak.
  • Ayah dan ibu melakukan pendekatan kepada setiap anak dengan bijaksana, partisipatif dan hangat serta penuh pengertian.
  • Ayah dan Ibu berfungsi untuk menumbuhkan motivasi belajar, menyalurkan hobi dan memilih program studi yang cocok dengan kompetensi dan minatnya
  • Ayah dan Ibu dengan kemitraan yang setara memberikan sosialisasi  kepada anak perempuan tentang sifat laki-laki dan cara menghormati dan menghargai laki-laki; begitu pula sebaliknya, memberi sosialisasi  kepada anak laki-laki tentang sifat perempuan dan cara menghormati dan menghargai perempuan.
  • Ayah mensosialisasikan apa yang diharapkan laki-laki terhadap perempuan, dan Ibu mensosialisasi bagaimana seorang perempuan memberi arahan dan nasehat pada laki-laki.
  • Orangtua memberi contoh bagaimana kemitraan laki-laki dan perempuan di dalam keluarga dan masyarakat
  • Ayah dan ibu memberi kesempatan kepada anak perempuan yang cakap untuk sekolah di luar kota dan ke perguruan tinggi dengan program studi tehnik dan ilmu eksakta.
  • Ayah dan ibu memberi cara kemandirian yang cocok untuk perempuan, seperti memahami listrik, kompor gas, kendaraan, dan sense of dangerous, dan laki-laki seperti memasak, mencuci, menyeterika, dan membersihkan tempat tidur.
  • Ayah dan ibu memberi contoh cara melindungi diri dari berbagai bahaya dari lingkungan
  • Ayah dan ibu menciptakan rasa aman, rasa nyaman, dan rasa cinta, serta rasa damai pada anak-anak mulai dari usia dini.
  • Ayah dan ibu mengajari anak untuk melindungi diri seperti:
    1. ‘Don’t talk to stranger, and don’t receive anything from stranger’
    2. Jangan biarkan siapapun menjamah ‘Tiga daerah pribadi’ (three private areas)
    3. Jangan takut bilang “TIDAK MAU’ (don’t be afraid to say ‘NO’).
    4. Melatih mandiri sejak kecil terutama berkaitan dengan meningkatkan sensitifitas pemenuhan perlindungan diri (fisik maupun psikhologis).
    5. Mengajari anak cara memilih teman yang baik.
  • Peningkatan penerapan nilai-nilai lama yang berlandaskan agama dan budaya setempat seperti:
    1. Nilai berbagi, nilai kebersamaan, nilai bermasyarakat, nilai beramal
    2. Hindari nilai yang mengarah pada keegoan, konsumtif, materialistik, kompetisi tidak sehat, dan ‘serba gengsi’
  • Peningkatan keeratan hubungan antara anggota keluarga (intra household bonding) dan antara keluarga besar (inter household bonding), dan antar tetangga dan masyarakat (community bonding).

Al Qur’an mengakui adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, namun perbedaan tersebut bukanlah pembedaan yang menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung misi pokok Al Qur’an yaitu terciptanya hubungan harmonis yang didasari rasa kasih sayang di lingkungan keluarga.

Al Qur’an mengakui adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, namun perbedaan tersebut bukanlah pembedaan yang menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mendukung misi pokok Al Qur’an yaitu terciptanya hubungan harmonis yang didasari rasa kasih sayang di lingkungan keluarga•

Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sama dengan laki-laki, yang dapat dilihat dari 3 hal:
1. Hakikat kemanusiaan seperti waris (QS 4:11), Persaksian (QS2:82), Aqiqah (QS 9:21), dll
2. Islam mengajarkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mendapat pahala yang sama atas amal sholeh yang dibuatnya dan juga azab yang sama atas pelanggaran yang dibuatnya
3. Islam tidak mentolerir adanya perbedaan dan perlakuan tidak adil antar umat manusia (QS 33:35)

BERLAKU ADIL PADA ANAK

Bersikap adil itu dapat mencegah kedengkian dan kebencian. Ada sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Anas bahwa seorang laki-laki sedang bertamu kepada Nabi kemudian anak laki-lakinya datang. Ia langsung mencium anak laki-lakinya itu dan mendudukkannya diatas pahanya. Tidak lama kemudian, anak perempuannya datang dan ia menyuruhnya duduk dihadapannya. Melihat hal tersebut Nabi bersabda “ Mengapa engkau tidak memperlakukan mereka secara adil?” Jadi, berlaku adil diantara anak-anak itu merupakan suatu keharusan bahkan dalam persoalan memberikan ciuman.

  • Bertakwalah kalian kepada Allah dan berlaku adillah kalian terhadap anak-anak kalian (Sabda Nabi)
  • Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) (An-Nisa : 34)
  • Tidak ada sesuatu yang dapat diambil manfaatnya oleh seorang mukmin (setelah takwa kepada Allah yang lebih baik baginya) yaitu seorang istri yang saleh. Jika suami memerintahnya, dia menaatinya. Jika suami memandangnya dia membahagiakannya. Jika suami bersumpah atas dirinya, dia memenuhi sumpahnya. Jika suaminya pergi, dia menjaga dengan tulus ikhlas kehormatan dirinya dan harta suaminya (HR. Ibnu Majah)
  • Oleh karena itu, penting sekali, orang tua memahami PENGASUHAN YANG RESPONSIF GENDER tapi juga tidak melupakan peran penting antara laki-laki dan perempuan yang telah Allah atur dalam Islam. Sehingga baik anak laki-laki maupun perempuan kelak tidak terjebak dalam faham feminis ataupun sekuler yang justru melanggar perintah Allah. Inshaallah.