πŸƒπŸŒΉπŸŒΎ *Pendidikan antara Menumbuhkan Fitrah (Tarbiyah), Menanamkan Adab (Ta’dib) dan Mengajarkan Kitab dan Hikmah (Ta’lim)* πŸŒΎπŸŒΉπŸƒ

_By: Ustadz Harry Santosa_
————————-

Banyak orangtua sering mengatakan bahwa anaknya salah gaul, padahal tidak pernah ada anak salah gaul kecuali dimulai dari salah asuh. Kita sibuk menyalahkan dunia di luar sana, padahal masalah bukan ada di luar sana namun di dalam rumah rumah kita sendiri.

Banyak orangtua sibuk bikin benteng dan bendungan untuk mensterilisasi anak anaknya, padahal setinggi apapun benteng dan bendungan, suatu saat kan roboh juga diterjang bah kezhaliman. Seharusnya kita mendidik ananda untuk mampu berenang bahkan membuat bahteranya sendiri agar ia tak dilibas zaman.

Fitrah yang tumbuh paripurna itu seperti ikan di lautan, bertahun tahun berenang di lautan tetapi tak menjadi asin tubuhnya. Tetapi fitrah yang tak tumbuh itu ibarat ikan mati, hanya butuh beberapa hari direndam di air garam untuk menjadi ikan asin.

Banyak orangtua sibuk memaksakan adab pada anak sejak dini, sebelum fitrahnya tumbuh kokoh. Padahal adab itu mudah ditanamkan jika cinta dan fitrah sudah tumbuh indah merekah. Kita sering memandang adab sebagai etika, disiplin, dan checklist atau SoP, lalu kita benturkan dengan fitrah perkembangan anak, walhasil anak yang terlalu cepat diadabkan, kelak akan mudah menjadi tak beradab atau biadab.

Banyak orangtua menganggap sama antara pendidikan (tarbiyah), penanaman adab (ta’dib), pengajaran (ta’lim) dan persekolahan (tadris). Sesungguhnya pendidikan atau tarbiyah itu bicara membangkitkan, merawat, menumbuhkan apa apa yang Allah sudah instal dalam diri manusia, yaitu fitrah. Maka dalam makna ini, pendidikan disebut tarbiyah atau merawat dan menumbuhkan. Tanpa fitrah yang tumbuh paripurna, maka penanaman dan pengajaran juga persekolahan hanya jam jam melelahkan dan membosankan.

Para Ulama mengatakan bahwa fitrah adalah konstitusi atau karakter yang dipersiapkan untuk menerima syariah atau Kitabullah. Bahkan Ibnu Taimiyah menyebut bahwa fitrah yang diinstal dalam diri manusia itu sebagai fitrah algharizah, sementara Kitabullah adalah fitrah yang diturunkan atau fitrah almunazalah. Apa maknanya?

Manusia akan mudah menerima Kitabullah ketika fitrahnya tumbuh indah paripurna. Rasulullah SAW adalah manusia yang sepanjang hidupnya tak pernah belajar agama apapun, tak pernah berguru pada Ulama manapun, namun ketika usia 40 tahun, ketika wahyu diturunkan Beliau menerima dengan mudah. Accepted. Mengapa? Satu satunya jawaban adalah karena fitrah beliau terjaga dan tumbuh paripurna.

Hari hari ini para orangtua dan perancang pendidikan begitu panik dan cemas, tidak rileks dan kurang optimis, mereka ingin anaknya segera berstatus “anak shalih” lalu langsung meloncat kepada penanaman Adab sebagai disiplin dan pengajaran Ilmu atau Kitab, tanpa mempedulikan lebih dulu tumbuhnya fitrah yang telah Allah instal sebagai kesiapan menerima Kitabullah.

Padahal Allah SWT memberi contoh perihal fitrah sebelum adab. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anaknya sholat pada usia 7 tahun, bukan sejak dini. Apa maknanya? Sholat adalah Adab tertinggi kepada Allah, dan baru diperintahkan sejak usia 7 tahun, agar ada masa dari usia 0-6 tahun untuk mengokohkan benih fitrah ananda lebih dulu. Pesannya jelas, Allah Maha Tahu Fitrah manusia, jangan tanamkan adab sebelum fitrah tumbuh kuat dan kokoh.

Karena kita tergesa, walhasil kita dihadapkan pada generasi yang berkepribadian ganda. Bertitel dan bergelar namun rajin manipulatif, beragama atau memiliki ilmu agama namun tak beraqidah, rajin haji juga rajin korupsi, rajin infak zakat sedekah juga rajin menjarah dstnya. Para ustadz dan ustadzah di pondok mengeluhkan santri mereka yang “libur syariah” jika pulang ke rumah, hafal alQuran tetapi terpapar narkoba, pornografi dan LGBT dsbnya.

Dalam hari hari kedepan, jika pemahaman ini tak segera diperbaiki, permasalahan generasi masa depan akan menjadi beban bagi peradaban. Alih alih melahirkan generasi peradaban yang punya peran peradaban terbaik dengan semulia adab, kita malah melahirkan robot robot shalih dan pintar namun rentan digilas zaman karena akar benih fitrahnya tak tumbuh paripurna.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

⭐ *Diskusi santai dan berbagi, kader Nasional bersama SME Utama HEbAT Community* ⭐
————————-

Secara umum, ketika anak berperilaku buruk, kita orangtua seringnya langsung berpikir “bagaimana memperbaiki perilakunya?. Nasehat, sanksi atau hukuman?” Pernahkah terlintas dalam pikiran kita: “Apakah sesungguhnya yang mereka butuhkan? Apa mereka sudah mendapat cukup cinta dan kasih sayang dari kita orangtuanya?”. *Sebab, perilaku buruk biasanya adalah puncak dari rasa frustrasi anak ketika ia merasa tidak diperhatikan dan tidak dicintai.*

Mari kita mulai dari
MENGAPA 😊

Ketika nafsu bergejolak terlampau dini, sedangkan akal belum mampu menjalankan fungsi kendali, *kita tidak bisa menyalahkan gagalnya pendidikan akhlaq.*

Sehebat apapun akhlaq diajarkan dan benteng dikokohkan, toh akan jebol juga. Selama ini kita terlalu terfokus pada konsep “membentengi”. Itu membuat pendidikan Islam kita jadi sangat defensif.

Kenapa kita tidak mulai berpikir tentang “mengatasi”, agar pendidikan itu menjadi progresif. Jangan lupa : amar ma’ruf adalah nahi munkar terbaik.

*Namun, selama ayah tak terlibat dalam pendidikan anak-anaknya, pendidikan akan cenderung defensif dan normatif.* Karena *Sang Progresif* itu adalah AYAH

Apakah “mengatasi” artinya kita memposisikan diri untuk melawan, yang artinya kita berdaya? Siap mengerahkan segala daya upaya untuk melawan atau kita sebagai solution maker, tidak hanya main bertahan…?

Membentengi artinya kita adalah obyek. Mengatasi artinya kita adalah subyek. Membentengi artinya kita not do something wrong. Mengatasi artinya kita do something right. Membentengi artinya kita kebal penyakit. Mengatasi artinya kita basmi penyakit.

Kita tidak boleh sibuk membangun benteng dan bendungan, tetapi aktif mengajarkan berenang dan membuat perahu.

Konsep “mengatasi masalah” dengan design thinking itu sudah sangat baik, karena meliputi proses why (menyerap) sebelum how (mengatasi). Do the right thing (emphatize), sebelum do the thing right (create n do the solution). Dzikir (membeningkan hati dan menajamkan intuisi) sebelum fikir (membiakkan idea)

Kalau kita ingin menghindarkan anak dari perilaku buruk, dorong mereka untuk melakukan perbuatan baik, bukan menjauhkannya dari keburukan. Itu namanya bikin perahu dan belajar berenang, bukan bikin benteng dan bendungan

“Katakanlah : telah datang kebenaran dan telah tersingkir keburukan” (QS 17 : 81)

“Ikutilah keburukan dengan kebaikan, agar (kebaikan itu) menghapusnya” (Al-Hadits)

Menyibukkan anak dengan kebaikan bukan panik mengcounter keburukan, fokus pada cahaya anak bukan kegelapan. *Itulah perlunya membersamai ananda sejak dini dengan beragam kegiatan positif, sehingga memahami pola fitrah ananda sekaligus menajamkan naluri, intuisi, firasat untuk menguatkan fitrah keayahbundaan*. Sehingga tidak mati gaya untuk merancang kegiatan kegiatan yang positif dan produktif sampai anak aqilbaligh.

——————————————–
*_Diskusi dilatari dari video fenomena perilaku anak anak pre Aqil Baligh (anak SD) yang tidak patut_ πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ
*_Beberapa kata/kalimat mengalami penyesuaian, insya Allah tidak mengurangi esensi_

πŸ”ΈSenin, 14 Mei 2018
WAG Kader Utama Nasional (KUN)