Bullying

Hasil diskusi kelompok 7 tentang bullying oleh mba Tutut, Galuh, Henny, dan Indah

1. APA ITU BULLYING, JENIS2 NYA & PENYEBABNYA

🎀Arti bullying :

Apapun tindakan kekerasan seseorang/kelompok jika sudah membuat yang diganggu ketakutan, maka perilaku itu adalah bullying” (Ratna Juwita, Psikolog Sosial UI – Femina, Mei 2006)

🎀Jenis-jenis bullying :

a. Fisik

Memiting, mencakar, meludahi, menonjok, memukul, mendorong, mencubit, menjambak, memalak, mencuri, menyembunyikan barang, meminta bekal dengan paksa, pelecehal seksual

b. Verbal

Dengan kata-kata, eskpresi wajah dan gestur tubuh yang sangat melukai target dimana orang direndahkan martabatnya dan diabaikan. Merendahkan. Mengejek. Julukan nama. Celaan. Fitnah. Kritik tajam Menghina. Memaki. Mengatai Kasak kusuk. Gosip Ajakan seksual.

c. Relational

Diabaikan. Disisihkan. Dikucilkan. Memandang agresif melirik tajam helaan nafas bahu bergidik cibiran tawa mengejek, bahasa tubuh yg kasar Menolak bicara Menyebarkan kebohongan

🎀Penyebab bullying :

a. Hubungan Keluarga

Seperti apa pola perilaku dan nilai yang dianut oleh sebuah keluarga, apakah perilaku yang sopan, saling menghargai, menghirmati dan memahami satu dengan yang lainnya, atau perilaku suka memaki, membanding-bandingkan serta kekerasan jika tidak memperoleh apa yang diinginkan? Nah seperti itulah nilai yang tertanam dalam benak anak-anak dan diberlakukan menjadi nilai yang dianutnya dan diekspresikannya, baik di dalam maupun di luar rumah. Anak yang biasa diperlakukan kasar, tidak didengar pendapatnya atau diabaikan, akan berpikiran demikianlah perilaku yang baik dan benar, maka ia akan menirunya untuk dipraktekkan pada teman atau bahkan pada orangtuanya langsung

b. Teman Sebaya

Berkenaan dengan teman sebaya dan lingkungan sosial antara lain :

– Kecemasan dan oerasaan inferior dari seorang pelaku

Berdasarkan obrolan dengan seorang guru SD yang beberapa kali menangani perilaku bullying, hamir seluruh pelaku bullying perasaannya hampa, dalam artian dia relatif kurang memahami emosi yang ada dalam diri dan sulit mengekspresikannya karena tidak diajarka di rumah.

– Persaingan yang tidak realistis

Perasaan dendam yang muncul karena permusuhan atau juga karena pelakunya pernah menjadi korban sebelumnya

c. Pengaruh Media

Survey yang dilakukan Kompas (Saripah, 2006) memperlihatkan bahwa 56,9 % anak-anak meniru adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka menirukan gerakan (64%) dan kata-kata (43%)

*2. BULLYING TERKAIT DENGAN GENDER DAN SEKSUALITAS*

Setelah kita mengetahui apa itu bullying, jenis2nya dan penyebabnya, kita pasti sudah terbayang betapa besarnya tantangan bullying yang bisa jadi (naudzubillah) dihadapi anak-anak kita di tengah kelompok pertemanannya.

Dengan fitrah seksualitas yang sudah banyak mak2 jelaskan (di presentasi2 sebelumnya) urgensinya untuk kita bangkitkan,

apakah itu menjadi salah satu faktor pencegah dialaminya bullying oleh anak-anak kita?

Jawabannya bisa iya dan tidak.

Berikut akan kami jelaskan untuk jawaban “tidak” terlebih dahulu

Bullying adalah sesuatu yang akan sulit untuk kita cegah untuk terjadi di pergaulan anak-anak dengan berbagai latar belakang dan tipe keluarga. Kalaupun bukan anak-anak kita yang membully temannya, paling tidak dia pasti pernah menyaksikan kejadian bullying dalam pertemanannya. Sebagai orang tua kita perlu waspada jika anak2 kita mengalami tanda2 sedang menghadapi bullying dengan mencermati apa saja sih karakteristik bullying, yang ternyata berbeda diantara pertemanan anak laki-laki dan perempuan.

Berikut disampaikan infografis perbedaan bullying antara pertemanan anak laki-laki dan perempuan

_1. Bullying di lingkungan anak laki-laki_

Anak laki-laki lebih banyak menghadapi bullying secara fisik dan impulsive dibandingkan anak perempuan, sehingga kejadiannya lebih mudah terdeteksi, dan konsekuensi yang bisa kasat mata . Sebagai dampaknya, mereka cenderung menyerang orang ketika mereka mengidentifikasi seorang anak laki-laki yang lemah. Dalam grup/geng pertemanan, mereka selalu mencari penerimaan, dan akan melakukan apapun (termasuk bullying) untuk mempertahankan posisi mereka di dalam grup tersebut.

Di lain pihak, pelaku bully laki-laki memang bangga menyandang peran pelaku perkelahian, oleh karena itu, jika ada kesempatan, mereka suka melakukannya secara langsung.

Secara umum, anak laki-laki lebih bisa menerima perilaku bully yang ada disekelilingnya daripada anak perempuan. Dalam artian, bahwa anak laki-laki masih bisa menyukai anak perempuan yang melakukan bullying terhadap orang lain serta berteman dengan mereka para pelaku bullying. Bullying pada anak laki-laki juga cenderung lebih cepat selesai, sedangkan anak perempuan potensial untuk menyimpan dendam jangka panjang.

_2. Bullying di lingkungan anak perempuan_

Anak perempuan cenderung melakukan bullying secara verbal dan relasional, seperti memaki, mengucilkan, menyebar rumor, menyakiti hati teman, perilaku khas dari *mean girl* (seseorang yang membentuk/anggota geng, menaikkan status sosial, dan melakukan agresi untuk melukai dan mengontrol orang lain). Bullying yang dilakukan mean girl ini sayangnya sangat sering terjadi dan sulit teridentifikasi oleh orang tua maupun guru.

Anak perempuan melakukan penyerangan dari belakang, pengucilan, penyebaran rumor dan memanipulasi temannya untuk menciptakan penderitaan secara psikologi kepada targetnya. Hal ini menyebabkan targetnya seringkali merasa terancam dan marah tanpa mengetahui dengan jelas mengapa mereka menjadi target.

Dan saat ini sosial media memberikan sarana khusus untuk mean girl ini dalam melakukan bullying seperti bergossip di belakang, komen yang menyakitkan. Anak perempuan bisa terluka jika ada foto sebuah event dimana mereka tidak diikutsertakan, atau tidak diinfokan sebelumnya. Sangat disayangkan orang tua biasanya memiliki simpati yang kurang ke target bullying semacam ini, atau berpikir bahwa perilaku mean girl adalah normal.

Tetapi penelitian menunjukkan bahwa efek perilaku bullying semacam ini bisa jangka panjang, bahkan untuk mean girl sekalipun seperti ketidakbahagiaan jangka panjang, tidak pernah merasa puas terhadap diri sendiri dan orang lain, dll

Untuk mengidentifikasi perilaku mean girl , kita perlu amati bagaimana seorang anak berinteraksi terhadap anak lainnya dan perhatikan apa yang mereka rasakan

Berikut adalah karakteristik perilaku mean girl

*Mean Girl*

🎀 Selalu diliputi rasa iri, menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Perilakunya bisa sampai menyebar gosip, memboikot sebuah acara, mengambil aksi untuk menghancurkan hubungan pertemanan atau nilai orang lain

🎀 Berfokus terhadap penampilan secara berlebihan, seperti rambut, pakaian, wajah, make up dan berat badan.

🎀 Berfokus terhadap status, seringkali ia terobsesi terhadap apa yang orang pikirkan atasnya, dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi populer, sehingga terkadang memanfaatkan orang untuk meraihnya

🎀 Memiliki permasalahan dalam pertemanan, biasanya sering terjerumus dalam situasi teman makan teman

🎀 Tergabung dalam sebuah geng

🎀 Mempunyai masalah dengan kontrol.

Mereka sangat ingin mengontrol orang, dan anehnya anggotanya sangat suka dikontrol. Mereka akan rela melakukan apa saja untuk mempertahankan statusnya di dalam grup termasuk bullying terhadap orang lain

Mengerikan yah Mak. Sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian pergaulan kita ternyata bisa memberi dampak, karena kebiasaan yang menjadi karakter akan melekat sampai dewasa, tidak hanya bagi orang yang membully tapi juga orang yang terbiasa membully

Sekarang kita beralih ke jawaban “iya” bahwa fitrah seksualitas yg tidak dibangkitkan bisa mempengaruhi timbulnya bullying. Hal ini terutama terjadi di pergaulan anak laki-laki, biasanya terkait ‘boy code’ yang tidak terpenuhi. ‘Boy code’ adalah seperangkat perilaku yang dan aturan yang diharapkan sebuah kelompok masyarakat untuk ada pada seorang laki-laki seperti independen, tangguh, maskulin, dominan, atletik, powerful, dll.

Boy code yang terkait berpotensi menimbulkan bullying terutama ada pada karakter tangguh dan bisa mengontrol. Ketika seorang anak laki-laki tidak bisa memenuhi harapan untuk mempunyai sifat itu, maka dia merasa malu, marah bahkan membenci keadaannya sendiri. Ini dapat memberikan potensi terjadinya bullying. Selain itu, boy code yang mengharuskan lelaki tampak tangguh, jika pressure nya terlalu tinggi, terkadang menyebabkan mereka menyangkal emosi/perasaannya sehingga bisa menyebabkan emotional intelligence dan empati yang tidak terbangun dengan baik. Akhirnya potensi untuk melakukan bullying pun timbul karena mereka tidak terbiasa melihat permasalahan dari perspektive orang lain

Berikut infografis untuk lebih memudahkan memahami alurnya

In the end, tugas kitalah sebagai orang tua untuk mendampingi anak2 kita agar fitrah seksual dapat tumbuh sesuai yang seharusnya sehingga harapannya dapat meminimalisir potensi permasalahan yang terjadi di lingkungan pergaulannya

Bismillah.. Selanjutnya saya akan mencoba memaparkan beberapa alternatif solusi untuk pencegahan (ketika bullying belum dilakukan) juga penanganan bullying. Berdasarkan literatur yang kami temukan, penanganan bullying baik untuk laki2 atau perempuan hampir sama oleh karena itu tidak dipisahkan.

1. Ajari anak memahami apa itu bullying dan bagaimana bentuknya dalam bahasa yang sederhana. Seperti yang telah dipaparkan oleh presenter pertama, bullying dapat terjadi dengan beberapa cara, mulai dari kekerasan fisik hingga dikucilkan yang dapat membuat anak merasa minder. Oleh karena itu, penting untuk anak mengetahui apa sih bullying itu dan apa saja yang merupakan bentuk bullying. Hal tersebut bisa dilakukan dengan dialog sederhana bersama anak (sebagai contoh, untuk anak saya yang berusia 3 tahun kami suka berbicara santai dengan memanfaatkan momen disekitarnya sebagai bahan pembicaraan “ka. Lihat tidak tadi X bilang kalau Y gendut? Itu ngga boleh loh ka.. Soalnya nanti Y nya bisa sedih..kan kalau sedih ngga enak ya ka..” sambil mengajarkannya perihal beragam perasaan/emosi. Selain itu bisa juga dengan bermain peran atau menonton video edukasi bersama dengan anak sambil dijelaskan seperti yang akan dipaparkan oleh presenter selanjutnya.

2. Sampaikan pada anak kita jika dia mengalami beberapa situasi, seperti misal jika ia menjadi korban atau target bullying. Saat ada seseorang atau kawanan orang yang mulai berbicara “dengan nada tinggi” dengannya, ajarkan agar ia tetap tenang, percaya diri dan tatap mata pelakunya. Harapannya agar pelaku tahu bahwa anak anda bukanlah orang yang lemah.

Masih jika si kecil menjadi korban bullying, hal yang dapat dilakukan adalah ajari ia agar lapor pada orang yang lebih dewasa yang ada disana. Bisa pada orang tua, guru maupun kakak atau siapapun yang lebih besar dari pelaku. Setelah itu ajari ia agar menceritakan apa yang ia alami pada temannya. Tetap berpikir tenang, dan tinggalkan tempat kejadian.

Sedangkan jika ia menjadi pihak ketiga alias ia melihat kejadian bullying, Ajari ia agar tidak menertawakan korban, karena hal tersebut akan menambah “kuat” sang pelaku. Ajari agar ia pergi lapor pada orang tua atau guru, bukan malah gabung dengan pelaku. Yang lebih baik adalah ajarkan anak agar membela dan mendampingi korban. Dan jangan biarkan ia diam, karena dengan diam berarti ia setuju adanya pembullyan di tempat tersebut.

Tetapi,, Bagaimana jika justru anak kita yang melakukan tindakan bullying? Perbanyak ajak dialog dengan anak kita. Posisikan mata kita sejajar dengan anak dan ajak bicara baik-baik pertanyaan-pertanyaan seperti pada gambar di gambar di atas

3. Tumbuhkan citra diri positif pada anak. Hal yang perlu dilakukan adalah dialog dengan anak. Beri pujian positif dan bangun rasa percaya dirinya. Artikel mengenai kaidah memberikan pujian dalam https://www.ayahbunda.co.id/balita-tips/trik-memberi-anak-pujian bisa menjadi referensi. Selain itu, biasakan anak berani dengan menemani orang tua menghadiri majelis ilmu atau pertemuan khalayak ramai, mengunjungi kawan-kawan, serta memotivasinya agar berani berbicara di depan orang dewasa juga merupakan cara untuk menimbulkan keberanian pada dirinya.

Terakhir no 4. Ajari anak cara berteman dan bersosialisasi. Disadur dari http://keluargakita.com/5-keterampilan-sosialisasi-anak-agar-terhindar-dari-risakbullying/ Keterampilan sosialisasi untuk mencegah terjadinya bullying pada anak dapat dilatih dengan cara berikut

🦋Mengenalkan dan menceritakan diri dalam porsi yang tepat

Ketika anak masuk dalam lingkungan baru, ajarkan anak untuk dapat mengenalkan dan menceritakan dirinya dengan percaya diri, namun tidak berlebihan.  Bersikap ramah dan bersalaman dengan benar, akan memberi kesan pertama yang positif tentang diri anak.

🦋Tersenyum dan menatap mata saat bertemu dan berbicara

Bersikap ramah sekaligus menunjukkan kesan percaya diri dapat ditunjukkan dengan tersenyum dan melakukan kontak mata dengan lawan bicara. Ingatkan anak bahwa orang lain akan merasa dihargai dan memberi perhatian lebih ketika kita juga menunjukkan hal yang sama.

🦋Mendengarkan

Teman interaksi yang menyenangkan punya kemampuan mendengar yang baik. Anak belajar hal ini terutama dari orangtuanya yang hadir sepenuh hati dan sepenuh tubuh saat ia berbicara. Kadang anak kurang sabar menunggu giliran berbicara, atau tidak menggunakan bahasa tubuh yang tepat (menatap mata, mencondongkan tubuh, dan lainnya) saat bercakap. Potret atau rekam anak saat berinteraksi, berikan umpan balik dengan santai

🦋Menanggapi canda dan menggunakan humor

Canda dan humor dapat dijadikan alat untuk mencegah bullying.  Ajari anak menggunakan canda dan humor untuk cuek terhadap segala bentuk provokasi, bersikap tenang ketika terjadi konfrontasi dan belajar untuk berkata “tidak” terhadap permintaan teman yang tidak baik.

🦋Menumbuhkan empati

Mengenalkan empati dapat dilakukan dengan menamakan perasaan, memberi contoh bagaimana membantu orang lain, berperilaku baik, dan menghargai perbedaan antara teman dan anggota keluarga lain. Dengan berempati, anak akan memahami bahwa bullying dapat menyakiti pihak lain.

Sekian presentasi dari saya.. terima kasih atas perhatiannya 🙂 selanjutnya akan dilanjutkan oleh @6281297481025