Agar Kecenderungan Seksual Anak Terarah

Assalamu’alaikuum mak-mak kece.

Perkenalkan kami dari *kelompok 6*, beranggotakan Mak Evi, Mak Febi, dan Mak Hani akan membahas tema tentang *Agar Kecenderungan Seksual Anak Terarah*. Hal ini berkaitan dengan kasus LGBT yang saat ini semakin marak terjadi.

Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan bisa bermanfaat dan presentasi+diskusinya berjalan lancar dan diberkahi Allah.

Selamat menyimak 😉

*Agar Kecenderungan Seksual Anak Terarah*

_Kecenderungan seksual_ diciptakan Allah swt pada diri manusia *agar menjadi media kelangsungan dan reproduksi bagi seluruh makhluk*, termasuk di antaranya manusia.

_Agar kecenderungan seksual dalam diri anak mengalir dengan tenang tanpa gangguan eksternal_ yang dapat menyebabkannya melenceng dari perilaku yang lurus, *Islam menjaga anak-anak dengan memberinya perintah dan larangan*.

Hal itu dilakukan *agar kecenderungan seksualnya menjadi terarah*, sehingga tetap _menjadi pribadi yang proporsional dan suci tanpa penyelewengan_.

Namun meski ada perintah dan larangan dalam Islam, ternyata _dari dulu hingga saat ini masih ada penyimpangan seksual yang terjadi_. Kita bisa ambil pelajaran dari *kaum Nabi Luth* yang dikisahkan dalam *QS Al-A’raaf ayat 80-81*.

Maksud dari *penyimpangan seksual* di sini adalah _orang yang berpikir, bersikap, dan bertindak tidak sesuai dengan gendernya_.

Padahal, berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan gendernya merupakan *fitrah seksualitas* manusia.

Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan karena *penyimpangan seksual tidak sesuai dengan ajaran agama Islam* dan juga _memberikan dampak negatif kepada keberlangsungan bangsa dan negara Indonesia_.

Berikut beberapa *fakta tentang kasus penyimpangan seksual*, LGBT, di Indonesia :

1. Jumlah *populasi LGBT* di Indonesia adalah *kelima terbesar di dunia* setelah Cina, India, Eropa, dan Amerika. (Menurut survey CIA tahun 2015)

2. Setidaknya ada *1.095.970* gay di Indonesia berdasarkan data _Kemenkes tahun 2012_. Jumlah ini *naik 37%* dari tahun 2009.

3. Sekitar *3% penduduk Indonesia adalah pelaku LGBT*

4. Terjadi *pertumbuhan 10% gay* di Indonesia setiap tahunnya.

*Bahaya penyimpangan seksual*, LGBT, :

1. LGBT tidak hanya *menyerang dan menyasar remaja* dan orang dewasa, tetapi juga *menyerang anak* di bawah umur dan anak di masa pertumbuhan.

2. Bisa membuat *dampak trauma* pada orang normal yang menjadi korban dan _korban berpeluang menjadi “penerus” LGBT_.

3. Bertambahnya peluang *penyebaran penyakit Infeksi Menular Seks*.

4. *Depopulasi* karena tidak mungkin pasangan sesama jenis bisa menghasilkan keturunan.

Karena dampak yang timbulkan dari kasus penyimpangan seksual sangatlah berbahaya bagi keberlangsungan bangsa dan negara, maka kita perlu tau, kira-kira apa sih yang menjadi penyebab terjadinya penyimpangan seksual.

Penyebab penyimpangan seksual akan disampaikan oleh Mak Febi.

Silahkan mak Febi.

Menurut Elly Risman, 7 hal dalam pengasuhan yang membuat anak melakukan penyimpangan perilaku sosial:

Jika hal-hal tersebut dilakukan dalam pola pengasuhan, maka anak-anak akan mengalami kebosanan, kesepian, mudah marah & takut, stres serta kelelahandalam hidupnya. Anak-anak seperti inilah,yang mengalami kekosongan jiwa, yang menjadi sasaran empuk ponografi, narkoba hingga penyimpangan perilaku seksual.

selanjutnya saya akan menyampaikan cara pencegahan penyimpangan seksual. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan seksual, sejatinya diperlukan peran dari banyak pihak, seperti keluarga, pemerintah (dalam pengaturan UU), masyarakat dan juga media massa (yang sering menjadi wadah penyebaran). Namun, kita akan membahas lebih pada peran keluarga yang merupakan bagian terkecil dari suatu masyarakat.
Bagian ini kami bagi menjadi 4 yakni :
1. Penguatan Bonding Keluarga
2. Penutupan Celah Pornografi melalui kontrol gadget
3. Penerapan Kaidah-kaidah Rasulullah
4. Pembekalan Perlindungan diri

*Pencegahan dengan cara Penguatan Bonding dalam Keluarga*

📌Penyimpangan seksual terjadi ketika seseorang tidak menyadari fitrah seksualitasnya. Oleh karenanya, membangkitkan fitrah seksualitas menjadi hal yang penting dilakukan oleh sebuah keluarga. Cara yang bisa dilakukan antara lain pada usia 3-6 tahun, anak sebaiknya dekat dengan kedua orang tua (ayah dan ibu), melakukan banyak aktivitas bersama-sama, dan di masa inilah anak harus sudah bisa mengetahui saya laki-laki/perempuan. Lalu, setelah usia 7-10 tahun, anak didekatkan dg orang tua yang sama gendernya lalu bersama-sama melakukan aktivitas yang sesuai gendernya masing-masing.

📌LGBT banyak mengincar orang-orang yang latar belakang keluarganya berantakan atau orang tua yang tidak peduli dengan keseharian anaknya. Oleh karenanya diperlukan sosok orang tua yang mau lebih peduli terhadap anak-anaknya. Perbaiki komunikasi dengan anak, dan cobalah untuk lebih mengerti perasaannya.

📌Peran ayah dan ibu harus seimbang, ayah tidak boleh berlepas tangan dalam pengasuhan. Menurut psikolog Elly Risman (Nakita,2017) ,anak lelaki yang jarang beraktivitas dengan sang ayah dan lebih sering berinteraksi dengan ibu, berpotensi menjadi lebih feminin. Contohnya ia lebih sering menemani ibu ke salon dibandingkan mengutak-atik sepeda bersama ayah.
Anak perempuan yang kurang kasih sayang ayah akan membuatnya lebih nyaman jika mendapat kasih sayang dari teman atau sosok lain. Jika sosok tersebut memiliki masalah seksual, dapat ditebak apa yang akan terjadi pada anak.
📌Jangan tampakkan kekerasan/pertengkaran terhadap pasangan di hadapan anak. Menurut psikolog Lusi Triyani (Republika, 2013), bila ibu melakukan kekerasan terhadap ayah, maka harga diri ayah akan turun. Anak laki-laki akan cenderung tidak menyukai sosok perempuan, dan anak perempuan akan mencari sosok yg lebih lembut dari ibunya. Jika kekerasan didominasi lelaki (ayah), maka anak perempuan menjadi enggan menikah. Padahal kemampuan seksual terus tumbuh, dan jika saat itu ia didekati kaum sesama jenis yg membuat nyaman, ia akan terjerumus.

🗒Kedekatan dengan orang tua akan menjadi satu benteng bagi anak. Sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf, saat digoda oleh istri Al Aziz, beliau dapat menghindari maksiat karena oleh Allah ditampakkan wajah ayahnya (Nabi Yakub) yang menegurnya jika melakukan perbuatan maksiat. Oleh karenanya, meskipun kelak anak-anak terpisah dari orang tua, jika kedekatan telah terbangun, segala macam nasihat dan arahan akan menjadi benteng agar anak tak terjerumus pada penyimpangan seksual.🗒

*Pencegahan dengan Menutup Celah Pornografi dengan Kontrol Gadget yang digunakan*

Penyebaran LGBT identik dengan sesuatu yg bersifat pornografi. Seseorang bisa terjangkit karena penyalahgunaan teknologi atau gadget. LGBT bahkan bisa menyusup dalam media anak-anak seperti kartun (contohnya Spongebob dan Patrick yang diceritakan sebagai hubungan homoseksual. Atau pada film “Finding Dory”, di salah satu adegan terlihat ada pasangan perempuan yang membawa anak (meskipun ini masih kontroversi). Berikut beberapa cara untuk membatasi konten pada gadget dilansir dari de-tekno.com :
📱Aplikasi Youtube
1. Buka aplikasi, klik sign in( ikon gambar orang) untuk masuk ke dalam akun
2. Setelah masuk, klik menu dengan ikon tiga titik vertikal di pojok kanan atas
3. Klik settings, klik general
4. Di bagian restricted mode, klik ON

📱Setting search engine google
1. Geser halaman search engine google ke paling bawah
2. klik search setting, di bagian safesearch filter, klik “Filter explicit results”
3. Geser halaman ke bawah, klik save.

Untuk pembatasan melalui laptop, bisa dilihat langsung ke alamat : https://de-tekno.com/2016/01/settings-youtube-dan-search-engine-agar-aman-buat-anak-anak-kita/.

Tetap diperlukan pengawasan mata orang tua secara manual. Posisi anak dalam melihat gadget sebaiknya tidak tertutup sehingga orang tua masih bisa melihat apa yang dilihat oleh anak.

*Pencegahan dengan Mengikuti kaidah-kaidah dan dasar-dasar yg dicanangkan oleh Rasulullah SAW*

Dari buku “Prophetic Parenting” karya DR Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, dalam bab Mengarahkan kecenderungan seksual anak, terdapat kaidah-kaidah yang dicanangkan Rasulullah SAW, antara lain :

📌Melatih anak meminta izin ketika masuk rumah atau kamar orang tua yakni pada waktu sebelum sembahyang subuh, ketika tengah hari dan sesudah isya (QS An Nur 58-59)
Dengan dasar ini pula orang tua wajib menutup aurat mereka setiap saat di hadapan anak untuk membantunya mengalirkan naluri seksual secara alami dan tak terburu-buru.

📌Membiasakan anak menundukkan pandangan dan menutup aurat
Wajib membiasakan anak untuk menundukkan pandangan agar naluri seksual tidak matang sebelum waktunya. Adapun menutup aurat bisa dibiasakan sejak anak belajar solat.

📌Memisahkan tempat tidur anak saat menginjak usia 10 tahun
Maksudnya dua anak tidak tidur dalam satu selimut dan tidak satu tempat tidur, meskipun sesama jenis. Jika dalam satu tempat tidur tapi selimut terpisah, dibolehkan tapi semakin jauh semakin baik.

📌Melatih anak tidur miring ke kanan
Apabila anak tidur tengkurap, akan menyebabkan sering terjadinya gesekan pada organ reproduksi yang dpt membangunkan syahwatnya. Jika orang tua mendapati anak tidur tengkurap, maka bisa memperbaiki posisinya.

📌Menjauhkan anak dari ikhtilat lawan jenis
Bila anak perempuan terlalu banyak berinteraksi dengan lelaki, bisa menjadikan pola pikir dan sikapnya menjadi kelaki-lakian.

Selanjutnya, dari buku “Mendidik anak laki-laki” karya Adnan Hasan Shalih Baharits, disarankan untuk tidak membiarkan anak-anak bergaul dengan anak-anak yang sudah besar, kecuali terjamin dan meyakini keistiqomahan dan baiknya pendidikan mereka.

Dari beberapa kaidah tersebut, ada penekanan agar naluri seksual tidak tumbuh terlalu cepat. Hal ini dimungkinkan karena saat naluri seksual tumbuh terlalu cepat dan anak belum mencapai periode aqil baligh, maka interaksi yang banyak dilakukan adalah saat sedang bersama teman-temannya yang sesama jenis sehingga bisa terjadi penyimpangan seksual.

*Pencegahan Dengan Pembekalan Perlindungan Diri*
Pelaku LGBT bisa berasal dari mereka yg menjadi korban. Ajarkan anak tentang safety procedure. Berikut beberapa poin yang diambil dari kulwap El Hana Learning Kit oleh Devi Sani Rezki, M.psi. yang menyarikan buku Jane Wagner berjudul “Raising Safe Kids in an Unsafe World”:
📌Ajari anak untuk bisa bilang TIDAK atau TIDAK MAU jika ada hal yang membuat tak nyaman. It is better to bs safe than to be polite.
📌Identifikasi orang asing yakni yg tdk kenal dekat dengan kita. buat list orang asing dan list org yang bisa dipercaya
📌Hati-hati terhadap org yang mencurigakan. Misal : menawarkan permen, mengajak lihat anjing lucu, hati-hati terhadap pihak yg mengaku pihak otoritas spt satpam, polisi, guru
📌Jangan menghiraukan pembicaraan org asing. Langsung lari dan menjauh
📌Ajarkan bahwa tubuh anak adalah miliknya, beritahu tentang good touch dan bad touch, ajarkan anak untuk bilang stop atau tdk boleh jika ada yang hendak memberikan bad touch
📌Percaya pada insting
📌 Mundur 3 langkah.Hal ini dikarenakan child predator sangat cepat beraksi, jika ada jarak yang cukup, anak akan bisa lari.
📌 Teriak. Ajari anak untuk teriak sekencang-kencangnya. Bukan sekedar “Aaaa” tapi jelas “Tolong, saya diculik!” “Ini bukan bapak saya!” dsb.

Safe procedure ini harus disampaikan berulang dan diperlukan latihan agar anak semakin mengerti.

Sebagai penutup, kami dapat simpulkan bahwa penyimpangan orientasi seksual, LGBT, tidak sesuai dari ajaran agama dan memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan bangsa dan negara. Oleh karena itu, orang tua bertanggung jawab agar fitrah seksualitas anak tumbuh secara natural dan tidak tergesa-gesa.