Ilusi Dunia, Dunia Digital, dan Renungan

Belajar di era digital gampang kok, tinggal gugling. Ada wiki. Ada banyak share file, maupun course online kok.

Hah?! Kata siapa? Justru lho ketika kita anggap mudah dan ya begitu begitu aja (kitanya), tanpa upaya meningkatkan diri, ya jelas akan begini-begini terus jadinya. Berasa makin pintar padahal enggak. Berasa paling bisa, padahal enggak. Ini ngerinya era digital. Ilusinya luar biasa.

Screen Shot 2018-07-13 at 10.54.23

Iya jadi yang “smart people smarter” kalau lagi bisa menjaga “curiosity” dan merefleksikan ilmu tersebut. Lha kalau lagi sibuk streaming film atau scrolling feed berjam-jam karena terlena kelamaan liburan, ya jadi yang “dumb people dumber“. Ini bukan tentang membedakan orang smart and dumb, karena sesungguhnya kita bisa menjadi keduanya.

Ilusi juga ada di gemerlapnya media sosial. Padahal banyak pergerakan orang-orang hebat, yang benar-benar memberikan pengaruh positif, justru under radar. Tidak tertangkap kamera dan cantiknya make up. Ya ada sih yang tertangkap, tapi banyakan yang enggak.

Sulit pastinya kan menyadari hal yang lebih mendalam dari itu semua. Semisal menyadari bahwa aktor/artis kokoreaan maupun holiwud itu nasibnya lebih kasian dari kita yang nonton. Sementara kita bisa nonton cantik di rumah dengan pasangan halal, mereka harus beradu akting dengan yang belum halal, berkali-kali. Sementara kita bisa pakai jilbab cantik tertutup kapanpun dimau, mereka harus pakai yang kurang bahan dan semriwing kalau kena AC.

Sama sulitnya menyadari sebuah quote klasik “cantik itu dari dalam, bukan di luar”, di era hasil make up artist super cantik yang bertebaran di instagram. Saya pribadi sekalipun paham, tetap aja seneng mantengin mba mba cantik di instagram. Itu juga penuh jampe-jampe bahwa gak ada gunanya ngikutin, karena mau dipermak atau beli make up semahal apapun kayak apa juga gak akan secantik itu.. Jadi nyadar diri aja, lakukan yang bisa dilakukan. Yaitu scrolling instagram doang, gak berusaha merealisasikan yang dilihat.. Itupun sesekali pasti ada khilafnya ikut-ikut tren dengan alasan supaya kalo di rumah/kerja gak lecek2 amat dilihat sama si ayah dan orang-orang.

Sulit juga untuk ingat bahwa mba-mba cantik bersodara yg jadi socialita paling populer sejagad itu sekalipun cantik and rich, tapi di sisi lain turut serta menurunkan moral para fans nya. Tuker-tuker pasangan, hamil di luar nikah (and they felt it’s okay), foto pakai baju yang lagi-lagi kurang bahan, and most of all, mengubah makna cantik. Ya masa iya udah bener cantik itu alami, cara berpikir digeser jadi cantik karena permak oplas sana sini itu tidak apa-apa.

Saya suka berpikir, kok iya dunia bisa sebegininya ya. Kita tidak lagi mengagumi hasil ciptaan Allah, tapi mengagumi hasil karya dokter operasi plastik. Kita tidak lagi mengagumi hal yang elegan dan sederhana, tapi yang wah dan gemerlap.

Ilusi lainnya adalah menganggap orang lain tau, dekat, dan sama dengan kita. Buat orang yang tinggal di perkotaan dengan akses internet tanpa batas, mudah untuk jadi sosialita dan menjadi (mudah-mudahan bener) orang pintar. Padahal tanpa kita sadari, ragam kesempatan orang untuk belajar itu berbeda. Baik dalam hal belajar secara alami, maupun belajar lebih lanjut dengan bantuan teknologi.

Dengan keadaan demikian pun, banyak dari kita masih merasa lebih bisa dari yang lain. Padahal bukan lebih bisa, melainkan lebih banyak sumber daya yang bisa diakses.

Hal ini banyak menohok saya selama setahun terakhir. Berarti selama ini saya bisa ‘merasa’ pinter karena orang hebat yang sebenarnya di luar sana masih sibuk berjibaku dengan dunia. Boro-boro eksis, boro-boro S2, S3, sekedar surviving the day aja sulit. Lha ya mau cari info sekolah bagaimana, kalau kuota internet aja tak terisi.

Mau ikut seleksi beasiswa aja gimana, lha wong untuk memenuhi syaratnya juga perlu biaya, akomodasi, atau sekedar lingkungan yang mendukung. Lha gimana mau S2 klo lingkungannya memang tidak mendukung atau tidak mengharuskan. Nah orang-orang begini dibandingkan sama si saya yang emang sekitarnya S2 dan S3 semua dan memang dunia kerjanya seperti itu. Ya gak apple to apple. Padahal banyak dari mereka saya yakin kalau dapat kesempatan dan sumber daya yang sama dengan saya, mungkin akan jauh lebih melesat prestasinya.

Menjadi dosen merupakan hal berharga yang saya selalu syukuri. Bukan karena janji pahala profesi guru. Melainkan karena saya diperlihatkan sisi lain dunia yang membuat saya banyak berpikir dan bersyukur. Dahulu saya hanya fokus bagaimana menjadi pintar, yang terpintar, atau yang bisa masuk sekolah/universitas paling pintar.

Baru kali itu saya tersadar, jangan-jangan dulu saya bisa duduk manis kuliah di ITB, lanjut S2, lanjut S3 karena pesaingnya ada yang lagi sakit, atau orang tuanya sakit, atau kesendat bayaran sekolah, atau gak bisa ke kota yang ada kuotanya, atau anaknya gak ada yang jagain, atau karena yg lebih berhak gak pernah kepikiran masuk sana karena minder. Ya Allah. Prestasi akademik pun bisa jadi ilusi ya. Jika dapetnya mudah. Tinggal belajar, berusaha, jujur, selesai.

Lha kalo dapetnya sambil kerja, sambil jagain orang tua, sambil menyekolahkan adik, sambil kelaparan uang bulanan abis, sambil berjibaku untuk kemaslahatan orang banyak. Nah ini baru bukan ilusi dan boleh berbangga.

Trus yang benar itu apa sekarang? Ini ya kenapa yang dicari itu bukan hanya pahala, tapi ridho Allah.

Ujung-ujugnya yang bisa kita pegang di dunia, baik dahulu, dan masa yang akan datang di era digital ya satu. Kebermanfaatan. Da udah dikasih tahu dari dulu juga sama Allah bahwa sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain. Sekalipun saat itu ini masih berupa quote, yang harapannya kemudian berkembang menjadi niat, kemudian menjadi aksi, dan terakhir menjadi mindset dalam menjalani hidup sehari-hari. Gakpapa ya bertahap. Jadi alim kan bertahap. Jadi bijak juga bertahap.

Teringat kembali dulu Allah kasih inspirasi buat memberi nama anak atas dasar doa agar mereka kelak bisa memberikan manfaat. Sama untuk kedua anak. Dari dulu Allah juga berkali-kali japri melalui berbagai kesempatan untuk mengingatkan hal ini. Ya lupa maning lupa maning.

In the end, semua kesenangan kalau hanya ilusi pastinya hanya mengantarkan diri kita mojok diem dan berpikir: iya ya, kalo kitanya gak ada manfaatnya buat orang lain, semua predikat/prestasi jadi gak ada gunanya.

Gemerlapnya dunia juga kadang bikin lelah. Tempting memang. Ya tapi tapi tapi, bener sih, kesederhanaan itu kunci. Ini hal yang merupakan kemampuan yang perlu dan bisa dilatih, bukan karakteristik yang jadi bawaan lahir. Semua serba seperlunya. Itu juga saya berkesempatan belajar karena ada contoh langsung di depan mata. Bagaimana si ayah semua mua serba seperlunya. Semua barangnya dibeli atas dasar fungsional. Udah jelekpun selama masih fungsi ya udah. Tas udah belel pun baru berhasil mau ganti pas dikasih orang. Itupun setelah ngeh klo tas penggantinya branded, dalam artian pasti awet.ย  Tadinya siap masuk gudang, karena yg lama masih bisa dipake.

Iya kan, kalo tas cuma satu gak akan ribet ada barang ketinggalan di tas satunya, gak ribet pilih warna sesuai baju, gak ribet cari barang printil karena letaknya spesifik dari waktu ke waktu. Ini alasan saya pilih tas laptop dari brand tas bayi hahaha. Ya mana coba tas laptop yang bisa buat naro pempers, baju kotor, botol minum, dan printilan berbagai hal. Bisa jd tas punggung klo harus berubah wujud jadi mahasiswa, bisa jadi slempang kalo perlu jadi anggun jadi dosen, bisa jadi tas jinjing kalo perlu jadi emak-emak sosialita. Fungsional kan. Ayah malah cuma bs slempang. titik. Udah. Sampe belel.

Kesederhanaan ini juga akhirnya saya pahami mampu membuat kita lebih pintar. Kenapa? karena otaknya fokus memikirkan hal yang benar-benar penting. Coba bandingkan ketika si saya sibuk dandan dan ngedandanin anak-anak mau kondangan. Si ayah gugling map, atur waktu, atur rencana untuk sekedar 1 kali perjalanan supaya serba lancar. Bahkan bisa diakhiri dengan nonton bola di mobil, karena rencananya matang, harus sampai jam berapa dan pulang jam berapa, panggil go-car jam berapa plus jeda berapa karena macet.

Belum lagi kalau sibuk foto. Apalagi kalau niat fotonya untuk di post di instagram. Nah berapa waktu coba terbuang untuk gemerlapnya dunia.ย  Sementara si ayah sempat haha hihi bercakap-cakap dan membuat relasi. Gak repot benerin baju. Gak repot dandan. Gak repot selfie. Si saya? Ya pencitraan sibuk ngejar-ngejar bocah, padahal karena ngejarnya sambil keserimpet baju kepanjangan. Coba pake baju kerja aja pas kondangan, pasti gak gini nasibnya ๐Ÿ˜€

Ya begitulah dunia ya. Sudah dari sananya dibuat untuk godaan manusia. Makanya masuk surga itu susah jendral! Hal-hal prinsip macam “kebermanfaatan” dan “kesederhanaan” aja sering terlupa begitu saja. Hal yang menjadi kunci banyak masalah, hal yang menjadi jawaban atas banyak hal. Ada di depan mata. Dari dulu.

Mudah-mudahan kita semua selalu dalam perlindungan Allah ya, dan bisa diberikan kesempatan menjadi pribadi yang mampu merefleksi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik, perlahan-lahan, tapi pasti.