Khan Academy – Cara Baru Belajar

Aplikasi ini sudah lama ada. Versi webnya yang lebih lengkap juga ada. Saya juga tahunya sudah lama dan sudah lama pula nangkring di HP saya. Nasibnya tapi teronggok begitu saja karena ini lebih cocok untuk anak usia sekolah.

Webinar dengan bu Septi kemarin mengingatkan saya bahwa ada lho aplikasi ini. Untuk pengetahuan umumnya bisa juga baca-baca di sini.

Seorang teman pernah bercerita bahwa Khan Academy ini hasil karya pembuatnya dalam rangka membuat edukasi gratis. Konten dan cara kerja di dalamnya tidak ada yang boleh berbayar. Itu pula yang menjadi tagline nya. Free.

Seru ya. Bisa dibayangkan betapa populernya, dan bagaimana nasib pesaing aplikasi serupa.

Salman Khan sebagai founder nya memang bukan orang biasa. Lulusan S1 dari MIT, dan S2 Harvard ini termasuk dalam 10 Most Influential of the World. Ya iya ya, niatan menyebarkan edukasinya bisa sampai ke seluruh penjuru dunia.

Khan Academy ini kembali mengingatkan saya bahwa belajar di masa yang akan datang akan jauh berbeda dengan saat ini. Anak-anak perlu kemampuan belajar sendiri. Materi beserta arahan kurikulum sudah ada kok.

Jadi guru adalah tempat bertanya dan fasilitator belajar, bukan lagi seluruh sumber ilmu. Dengan demikian, hal yang anak bisa eksplorasi sesuai pemahamannya lebih banyak, bisa juga lebih sedikit. Akan tetapi sesuai dengan kemampuan dan pemahamannya pada saat itu.

Anak-anak perlu di-nurture rasa ingin tahunya. Inilah bekal menuju era belajar digital. Selain itu anak juga perlu diajari caranya belajar mandiri. Ini pula yang akan menjadi bekal buat dia belajar topik apapun kelak sesuai minatnya.

PR orang tuanya adalah sabar. Itu aja. Sesungguhnya menjaga rasa ingin tahu anak itu harusnya gampang. Udah dari sananya (fitrah) anak-anak dibekali hal tersebut. Tidak merusaknya itu yang susah, karena sumbu ortunya tidak semua panjang.

Semisal karena pertanyaan tanpa henti kayak radio yang tidak kenal tempat dan waktu pasti sesekali membuat kita, orang tua, bilang: udah dulu nanyanya, udah diem dulu nikmati suasana baru nanya, atau sabar dulu nanti juga ada jd gak usah nanya..

Itu semua kami alami, padahal saya dan suami paham harus gimana. Teteh itu semacam cara kerja otak dia menyambungkan memori hasil belajar dia itu harus disuarakan. Jadi kalau liat gajah di kebun binatang, maka dia akan nanya segala rupa tentang itu, dan nanya juga segala pengalaman dia tentang itu.

Sebenarnya saya paham, otaknya lagi kerja menempelkan memori tentang gajah di otaknya. Itu juga menempelkan dengan hal yang terkait, seperti pernahkah waktu kecil dia naik, pernahkan dia baca buku tentang gajah, dll. Supaya ingatan itu jadi kesatuan dan pemahamannya lebih matang. Bukan terpecah-pecah yang kemudian jadi “seingetnya”, atau “tiba-tiba inget kalau gajah itu….”. Seperti mamanya, karena dulu sering belajar tidak khatam, atau baca depan-depannya doang.

Ya tapiiii…Β  siaran radio non-stop yang harusnya dia isi dengan mengamati dulu, baru nanya, kadang bikin menghela napas juga. Yah kembali lagi ke sumbu sabar emak dan ayahnya yang memang harus dipanjang-panjangin πŸ™‚

Anyway speaking of apps, ini beberapa screenshot nya.

Ada banyak subjek yang bisa dipilih. Saya kemarin mencoba Computer Science. Ngeri juga ya anak sekarang. Sudah belajar hal ini sedari kecil sekali. Sebagaimana kurikulum, setiap topik terdiri atas sub-sub topik. Setiap sub topik terdiri atas materi-materi kecil. Pada contoh yang saya coba, materi tersebut disajikan dalam bentuk video.

Pada gambar di atas merupakan contoh sub topik internet 101, dan materi wires, cables, dan wifi. Nah anak-anak piyik yang sering mengeluhkan tentang internet mungkin bisa belajar ini juga. Hihihi. Supaya setidaknya tahu cara kerjanya, atau setidaknya tahu bahwa internet mungkin mati lhoo.. #eh

Sekian tulisan mengenai aplikasi Khan Academy dan pengingat kembali perubahan cara belajar di era digital.