Remedial Diri dengan Menjadi Fasilitator Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP)

Remedial diri dengan cara elegan. Quote keren yang menjadi motivasi tanpa pikir panjang untuk mendaftarkan diri sebagai fasilitator. Jika pake mikir dan sempet ngaca pasti mundur teratur sebelum pentas. Apa maknanya justru baru saya temukan di akhir masa tugas yaitu kesempatan refresh, reconfirm, reflect, relearn dan recharge. 

Masih jelas dalam ingatan 1.5 tahun yang lalu saya bukan matrikan (sebutan untuk peserta matrikulasi IIP) yang alim dan rajin. Dari 9 NHW (nice homework), saya hanya mengerjakan 7. Itupun seadanya, sekepikirannya, dan deadliner. Dua kali saya mengerjakan di mall yang salah satunya di dalam bioskop.

Refresh and Reconfirm

Namun saya ingat juga ketika itu yang dirasakan hanya jleb dan senang akan adanya ilmu baru praktis, yang tersusun rapi dalam sebuah kurikulum 9 pekan. Berbeda rasanya dengan ketika menjadi fasilitator. Berkali-kali perasaan ingin nyumput di pojokan itu datang. Rasa “jleb” yang datang juga berkali-kali lipat keras menampar diri.

Para senior sering bilang “fasilitator, no baper”. This is clearly easier said than done.

Pada saat yang bersama pula, qadarullah, kondisi fisik dan psikis tidak sebaik biasanya. Alhasil banyak emosi yang terlibat karena merasa terbatas dalam gerak maupun sumbu sabar.

tapi kapan lagi ada kesempatan belajar macam ini

Maka inilah yang menjadi bahan bakar selama menjadi fasilitator. Rasa tidak nyaman jelas terus ada. Apalagi jika ada sesi sharing antar matrikan. Dimana saya menyadari karena umur yang masih belum matang, dibesarkan dalam lingkungan ideal, suami selalu support, anak cuma 2 biji dan masih piyik pula, menjadikan saya merasa kekurangan stok pengalaman dan wisdom kehidupan.

Akan tetapi dengan menjadi fasilitator, saya berkesempatan belajar dari minimal tulisan 40 orang untuk 9 topik. Kesempatan langka untuk mengkonfirmasi apa yang pernah saya tuliskan dulu untuk topik yang sama. Belum lagi belajar dari berbagai pertanyaan matrikan yang memaksa berpikir jauh dari zona nyaman.

Proses yang mengantar pada kesimpulan bahwa setiap NHW itu bukan dikerjakan pakai otak, tapi pakai hati. Klise, tapi benar. Semua topik yang dipelajari selalu berada di atas kemampuan. Jelas tulisan kita tidak akan sempurna. Akan tetapi selalu bisa direfleksikan terhadap kondisi diri sendiri dan keluarga, dan ketika dibaca setahun, dua tahun kemudian masih relevan.

Reflect

Dengan menjadi fasilitator, kami berkesempatan refresh, reconfirm, dan reflect apa yg sudah dipahami dan dipraktekkan selama ini. Ketiga hal ini tentunya tidak mudah, terutama refleksi diri. Rasanya tidak enak ketika menyadari bahwa ilmu kita itu cuma sejumput dibanding besarnya dunia. Sama ketika menyadari bahwa hidup kita sangat mudah dibandingkan orang lain, namun masih juga sering beralasan dan mengeluh.

Sebagai fasilitator, saya pun berkesempatan bertemu dengan para cabunda dan bunda hebat yang menjadi matrikan di grup saya. Saya sering terbengong-bengong dan berpikir “klo aku jadi dia, menghadapi dunia pun udah gak mau lagi, boro-boro ikut matrikulasi” karena ujian luar biasa yang mereka hadapi.

“hah, masih 20an taun”, “hah, masih kuliah”, “eh, semuda itu jadi single parent“, ” eh lebih muda dari saya tapi udah bisa bikin blueprint grand design kehidupan di dunia”, “hah semuda itu udh jadi aktivis”, “eh, mbanya dibesarkan tanpa kedua orang tua, padahal keduanya masih hidup”, “eh, mbanya ikut matrikulasi pun sembari meyakinkan suami yg tidak percaya proses blajar smacam ini”,

…dan  banyak moment “hoh” “hah” “eh” lainnya. Oiya plus “astaghfirullah, ngapain aja gue slama ini”

Rasanya tidak ada ruang untuk berbangga diri atau merasa lebih baik. Saya bisa sampai titik saat ini karena pre-kondisinya baik dan semuanya ‘given‘ alias dikasih sama Allah. Renungan yang membuat down dan baper berulang.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa proses belajar itu panjang. Menjadi pribadi yang lebih baik juga tidak bisa instan. Bahwa ada penurunan performa dalam menjalani proses menjadi diri yang lebih baik, sebelum nanti mencapai suatu titik dimana pemahaman itu datang dan bisa kembali berlari kencang untuk memanjat kembali. Ini hal yang terlupakan dan seringkali menjadi alasan menghianati mimpi yang kita rajut sendiri.

Renungan yang juga membawa saya menyadari bahwa telah diberikan banyak berkah dalam sehat, ilmu, dan pengalaman belajar yang lebih dari orang lain. Banyak yang di luar sana lebih butuh, lebih pantas. Tapi saya dan teman-teman fasilitator lainnya yang terpilih menjalaninya. Ya untuk itu semangat berbagi dalam kebaikan tidak pernah boleh habis. Lelah hayati boleh. Ngomel-ngomel tetep (eh). Ya kembali ke strategi legendaris. Nyumput dulu sejenak. Sebelum lari kencang lagi.

Jika diingat kembali, semua ini adalah mimpi yang jadi nyata. Hanya saja dalam waktu cepat. Jadi rada kejar-kejaran. Padahal mungkin orang lain memerlukan waktu bertahun-tahun untuk sekedar mewujudkan mimpi berkarya sesuai passion mereka.

Relearn

Allah terus mengingatkan bahwa inilah panggilan hidup saya. Bergerak di bidang edukasi. Allah membukakan jalan untuk tidak hanya berkarya di bidang formal pendidikan tinggi, namun juga non-formal untuk para ibu dan calon ibu.

Matrikulasi bukanlah sekedar proses belajar materi. Lebih dari itu, kami dipertemukan dengan sesama ruh-ruh pembelajar, yang tentunya menjadi akselerator dalam proses belajar melalui berbagi pemahaman, pengalaman, semangat, dan motivasi.

Beruntung. Itu mungkin ucapan yang sering terucap ketika dipertemukan dengan orang-orang hebat dalam belajar. Istilah yang akhirnya dapat dijelaskan sekaligus menjadi motivasi tersendiri bagi pribadi yang sering merasa rendah diri. Bahwa ruh itu tidak pernah salah gaul. Jika kita dipertemukan dengan orang-orang seperti ini, berarti kita sudah cukup pantas dengan apa yang kita punya sekarang.

“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan.
Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu,
dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.”
~ Hadist Bukhori-Muslim

Jika direnungi, rasanya jarang kita menemukan situasi yang sama, sekalipun di sekolah/ kampus/ tempat kerja. Ada saja perbedaan tujuan jangka pendek/panjang, sekalipun yang dipelajari dan dilalui tetap sama. Berbeda jika kita disatukan dalam komunitas belajar untuk ibu. Tujuan jelas sama: menjadi ibu dan istri yang lebih baik lagi, dan tujuan tambahan yaitu bersama-sama membangun peradaban.

Mendidik ibu sama dengan mendidik 1 generasi.

Mengutip hasil diskusi dengan leader program matrikulasi, tentang asal mula quote ini. Jika kamu mendidik seorang laki-laki, sesungguhnya engkau hanya mendidik satu dari jutaan penduduk bumi. Tapi jika kamu mendidik seorang perempuan, maka sesungguhnya engkau sedang mendidik sebuah bangsa (mantan Presiden Tanzania).

Berkaitan dengan ini, saya teringat pernah bercita-cita memiliki kesempatan shaping up education in Indonesia. Sekali lagi Allah kasih jawabannya dari jalan tak terduga.

Dalam dapur matrikulasi, sekalipun ini sudah batch ke-6, para fasilitator belajar kembali. Mulai dari belajar cepat semua teori yang dibutuhkan untuk menjadi fasilitator dalam kelas online, semua tools yang dipakai, sampai kelengkapan administrasi yang tidak sedikit.

Menjadi fasilitator juga berkesempatan membuat suatu karya peningkatan proses pembelajaran baik dalam penyampaian materi, memperkaya materi, maupun proses belajar itu sendiri. Lha ini kan bagian dari proses membentuk pendidikan.

This is shaping up the education, in a country scope.

Belum lagi mimpi berkesempatan belajar langsung dari para maha guru. Bukan sekedar ketemu idola. Tapi saya pribadi selalu punya keinginan jika bisa belajar dari ahlinya, kenapa tidak.

Berkesempatan berinteraksi langsung denga para otak di balik besarnya komunitas Ibu Profesional, sampai pengalaman tak terlupakan chatting langsung dengan ibu Septi Peni sendiri dan menyampaikan beberapa ide untuk kuliah umum sebagai pembukaan matrikulasi. Ide yang dengan manis diterjemahkan Ibu dan menjadi materi yang mungkin dibaca 1400 bahkan lebih orang dari segala penjuru Indonesia.

Kenang-kenangan
Kenang-kenangan

Semua kesempatan itu datang justru ketika berperan sebagai fasilitator dan sebagai ibu. Bukan sebagai orang hebat / artis socmed karena memang gak laku-laku dengan tampang kurang mumpuni (eh). Mungkin tidak dalam bentuk inspirator. Mungkin bukan dalam bentuk karya besar. Kesempatan itu datang ketika peran yang ada justru sebagai ‘orang belakang’. Alhamdulillah.

Tapi memang iya. Fame. Being on the spotlight. Being on the top. Memang tidak pernah jadi tujuan. Tipis memang antara tidak bisa atau sok pura-pura bukan tujuan. Keinginannya memang simple life tapi bisa berguna buat orang lain, walaupun hanya 1 orang.  Allah tau itu, walau Allah selalu kasih lebih dari yang diharapkan. Makanya selalu gagal jadi artis atau selebgram (eh) tapi bisa jadi dosen.

Recharge

Fakta yang saya baru sadari di akhir adalah menjadi fasilitator di suatu kota artinya saya berkumpul dengan fasilitator-fasilitator lain dalam lingkup nasional. Saya tidak hanya beruntung bisa menjadi fasilitator belajar 50an orang-orang hebat dalam lingkup Jakarta. Pada saat yang sama, saya  belajar bersama 30 lebih fasilitator belajar dan 1400an matrikan dari seluruh Indonesia.

Merinding dan haru rasanya ketika menyadari ini. Bagaimana mimpi berkesempatan berkontribusi, walaupun sebesar debu dalam lingkup nasional di bidang edukasi bisa terwujud. Saya dan suami selalu percaya bahwa pendidikan dapat mengubah suatu bangsa menjadi lebih baik.

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world ~Nelson Mandela

Maka sekali lagi saya membuat pernyataan misi hidup. Bahwa di sisa hidup saya, jika diberikan kesempatan, maka bidang yang akan ditekuni adalah pendidikan, baik formal maupun non-formal. Jika suami memilih menjawab permasalahan bangsa melalui pemberdayaan ekonomi UKM untuk Indonesia yang lebih baik. Maka saya, walaupun dalam lingkup yang jauh lebih kecil, menjawabnya semua hal yang saya keluhkan tentang ruwetnya dunia adalah dengan berkarya untuk memperbaikinya, walaupun juga cuma sedebu efeknya.

In the end, keluhan hanya akan berakhir di socmed dan paling jauh nyangkut sebagai keresahan di pikiran orang lain yang membacanya. Tapi jika keluhan itu kita wujudkan dalam usaha untuk memperbaikinya, ya minimal akan berakhir dengan baik di kepala orang lain. Bukan dalam bentuk provokasi ide negatif, tapi dalam semangat positif untuk memperbaiki diri. Seperti quote Rumi, solusi atas semua hal ya dengan memperbaiki diri sendiri. Why? You’ll understand someday 🙂

Yesterday I was clever, so I wanted to change the world. Today I am wise, so I am changing myself.” ~Rumi

Sebagai penutup tulisan pengalaman sebagai fasilitator tentunya boleh ya menuliskan aliran rasa. As I said, jika ditulisnya pakai hati, maka aliran rasa ketika menjadi matrikan bisa relevan saat saya selesai menjalankan peran fasilitator.

8872faf3-6a06-4a8f-b7fa-55ef58847433
Aliran rasa saya sebagai matrikan & fasilitator

Cinere, 7 Oktober 2018

~ Ami
(fasilitator MIIP Batch 6 Jakarta 1)