Jadi yang Salah Siapa?

Akhir-akhir ini sedang ramai isu pemboikotan salah satu iklan. Saya pribadi mencoba tidak terlalu mengikuti/berkomentar karena terlalu banyak conflict of interest di dalamnya.

Tapi ada satu hal menggelitik untuk kemudian menuliskan tulisan ini. Bukan perihal siapa yang mengiklanlan, atau siapa yang diiklankan. Melainkan fenomena gap yang sangat jauh antara millenials + gen-Z yang sudah memiliki anak dan belum. Jadi apapun isunya, pasti akan menimbulkan perseteruan di antara keduanya.

Saya pribadi merasakan bagaimana menjadi fans garis keras. Untungnya masih cukup waras, lebih tepatnya gak cukup uang maupun kesehatan untuk bisa mengejar konser-konser bintang yang dulu saya gemari. Pengen pasti, tapi apa daya. Blessing in disguise. Cukup seharian ngeYoutube mereka saja. Kan enakan di layar, kelihatan mukanya.

Kembali ke isu perseteruan di atas. Mungkin yang dulunya hidupnya tidak pernah melewati masa-masa seperti ini, bisa jadi tidak terlalu paham. Tapi saya berbicara sebagai mantan fans garis keras yang merasakan mengapa bisa seperti itu, dan sekarang bisa berdiri bersebrangan. Tandanya jelas, dulu bisa hapal mati semua anggota beberapa band. Sekarang kembali ke masa bahwa semua wajah member suatu grup tampak sama.

Anak dan keluarga

Itu suatu perbedaan besar. Bagaimana dulu saya cintanya, ngefansnya, pasang wallpaper, blablabla. Sekarang, segala eforia itu lenyap begitu saja. Bahkan sekedar mencari tahupun malas.

Kemudian saya sadari. Tobat dan waras bukanlah kata yang tepat, karena memang saya gak bisa serta merta judging bahwa penggemar suatu hal itu salah. Ya secara umum sama sih. Menyukai sesuatu bukan hal yang salah, tapi berlebihan lah yang salah. Jadi iya saya hanya tobat dari “berlebihannya” saja. Shifting saya menyebutnya.

Tapi apakah cukup dengan anak. Ya gak juga. Semua merasakan kok bagaimana jadi ibu baru, lelahnya, capeknya, jadi butuh hiburan. Ya mulailah saya undur diri dari kegiatan fans garis keras, tapi tetap menjadi penonton binge watch acara-acara mereka. Ya nonton aja, tapi artisnya tidak terlalu diambil hati.

Sampai kemudian, suatu ketika rangkaian kejadian menuntun saya kepada pencerahan. Mau sampai kapan hidup begini begini aja. Nontonin orang, di saat punya semua hal bisa bikin jadi ditonton orang. Halah. Bukan mau ngartis apalagi nyaleg, maksudnya bikin sesuatu yang bisa bermanfaat, dan sama dengan nilai kehidupan yang dipegang, walaupun manfaat itu hanya untuk beberapa orang saja.

Ratusan jam saya habis untuk ngeYoutube hal hal yang gak relevan dengan masa depan saya. Gak akan juga saya jd artis film atau nyanyi dan dance. Ratusan jam juga habis untuk meningkatkan skill yang gak bisa saya bagikan ke orang lain supaya lebih “pintar”. Yaitu skill stalking artis. Mudah-mudahan penggemar lainnya tidak seperti saya ya.

Hanya atas dasar : it’s so much fun. Atau sekedar : it’s tempting, it’s just one click away. Walaupun mungkin saja itu balutan untuk sebuah konsep: we all need our happiness, but it couldn’t be found easily, so we look for it through our ‘virtual’ relationship with the idols/ tv drama/ reality show.

Masalahnya kita gak punya all the time in the world to redeem ourselves for those time-loss. 

Misi hidup

Mungkin ini jawabannya. Jadi saya pribadi tidak bisa menyalahkan pikiran-pikiran millenials fans kpop yang berusaha membela idolanya. Ya siapapun akan membela idolanya, siapapun itu.

Pemikirannya beda. Bukan pula yang non penggemar lebih baik daripada yang penggemar. Ya beda aja. Namun saya pahami, itu hanya satu sisi potongan kehidupan seseorang/ sekelompok orang saja.

Hal yang perlu kita sadari bersama adalah menjadi orang tua, secara intuisi, akan mengamankan anaknya. Beberapa orang bahkan secara terang-terangan menyatakan misi hidupnya menjaga anak-anaknya, dan anak bangsa. Kemudian apa yang dilakukan nyata dan berani. Lha ya masa kita komplen? Ini kan seharusnya didukung.

Hal yang seperti ini dihadapkan pada komentar “norak”, “gak uptodate“, “gak ngikuting perkembangan jaman”, “gak ngertiin anak muda”, dan sebagainya. Gak nyambung.

Seperti ada orang mau perang, trus kita komentarin “kenapa kok bawa botol minum”. Bahasa gaulnya #salahfokus.

Sama dengan pendapat, “kenapa sih gak takut akhir jaman”, “kenapa pemikirannya bisa sesalah ini”, “kenapa kenapa lainya.. Padahal orang yang kita komentari sering berpapasan dengan sesuatu yang dia percaya itu baik, tidak terpikir ada sisi lain yang sebenarnya salah.

Apalagi KPop. Suatu anomali dunia entertainment, dimana segalanya “open source“, yang membuat penikmatnya seperti selalu disediakan makan kapanpun dia butuh. Beda dengan konsep entertainment lainnya yang masih membatasi dan membuat ruang besar antara fans dan idolanya.

Coba apa yang terjadi jika kita suka suatu hal, dan dia ada terus menerus untuk kita 🙂 ?

Inipun yang menjadi trik saya keluar dari arena fans garis keras Kpop. Shifting ke media/tontonan lain yang lebih terbatas. Misal serial barat, atau film sederhana yang lama-lama membosankan. Jika alasannya memang untuk fun, maka memang sebaiknya mencari yang terbatas jadi gak terus-terusan tenggelam di dalamnya. Atau ya sesekali ikut nonton KDrama tapi harus 1-2 hari beres bagaimanapun caranya, supaya gak habis waktu kesana.

Berbagai efek sampingnya pasti ada. Terutama efek perubahan paradigma berpikir yang banyak menghalalkan hal yang seharusnya salah. Harus diakui lho berbagai adegan di film itu salah. Harus diakui juga pake baju kurang bahan ya tetap salah. Mau dari sisi agama atau kesehatan. Kan adem, kena angin. Betapapun kita senang melihatnya.

Ada kalanya salah benar itu menjadi blur. Itu yang saya alami ketika menjadi fans garis keras. “Ah gakpapa, gitu doang diramein, biasa aja kali, cm tontonan doang”. Tapi yakin bisa jaga diri selamanya dari kehidupan abu-abu semacam itu? 🙂 Susah lho. Apalagi itu berkenaan dengan sesuatu yang kita senangi, yang pastinya kita bela habis-habisan.

Ya kalau melihat anak kecil maupun dewasa sama. Jika kesenangannya diambil, pasti melotot. Padahal itu kesenangan yang kita pinjam dari orang lain, atau hal yang tidak baik untuk kita.

Jadi fenomena yang ramai saat ini, dan banyak lagi, semacam perang tapi arenanya beda, yang diperjuangkan juga beda. Perang malah lebih jelas. Memperebutkan wilayah, membela agama. Objeknya sama, pandangannya beda.

Lha kalau perang social media, yang didebatkan objek yang beda, pandangannya beda. Gak akan pernah selesai. Cuma ganti-ganti aja ‘musuh’nya.

Walaupun kalau menilik lebih dalam petisi boikot, beserta petisi tandingan menolak boikot, ada hal yang membuat senyum. Kita semua memperjuangkan hal yang sama 🙂 Keselamatan anak bangsa melalui saringan acara di TV. Yang satu terkait pakaian, yang satunya mengajukan solusi terkait konten/cerita.

Hanya saja satu pihak merasa diserang karena pihak lainnya membawa-bawa idolanya. Padahal sebenarnya itu hanya “capture“, secuplik dari alasan perjuangan yang lebih besar. Perjuangan yang pastinya disetujui siapapun dia, baik tua, maupun muda, remaja maupun dewasa 🙂

Di sini yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa, kita semua bisa selalu diberi petunjuk membedakan hal yang salah, dan yang benar. Serta diberikan kekuatan dan kesabaran untuk menjalankannya.

Bukan tidak mungkin suatu saat, saya atau Anda yang melakukan kesalahan dengan tuduhan “menjerumuskan anak”. Harus sering-sering istighfar dan open minded terhadap hal-hal yang sebelumnya kita anggap “apaan sih, ginian aja dibahas”. Mungkin saja pelajaran berharganya justru kita dapat dari apa-apa yang sebelumnya kita tidak anggap/ remehkan.

Amin

~mewakili hati seorang emak-emak biasa, tanpa atribut apapun, hanya mantan gadis yg dulunya banyak main, tapi sekarang tiap hari cm bisa mikir kenapa dulu banyak ngabisin waktu untuk hal-hal kurang bermanfaat, dan berapa lama lagi waktu yang dimiliki untuk dapat memberikan manfaat pada orang lain

Mohon maaf jika ada kata-kata kurang berkenan. Mencoba melihat dari dua sisi, karena saya pernah merasakan keduanya. 😊