Apapun Sekolahnya, yang Penting Orang Tuanya

Pagi ini saya dapat share wa artikel bertema ini, reminder untuk saya dan ayahnya.. Ya walaupun gugling dulu utk nyari siapa penulisnya (heran knapa orang suka menghilangkan nama penulis/kadang diganti orang lain yang lebih terkenal)

Ini jadi reminder bahwa saya GAK BISA bangga anak saya sekolah dimana

Tiga tahun yang lalu tentunya penuh kebanggan bisa menyekolahkan anak ke sekolah yang antri beli form-nya saja panjang.. Ayah subuh2 udah suruh ngantri (yang akhirnya ketiduran di mesjid pas nyampe gak ada orang šŸ˜€ ).. dan hanya 2 jam saja loketnya dibuka.. padahal sekolah lain biasanya 2-3 bulan..

Saya ingat bahwa ini sekolah yang saya tuju untuk teteh di tingkat SD. Setelah mempelajari situasi dan pengalaman orang lain, akan sangat berat bersaing di tingkat itu. Maka saya coba jalur lain. Saya menyebutnya jalur sutra. Pada saat itu tidak ada yang menyarankan, hanya semata insting emak.

Bagaimana jika dia masuk di sekolah ini sejak KB / TK? Ya biasalah ambisi emak-emak muda kurang ilmu ketika itu. Insting itu ternyata benar. Ya lagi-lagi emak songong berpikir, ya iyalah KB/TK nya diprioritaskan masuk duluan sebelum orang luar. Padahal alasannya jauh lebih dalam daripada itu.

Tamparan pertama untuk saya ketika sadar.

Alasannya sesederhana karena anaknya dan orang tuanya sudah sama frekuensinya, visinya pendidikan anaknya, dan teruji “struggling” dan keikhlasannya berpartisipasi aktif mengikuti metode sekolah yang tidak biasa. Ketika saya tau ada sekolah mensyaratkan baca tulis, iqro, dan berhitung, sekolah ini hanya mensyaratkan cukup umur dan anaknya siap belajar. Sudah itu saja. Gampang kan. Tapi orang tuanya harus sama visi pendidikannya dengan sekolahnya.

Lagi-lagi emak-emak ikut tes sekolah. Padahal di saat yang sama saya ikut tes sekolah S3. Kok tetep lebih nderegdeg yang sekolah bocah ya. Hehehe.

Emak pingsan tau syarat masuk SD di tempat lain, da anak aku cuma bisa dandan, boro-boro baca atau ngitung..

Ayah lebih tabah dan bilang anaknya bisa silat dan sepeda kok..

Tapi ternyata “siap belajar” itu maknanya dalam. Kemandirian dan keberanian dia sudah harus selesai sebelum masuk SD. Bukan dalam artian seperti orang dewasa, hanya ‘sekedar’ tidak mama oriented lagi ketika memulai belajar. Ya karena KB/TKB isinya main (istilah kerennya: menjaga fitrahnya), baru SD lah mereka mulai belajar “beneran” dari sisi akademis dan kognitif.

Senang kan menemukan hal indah macam ini. Hal-hal yang bahkan di awal masa sekolah, kami pun tidak tahu. Belum lagi hal-hal lain tentang kebersamaan sesama orang tua, orang tua dan guru, serta konsep “anak lu, anak gue juga” jadi kita bareng-bareng jagain mereka.

Senang dan bangga tentunya.

Tapi perlahan semua kebanggan itu memudar ketika menyadari hal lain di luar itu. Yang butuh bangun negara itu ribuan, bahkan puluhan ribu anak, bukan segelintir saja.. Maka saya hanya bisa bangga kalau Indonesia punya banyak sekolah “bagus”.. Saya hanya boleh senang kalau sekolah lain juga “bagus” (sesuai definisi “bagus” yang kita percaya).. Saya harusnya tersenyum lebar ketika teman cerita anaknya sekolah di tempat lain, ataupun homeschooling, dan sama bahagianya.

Tamparan bolak balik buat saya yg sempat berbangga hati.. Apa-apaan.. Lha jelas saya ada, ayahnya ada, anaknya sehat, ortunya sehat, ortunya punya pekerjaan tetap.. It’s by default, anak bisa sekolah dan baik-baik saja.. Yang dituju harus lebih dari itu semua..

Sekolah teteh “hanya” di saung, dengan tanah dan lumpur di depannya.. Jelas jerit-jerit hati emak dan anak pas awal menginjakkan kaki. Tapi doanya selalu 1, jika ini yang terbaik untuk kami, ya so be it.. Saya ingin sekolah di tempat dia juga sembari anak sekolah.. Saya, dan ayah orang tuanya, ingin tumbuh bersama mereka juga..

Walaupun Allah baru memberikan jawaban mengapa sekolah ini ‘baik’ untuk teteh di kemudian hari. Anak seperti teteh bisa pingsan dengan metode belajar yang harus sering duduk dan menerima instruksi.. Dia lebih suka eksplorasi sesuka dia, mau belajar apa sesuka dia.. Terhadap instruksi dan omelan “you have to..“, dia bebal, dan mampu mengajukan argumen balasan “why I don’t have to..“. Toh yang lihat juga gak tau kalo emaknya gaji buta soal keterampilan kognitif. seringkali saya diingatkan melalui berbagai bukti bahwa dengan dia belajar sendiri dan sesukanya bisa dapat hasil yang sama. Ruang belajar seperti itulah yang dia perlukan.

Jadi bukan sekolah ini lah jawaban atas semua, ‘hanya’ jawaban tepat untuk Runni. Anak lainnya dengan keunikan lainnya bisa saja mengisi ruang tempat belajar lainnya yang cocok dengan si anak dan orang tuanya. Insya Allah sekolah bagus, bahkan buaguus mah jauh lebih banyak daripada yang kita tahu. Belum lagi emak-emak tangguh yang mampu menciptakan komunitas homeschoolingĀ untuk pilihan cara belajar lainnya. PR nya adalah menyesuaikan dengan bocahnya dan kondisi orang tuanya šŸ™‚

Tinggal manjang-manjangin sumbu sabar aja dan berhenti melihat rumput tentangga (alias anak orang lain) yang lebih canggih. Allah baik, kasih kelebihan ke Runni dan Kala tidak kenceng akademik di umur muda mereka ini. Gak tau juga nanti gimana. Jadi orang lain gak bisaĀ compareĀ mereka sama emaknya yang (katanya pinter padahal pas-pasan) dan ayahnya yang sakti. Lha kelebihan dan potensi mereka justru di hal yang gak dimiliki orang tuanya. Fisik, bahasa, dan seni. Tapi klo suruh nyobain abjad, angka, dan huruf hijaiyah, duh Gustiii, sampai ngelus dada, dan berakhir omelan..

Lucu kadang jika mengingat perjalanan tiga tahun terakhir ini. Mungkin bisa dibilang perjuangan, tapi ya gak segitunya. Momen ketika memungkinkan ayah hadir di berbagai acara teteh yg memang mewajibkan ortunya (kalo bisa ayahnya) hadir.. Saya semacam harus “advanced booking” jadwal bapake.. Beberapa minggu atau bulan sebelumnya.. Literally, membuatĀ invitation di Calender dan via email.

Momen ketika ayah nyengir bahagia pulang kerja bakti dari sekolah teteh. Dengan bangganya bilang “aku hari ini ngegergaji dan ngecat lhooo” buat bikin atribut pentas sekolah teteh. Hihihi..

Kalau mau sombong-sombongan mah bisa-bisa aja, ayahnya runni sibuk.. Tapi da semua orang sibuk, siapapun itu, apapun pekerjaannya, ya sama-sama mencari nafkah untuk anak-anaknya.. Maka siapa kami berani beralasan demikian.. Jadwal emaknya gimana? Ya udah jelas batal semua kalau ada acara bocah. Gak bisa bargain ke ayah dia yang gantiin haha. Kecuali sabtu, karena pilihannya ayah mending jagain Kala (yang bisa ujug2 pupup dan kabur sesuka dia) atau ikut acara teteh di sekolah. Hehe. An obvious choice.

Ah sampailah kami ke masa selanjutnya, persekolahan teteh selesai, sekarang galau adiknya. Yang sudah disuruh bapake sekolah, da cuma pindah tempat main doang. Tapi bayi banget, gak bisa ngomong, belum bisa toilet training. Maka emaknya hanya bisa nge-‘bully’ bocah. “Ih udah mau sekolah, tapinya enggak bisa ngomong”. Kemudian si saya kualat, dalam 2 bulan, adik ujug-ujug bisa ngomong 1 kalimat lengkap. Walaupun absurd macam “ayah, abangkal takut hantu” dengan matanya tetap waspada ke satu sudut. Kan horor. Abaikan. Balik ke topik. Emak bengong. Tambah galau kenapa dia tetiba bisa ngomong.

Ya uwes tugas saya kembali meluruskan niat, kenapa adik harus sekolah. Knapa harus di sekolah A, bukan B, bukan C.. Alasannya harus lebih prinsipil dan dalam daripada segala rupa predikat “nanti ketinggalan temennya”, “guru bagus”, “kurikulum bagus”, “metode ajar bagus”, dll, Bismillah, semoga dibukakan jalan dan keikhlasan untuk menjalaniĀ apa yang terbaik utk mereka :)..

Mamanya Runni dan Kala
#learningMama..

.. (cut version artikel yang tadi menginspirasi)…..

“APAPUN SEKOLAHNYA, YANG PENTING ORANG TUANYA”
Hilmi Firdausi

Sebagus atau semahal apapun sekolah anak-anak kita, sama sekali bukan jaminan untuk menghasilkan anak yang sholih dan sholihah, anak yang berakhlaqul karimah.

Saya berkata ini karena sudah hampir 5 tahun berinteraksi dengan banyak stakeholder pendidikan, bergaul dengan dari berbagai kalangan dari dunia pendidikan…

Sehingga saya bisa mengambil sebuah kesimpulan, bahwa SEKOLAH TERBAIK ADALAH KELUARGA, terutama untuk anak-anak sampai dengan usia SD.

Lanjutan ada di: https://thariqboarding.sch.id/apapun-sekolahnya-yang-penting-orang-tuanya/