Cerita Lain Menuju Kelahiran Nara

Doa sebelum dan sesudah ikhtiar, ikhtiar sebelum tawakkal. Tidak boleh skip salah satunya.

Allah kasih insight melalui beberapa tanda-tanda. Awalnya dari ‘digagalkan’ pada suatu hal yang diperjuangkan dalam waktu lama. Yang berujung pada introspeksi tentang apa yang dulu jadi mimpi besar. Perjuangan yang gagal tadi ternyata memang belum selaras dengan mimpi itu. Maka Allah tunjukkan hati dan jalan untuk fokus ke hal yang benar penting dan butuh saya. Kampus dan mahasiswa.

Dulu hamil Kala diisi hal keren macam seleksi beasiswa LPDP da S3 UI, beserta kegiatan karantina ketika PK (persiapan keberangkatan).

Sekarang hamil tua Nara diisi dengan bacain borang akreditasi dan melengkapi dokumen buktinya. Kayak keren kan. Padahal enggak, da yang ngerjain mah rame-rame. Timnya tangguh. Saya bersyukur ada di dalamnya.

Di tengah semua itu saya tersadar, ada kemungkinan bahwa tidak bisa hadir justru ketika moment of truth, alias visitasi Akreditasi. Stress kan ya ngebayanginnya. Semacam gak bisa hadir di wisuda/nikahan anak sendiri setelah sekian lama mendampingi.

Berulang kali dokter atau bidan mengingtkan, ibu jangan stres ya. Bapak pembimbing disertasi juga mengingatkan, Ami jangan stres ya ngerjainnya, nanti aku dimarahin suamimu bikin ibu hamil stres.

Jawaban saya utk keduanya sama: da aku mah bukan stres lahiran atau disertasi, keduanya aman terkendali. Aku stresnya karena jadwal visitasi yang tak pasti. Haha!

Doa..
Kadang suka lupa, solusinya as simple as this!
Ketika manusia dan sistemnya tidak lagi bisa kita pegang, ya kembali ke penciptaNya.

Jawaban dari Allah datang melalui suami.
Tumbenan dia mengultimatum dan melarang sesuatu. Namun justru larangan itu menyelesaikan semua pikiran dan gundah gulana.

“Gak boleh kemana-mana per 25 Februari”

Maka atas nama ‘Ridho suami’, harus ubah strategi. Dengan demikian bisa dipastikan tidak akan bisa ikut visitasi, tanggal berapapun itu. Maka perlu transfer knowledge di sisa waktu yang ada ke yang bersedia menggantikan. Ya Alhamdulillah dikasih jodoh rekan-rekan kerja yang baik dan tangguh.

Gak cukup sampai situ, hadir memang tidak bisa, tapi bantu-bantu dari jauh tetap bisa. Syaratnya 1: sehat dan recovery cepat. Maka pemberdayaan diri ibu hamil pun dirutinkan. Yoga prenatal dan makan sehat. Padahal males. Tapi harus. Demi kelahiran lancar dan recovery cepat. Ada 2 bocah di rumah, dan ‘anak’ lainnya di kampus, gak bisa terkapar terlalu lama.

Ada pula keinginan submit paper ke salah satu conference bergengsi, jadi jam kerja berkutat dengan borang, malamnya dengan paper. Ya begitulah orang kalo kepepet otaknya malah jalan, beda sama pas waktu terasa luang. Walaupun ketika di perjalanan baru sadar. I need more time. Pengolahan data itu ternyata panjang prosesnya, jendral! Ya cari conference lain yang tenggatnya masih 2-3 bulan lagi.

Ndilalah untuk mempertajam produktivitas, Runni dan Kala dikasih sakit yang gak berenti-berenti. Kadang berasa jadi emak paling sedih anak kok gak beres-beres sakitnya. Tapi klo lirik-lirik ke luar, hoalah semua keluarga lain juga berjibaku dengan pergantian cuaca dan sakit berjamaah.
Jadilah RS jadi rumah kedua. Bolak balik tiap 2-3 hari sekali. Ya Alhamdulillah dapet sakit yang ‘ringan’, cuma betah aja virusnya jadi balik lagi, gantian teteh abang, dan ada drama mimisan jadi tampak berdarah-darah. Emang ‘bakat’ kok, bukan karena apa-apa..

Minggu-minggu itu rasanya gak berenti mencelos. Ketika malem pegang salah satu anak, ealah kok anget lagi, kok mimisan lagi. Sementara di jam kerja, gak ngampus bukanlah pilihan karena pokoknya harus maksimal sebelum dirumahkan oleh Ayah.

Ada lah sesekali mewek. Ya Allah aku capek. Kemudian inget lagi, bahwa Allah sudah mencukupkan semuanya. Saya hanya tinggal menjalankan doang, masih aja ngeluh.

Ya lagi-lagi dimudahkan, gak sekalipun sayanya ketularan sakit. Bubar jalan aja kan kalau artisnya sakit. Suka amazed sama kondisi tubuh ketika hamil, dan amazed jg sama kondisi bayinya yang selalu baik baik aja di tengah keriweuhan itu. Salah satu alasan si bayi kemudian diberi hashtag #remarkableNara. Ultimate amazed tetap ke Maha Pencipta yang membuat semua hal di atas jadi mungkin 🙂

Back to topic..

Ikhtiar dulu baru tawakkal.

Ini yang selalu terngiang. Iya ho oh gak bisa hadir visitasi, tapi ikhtiar bisa terus dilakukan.

Maka strategi berikutnya adalah mengajukan “ridho suami” untuk tetap diperbolehkan riweuh dalam kondisi yang sebenarnya impossible.

“Ini ikhtiar ayah, gak boleh tawakkal sebelum ikhtiar”

Jadi apapun hasilnya, I know that I’ve done my best in that short time. Ya walopun selalu ada pikiran
I wish I could do more, or I wish I could do this earlier

Tapi sungguh ketika beliau mengiyakan. Semacam beban berat teh terangkat, semuanya jadi ringan dan mudah. Sampai 1 jam setelah melahirkan pun dia bilang: “dah sana kerja lagi mumpung bayinya lg istirahat..”.. Dikasih berbagai cemilan juga.. Paling si ayah cuma berjengit ketika ada permintaan ngelunjak: bawain printer ke RS.

M: “Ayah orang aja pada bawa kasur segede gaban gak malu, printer kan juga bisa dong”
A: “ya kasur mah jelas buat nemenin, lha printer?!”

Sampai 1 minggu setelah lahiran, yaitu hari visitasi, semua adrenalin dan rush itu menutupi rasa lelah dan sakit. Ya ada sih, tapi diabaikan. Kadang pengen diem bentar mengingat-ingat proses kelahiran adik, rasa sakitnya, riweuhnya..

Eh tapi ternyata bagian gak enaknya terlupakan. Lupa sakitnya kayak apa sampai terus-terusan dzikir.

Ya mungkin ini salah satu mekanisme tubuh ibu yang diciptakan Allah supaya tidak trauma dengan melahirkan. Dikasih ‘lupa’ sakitnya seperti apa langsung beberapa saat ketika anaknya lahir.

Ya begitulah serunya kehamilan dan kelahiran Nara. Hal seru lainnya menunggu, sebagaimana dulu tetehnya ikut pas tesis, dan abangnya ikut pas ngajar.

Sudah 2 minggu berlalu dari masa riweuh itu. Sudah bisa tidur lama lagi. Abang teteh sudah sehat lagi. Pusingnya pindah karena mereka sehat cerah ceria jadi ribut aja padahal ada bayi tidur.

Ya semua terlewati semata-mata karena dipermudah oleh Allah, dan supporting system nya lengkap. Ada tante-tante, kunjungan eyang buat perbaikan gizi pas baru lahiran, bibi dan mba yang baik hati, serta kemudahan kemana-mana ada yang nganter dan nemenin bocah.

Dipikir-pikir, sekalipun seru, but nothing can be bragged about 🙂