Their Birth Stories

Dearossa Alexandrina Khairunnisa
Khalifa Alastair Khairunnas
Nareswara Alexander Khairunnas

Gado-gado bahasanya, kata orang.
Kok ada nama asingnya, kata yang lain.

Jawaban edisi visioner adalah karena nanti mereka go internasional, minimal sekolahnya, jadi harus ada nama pakai ejaan asing.

Jawaban edisi kurang ide adalah karena keukeuh surekeuh semua anak, berapapun itu (baca: keinginan bapaknya counter tetap lanjut, tapi dia gak ngerasain hamil dan melahirkan) nama mereka harus sama makna. Ya jadilah istilah yang diambil gado-gado asal bahasanya.

Bukankah kalau namanya sama, membesarkannya lebih gampang, karena fokus pada doa yang sama.. (padahal ya enggak juga sih, tetap aja spaneng dan ngomel tiap hari)

Eh ini birth stories, bukan name stories ya.

Back to topic.

Jadi ya, kelahiran Nara memang penuh keseruan. Sisa sisa adrenalinnya masih terasa. Untungnya sisa sisa sakitnya udah terlupakan.

Semacam sudah khatam jika kontraksi sudah rutin dan di bawah 5 menit jedanya, maka harus ke rumah sakit. It’s easier said than done.

Ya iya kalau anak pertama. Ini ada duo maut yg gantian nangis subuh-subuh. Plus yang satu akan outing, yang satu mau sit in sekolah. Keduanya gak bisa ditinggal begitu saja.

Allah memudahkan. Di rumah personilnya banyak. Jadi keriweuhan nyiapin dan anter sekolah bisa didelegasikan, hanya perlu sedikit persiapan, dan usaha ngepukpuk tangisan. Lumayan masih bisa per 3 menit beraktivitas, 1 menit diem/duduk karena gelombang cinta yang datang rasanya sungguh lumayan hehe..

Sempat teringat lahiran Runni, yang tanpa rasa kontraksinya. Sakitnya baru di pembukaan 6 ke atas. Yang hanya berjeda kurang dari 1 jam sampai ke pembukaan 10, alias lengkap.

Teringat juga lahiran Kala, yang dari bukaan 3 ke 10 juga kurang dari 1 jam, tp pake acara nyangkut karena dia mau dadah-dadah ke dokter sebelum waktunya, jadi lebih lama sedikit prosesnya dari kakaknya.

Aduh jika benar akan seperti kakak-kakaknya maka hrs segera ke RS. Akhirnya jam 6 tetap berangkat ke RS dan merelakan kalau ada salah satu kakak yang ngadat gak mau sekolah.

Lagi Allah memudahkan, jam segitu belum macet. Setengah jam kemudian dokternya dateng dan curhat sampai naik motor supaya gak kena macet. Allah juga memudahkan dengan memberikan ingatan kuat ke dokternya bahwa histori lahiran saya cepat, maka dokternya harus cepat hadir juga.

Dulu Runni harus induksi di week ke 41. Awalnya alami. Tapi cukup ibu hamil aja yang tau, induksi alami yang dilakukan dokter itu gimana haha. Horor. Cukup diingat, tidak perlu diulang.

Jadi pas Runni ke RS dalam kondisi masih cantik dan segar. Belum berasa apa-apa. Bawaan lengkap. Pasukan perang juga lengkap.

Kemudian Kala, ke RS pas udah ada tanda tapi belum ada rasa. Jadi niatnya hanya checkup. Saat itu pun baru saja masuk week 37. Cuma bawa badan, dan hape, dan dompet, dan ayah sukses cuma nganter doang gak nemenin karena ada janji ngamen..

Namun tiba-tiba harus masuk RS karena sudah bukaan 3. Biasanya orang lain disuruh pulang, tapi karena proses Runni cepat, maka Kala dikhawatirkan (padahal alhamdulillah) cepat juga. Yang lucu adalah ngebayangin ayah menghentikan tiba-tiba proses ‘ngamen’ nya pas dikasih tau udah mau lahiran hehehe. Kemudian gak jadi lucu karena dia minta tungguin. Maksudnya jangan lahiran dulu sebelum dia datang. Haiyaah.

Nara berbeda cerita. Barulah saat kelahiran dia, apa yang namanya kontraksi, menghitung kontrasi, dan berbagai teori tanda-tanda akan melahirkan bisa dirasakan. Mulai dari bangun jam 5 pagi dan kontraksi per 4 menit sekali. Sampai merasakan ada yang salah, kenapa intensitas sakitnya meningkat cepat dalam hitungan menit. Jam stgh 6 sudah 3 menit sekali. Jam 6 sudah gak wajar. Ya hayuk lah ke RS.

Di RS pun gaya minta pakai kursi roda karena gak kebayang kejet kejet sambil berdiri.

Teringat ketika Kala, di ruangan yang sama masih bisa jalan bolak balik dan chatting soal kerjaan. Sempat makan kenyang juga.

Masih di ruangan yang sama, di era Nara (halah), emak udah sukses meringkuk di kasur sambil baca jampe-jampe. Gak deng. Dzikir. Alhamdulillah masih inget bacaan yang benar di saat sulit.

Intip ke kasur sebelah, mbanya masih makan cantik sambil nunggu bukaan. Di sini juga lapar tapi apa daya T_T.

“Ya ibu, ganti bajunya ya” tetiba suster menyapa.
Haaa.. napas aja susah.. Okay, mission impossible began.

Okay, saya cuma punya waktu 1-2 menit untuk beraktivitas, dan 1 menit selanjutnya buat kejet kejet kesakitan plus dzikir. Jadilah pas 1 menit ketenangan itu datang langsung akrobat ganti baju pasien. Begitupula ketika minum dan makanan datang. Semua kegiatan dalam itungan 1 menit harus selesai, karena 1 menit berikutnya gelombang cintanya pasti datang.

Cuma beberapa jam, cuma sehari. Habis itu bisa haha hihi bertaun-taun (bila dikasih umur).

Jampe-jampe yang diinget ketika udah gak ngerti lagi gimana nahan sakitnya. Mau minta penahan rasa sakit pun udah jelas pasti ditolak dokternya.

“Ini mah akan cepet lahirnya, gak usah pake gituan” Masih terngiang-ngiang ucapan bu dokter ketika dulu bertanya tentang epidural.

7.33 Nara lahir. Kelaparan. 8.30 udah haha hihi lagi di telegram press release ke teman kantor. Yang berantai ke sekolah teteh, dan ke instagram ayah.

Beda cerita, tapi sama-sama berdurasi singkat. Sakit iya, tapi tidak sampai kecapean. Berkah dan rejeki tersendiri dari Allah untuk saya.

Siangnya sudah lanjut lagi diskusi via chat. Bahas apa sodara-sodara. Borang dan dokumen bukti untuk visitasi Akreditasi 😅

Keesokan harinya, ketika sudah bisa duduk, langsung kembali laptop. Kenapa?

Let me tell another story tentang keseruan menuju kelahiran Nara..