Learn How to Learn

Renungan tulisan sebelumnya tentang tantangan apa yang akan dihadapi anak-anak kita di masa depan menyisakan sebuah pertanyaan:

Bagaimana kita mendidik dan mengasuh anak-anak kita agar bisa bertahan di masa depan??

Jawabannya tentunya kembali ke masing-masing keluarga beserta kondisinya.

Banyak yang bilang critical thinking, entrepreneurship, computational thinking, spesialisasi, dan banyak lagi. Tentunya ini semua benar. Tapi benarkah cukup?

Sebagai muslim, tentunya kita sebagai orang tua paham fondasi mutlak untuk anak-anak adalah akhlaq yang baik. Ini jelas tidak perlu diperdebatkan.

Setelah akhlaq, maka apalagi yang diperlukan? Tentunya bukan berarti membangun akhlaq anak seperti semacam checklist yang sewaktu-waktu bisa kita “checked” atau “done“. Ini semacam pembelajaran dan pekerjaan seumur hidup.

Balik lagi ke pertanyaan awal, apalagi ya yang bisa menjadi bekal agar anak kelak mampu surviving their world.

Ada dua hal yang terus-menerus menempel di dalam ingatan. Meninggalkan PR besar untuk direnungi.

Knowing how to learn and how to focus

Looks simple.. with a BUT..

Pada tulisan ini saya mencoba menjelaskan yang pertama. Selain mencoba memantaskan diri sesuai peran, banyak bereksplorasi di sana, dan sesungguhnya masih berjibaku dengan hal nomor dua.

Learning how to learn

Mengasuh anak di era digital bisa dikatakan sangat mudah sekaligus sangat sulit. Mudah karena akses terhadap sumber bacaan ilmu parenting tidaklah berbatas. Sulit karena sangat berbeda dengan yang kita alami dulu.

Manusia memiliki fitrah belajar. Dengan demikian manusia dibekali juga dengan hal yang memicu belajar, yaitu rasa ingin tahu.

Kemudian untuk memenuhi rasa tersebut, dalam Islam kita mengenal perinta Iqra, bacalah. Saya coba interpretasikan sebagai belajar. Pun saya pahami belajar ini merupakan perintah mendasar yang mewakili makna risalah pertama yang diajarkan kepada nabi Muhammad Saw.

Jadi sebenarnya cara belajar paling baik ya jika kita memiliki curiosity, rasa ingin tahu terhadap topik yang ingin dipelajari tersebut. Diawali dengan curiousity tentang suatu hal, kemudian menjadi motivasi belajar untuk memahami hal tersebut. Jika rasa ingin tahu tersebut belumlah terpenuhi, selanjutnya kita akan mencari sumber pengetahuan. Tidak semua hal cukup dicari tahu dengan membaca.

Ada pula yang membutuhkan praktek, dari menuliskan ulang, menghitung, membuat oret-oretan, mempraktekkan, sampai mengaitkannya dengan pemahaman sebelumnya. Apa tanda bahwa belajar itu sudah cukup, ya ketika dievaluasi kita mampu menunjukkan bahwa kita paham. Makanya ada yang namanya ujian.

Sampai saat ini yang saya pahami adalah ujian tidak hanya boleh tertulis, tapi boleh beragam cara. Selama cara tersebut bisa memperlihatkan seberapa paham kita akan hasil belajar tersebut.

Tidak jarang lho kita belajar sesuatu tapi tidak pernah ada evaluasi nyata sehingga menjadikan malas melanjutkan atau tidak tahu lagi habis ini mau kemana. Contoh belajar yang sambil lalu saja, atau justru belajar suatu hal yang perlu waktu panjang sedangkan kita hanya mampu paham sebagian.

Tapi pehaman itu kan spt pieces of puzzle, ada kalanya gak serta merta pemahaman itu datang.

Pehaman datang dari Allah

Di sini kita bisa mengumpulkan beberapa kata kunci: curiousity, kemampuan akses sumber belajar, sumber pengetahuan, praktek.

Curiosity

Kemampuan Akses Sumber Belajar

Sumber Pengetahuan

hrs terpercaya

Praktek and Repeat

Last but first: adab belajar

Hal yang menjadi masalah kemudian adalah ketika ada hal-hal, cabang ilmu, yang perlu kita pelajari, namun rasa ingin tahu terhadapnya belum ada.

Saya coba mengingat-ingat contoh sederhana yang bisa dijadikan analogi. Sebuah situasi ketika kita ingin tahu sesuatu terhadap hal-hal yang gak penting, atau gak seharusnya tahu, atau gak pernah nyangka harus tahu.

Ambil contoh sederhana “kepo” akan isu/gosip, baik tentang artis maupun kejadian yang dekat dengan kita.

Maka fase berikutnya adalah membuat sebuah hal itu menarik, sehingga anak muncul rasa ingin tahunya.

Jika gak menarik bagaimana?

Langkah berikutnya adalah mengulang-ngulang. Contoh dulu ketika belajar menghapal surah pendek ketika masih kecil. Apalah paham. Tapi orang tua mengajarkan saya via berulang-ulang dibacakan ketika beliau shalat. Sehingga lama-lama tahu, hafal, walaupun belum paham.

Namun jika mengulang inipun menjadi isu misal karena ortunya juga pelupa sehingga kurang konsisten dalam mengulang. Untuk menjawabnya saya kembali ke quote: we need a village to raise a child. Child di sini berlaku juga pembelajar secara umum.

Kita perlu lho belajar bareng2.. anakpun begitu.. ntah karena kebersamaan ntah krn peer pressure dan kompetisi hehe.. ini membuat saya paham kenapa sekolah juga penting untuk diinstitusionalkan. Indeed manusia berbeda cara belajar dan rasa ingin tahunya. tapi ada kalanya kita perlu belajar bersama hal yang sama.. karena requires utk semua anak/semua orang, tp pd saat yg sama belum semua punya rasa ingin tahunya, atau belum punya prior knowledge nya sebagai prekondisi.. jadi ya dengan demikian kita perlu menghormati yg memilih homeschool dengan fleksibilitas kurikulum, tp juga menghargai yg memilih sekolah formal baik negeri ataupun swasta, karena belajar bareng2 itu perlu.

Oleh karena itu kita jd paham juga mengapa mencari sekolah anak hal yg mendasar adalah kesesuaian visi sekolah. Bagi kita yg memiliki kesempatan memilih ya. D luar sama mungkin banyak keluarga tdk bs memilih berdasarkan banyak faktor baik jarak, cost, dan lain2. Gak mungkin juga satu sekolah perfectly fit dengan apa yang kita mau, tp kalo visinya sama, insya Allah yang lain-lain bisa dikompromikan. Salah satunya kesamaan visi (in general) dengan orang tua lainnya. Ini bs jadi momok tersendiri lho. Lain halnya jika udah sevisi, maka hal ini sudah tdk lagi jd concern, dan ke depannya jadi bisa fokus bersama mengasuh anak2 d sekolahnya.

Ada tulisan dalam buku bunda cekatan yang klo boleh saya kritisi. Di kala anak gak suka suatu pelajaran maka tdk boleh dipaksakan krn misi kita meninggikan gunung, bukan meratakan lembah. I beg to differ. Ada lho kalanya anak ataupun kita harus belajar hal yang kita gak suka. Tapi somehow harus. Misal gini, eh ini mah saya yah, ketika gak bs statistik, tapi semua penelitian mensyaratkan statistik, masa mau ditinggal begitu saja. Contoh lainnya adalah pada anak sendiri. Dan ini menyadarkan saya utk tidak serta merta mengikuti istilah meratakan lembah. Yang anak saya gak suka pelajaran apa coba: tahfidz dan membaca Al Quran. Nah kan. Ini bener-bener tamparan. Tapi jika pake istilah gak bole meratakan lembah, makanya tentunya ini saya tinggalkan saja dan “ya uweslah ntar juga bisa”.. Tapi emangnya boleh? Hehe. sbg muslim ini hal yg harus dipelajari, klo bs sedini mungkin.. Jadi menurut saya boleh lho tetap memperjuangkan suatu topik untuk dipelajari, mencari cari cara paling disenangi untuk belajarnya, mencari sumber belajar paling baik, dll. Dengan tetap membawakan nilai yg diangkat dalam meninggikan gunung, meratakan lembah, yaitu jangan sampai anaknya/kita yg belajar jadi stress. Tapi pusing2 dikit boleh lho hehe.. Ada seorang profesor yg bilang klo kita udah feel overwhelm brarti otaknya lg usaha mengembangkan kapasitas berpikirnya.. jadi eventually, takes time, we would understand those difficulties.