Konferensi Ibu Profesional

Cukup niat sederhana untuk mendapatkan semua

Mungkin ini 1 kalimat yg tepat untuk menggambarkan apa yang didapat dalam 3 hari mengikuti konferensi Ibu profesional.

Terasa berkah Allah datang ketika kita meniatkan diri belajar, beserta kerendahan hati siap menerima ilmu dari siapapun itu..

Awalnya ketika melihat flier Konferensi Ibu Profesional, hanya lihat judul, tidak lihat list pembicaranya siapa. Saya hanya tau: apapun isi acaranya, siapapun pembicaranya, ini bisa jadi kesempatan yang tidak datang 2 kali..

Daftar pun iya iya aja, alias daftar dulu baru izin (jangan ditiru) ๐Ÿ˜…

Buat saya yang selalu merasa kecil, hal yang menjadi kebutuhan adalah bertemu para ibu, wanita, istri yang selalu bisa membakar semangat belajar dalam kebersamaan..

Day-1

Allah memanggil bukan bagi yang mampu tapi Allah memampukan yang mau bergerak

Banyak cerita yang saya dapat serasa di dunia lain. Ada ya ibu di luar sana yang sedemikian rupa perjuangannya. Lha saya? Quote di atas mengingatkan kembali bahwa bukan masalah siapa hebat, siapa bisa. Melainkan siapa yang mau?.

Kuncinya dengan bersyukur, melihat ke bawah dalam hal fasilitas hidup, melihat ke atas dalam hal sudah melakukan apa, apakah sudah menjadi changemaker?

Selain itu janganlah terus merasa kecil. Ada sebuah quote baru dari bu Septi yang menyadarkan saya.

Jangan sering-sering bilang diri remahan rengginang, ya jadi aja terus remahan, kok mau sih?

Iya juga ya. Selama ini sibuk pisan merendahkan diri, jadi aja kejadian beneran. Maksudnya kejadian sesuai omongan, yaitu gitu gitu aja, kurang maksimal dalam berkarya.

Mulailah dulu dari hal kecil. Menyuarakan hal yang selama ini menjadi momok bagi diri. Ditekuni. Walaupun sendirian. Walaupun orang lain tidak paham.

Day-2

Pernyataan di atas kemudian diperkuat dengan cerita rekan rekan Ibu Profesional dari kota lain. Semua memiliki kesamaan, yaitu inisiasi sekecil apapun jika ditekuni, pasti dapat tumbuh besar dampaknya..

Dream It

Menjadi changemaker bukanlah perjalanan instan mengubah sesuatu yang besar. Cukup melihat masalah yang ada di depan mata dulu. Lalu mulailah mencari solusi sederhana terhadapnya.

Do It

Menjaga tetap semangat itu dengan terus diobrolin, ditulis.

Selain itu berkumpulah dengan orang hebat di bidangnya. Ini mungkin bisa juga diinterprerasikan dengan orang sholeh ya. Contoh nyatanya ya berkumpul di KIP ini. Mungkin gak bs kecipratan hebatnya, tapi bisa kecipratan semangatnya.

Jika sudah begitupun, ada kalanya tetap bertemu kesulitan.

Klo sudah berasa sulit banget, sampe mau quit, maka yakinlah rahmat Allah udah deket

~ Pak Dodik

Tetap lakukan, tetap lanjutkan.

Share it

Jangan buru buru Share, sebelum Do.. Jadi tidak terlalu banyak pikiran akibat memikirkan “apa kata orang lain”

Dream It
Do It
Share It
Grow It

Day-3

Di hari terakhir, banyak cerita yang bisa diambil pelajaran dari ibu Tri Mumpuni.

Tugas orang tua memberikan pemahaman terus menerus bahwa manusia harus terus berbagi untuk kebermanfaatan orang lain.

Ini menjadi reminder pertama di hari itu. Bagaimana pola asuh dan wejangan sederhana dari ibunya, namun konsisten, dapat membentuk seorang Tri Mumpuni.

Setelah wejangan nilai-nilai hidup, selanjutnya adalah memberikan teladan.

Bahwa memberikan manfaat untuk orang lain, bisa dimulai dari hal sekecil apapun. Siapa menyangka bahwa sebelum menjadi tokoh yang bisa menerangi 60 dan lebih daerah terpencil, ibu Tri berkontribusi dengan mengeramasi anak-anak yang kutuan dan mengobati kudis.

Ibu juga bercerita bagaimana kita harus bersyukur terhadap apa yang kita miliki.

Kita ni benar-benar dirahmati Allah bisa dilahirkan dalam keluarga yg diberikan kemudahan di semua hal. Bagaimana jika dilahirkan di tempat yang masih kurang peradabannya, tidak ada air, tidak ada listrik?

Kalian tu ya kalo gak bersyukur kebangetannya pangkat seribu

Adapula ibu memberikan insight yang menjawab kekhawatiran para ibu di zaman sekarang.

Sertakan anak-anakmu dalam berbagai kegiatan sosial yang mereka sukai. Iya juga ya, ketikq anak-anak di masa teenager bisa disibukkan dengan kegiatan sosial, maka mereka jadi gak sempat galau, gak sempat aneh-aneh.

Tumbuhkan empati kepada anak-anak bahwa ada anak yg lain “gak bs memilih lahir dimana”.
Dengan harapan kelak, untuk jangka panjang dapat membawa perubahan.

Nah ada lagi yang sedikit mengobati hati untuk saya yang memilih tetap berkarya di ranah publik.

Beliau mengatakan, untuk perempuan yang insinyur beruntung lah karena diberkahi Allah, maka berikan teknologi itu untuk membebaskan para wanita di luar sana dari berbagai pekerjaan sulit sehingga bisa ada waktu utk mengurus anak.

Ini mungkin cocok dengan yang ibu lakukan ya. Beliau benar membebaskan para wanita yang tadinya harus berjam-jam ngambil air.

Untuk kita di tempat yang sudah more civilized, bisa diartikan bahwa kalau bisa memudahkan para ibu di luar sana. Bisa dalam bentuk apapun, ya dalam belajar, ya dalam memiliki akses ke ilmu parenting maupun ilmu lainnya. Intinya adalah agar para ibu bisa berkarya dan mengurus anak dengan baik.

Di tangan perempuan lah generasi dipertaruhkan.

Sekian.

Sekarang acaranya sudah selesai, semoga kelak bisa mengikuti acara serupa..

Semoga semua pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk menjadi pribadi yg lebih bermanfaat, bagi keluarga, maupun masyarakat ๐Ÿ™‚

Semoga tulisan ini juga bisa menjadi memento sekaligus pembelajaran bersama bagi siapapun yang sempat mampir.