Ku Ingin Hidup 1000 Tahun Lagi: Sebuah Rekam Jejak di Masa Wabah Covid19

(catatan gondrong ini adalah catatan harian dan di-update berkala ketika mood nulis #eh dan tentunya ketika masih ada umur 😊)

Tak pernah sebelumnya, ujung kehidupan itu terasa begitu dekat. Ntah itu diri kita sendiri, mereka yang tersayang, lingkaran terdekat, maupun kenalan jauh.

~~~~~~~~~~~~

Di awal masa, ketika headline news masih berputar tentang Wuhan

Percayalah saya udah buka wolrdometer tiap hari di masa ini. Sebuah web yang baru booming di share dan reshare ketika kasus di Indonesia beranjak naik.

Trus mengapa ini menjadi kalimat pembuka? Untuk menekankan saya bukan kemarin sore mantengin data. Bukan orang medis dan statistik memang. Ya tapi bisa lah memahami data.

Ikut ramai. Tidak. Bukan karena masih jauh, tapi masih belum bisa paham apa yang terjadi.

~~~~~~~~~~~~

Ketika headline news bergeser ke Diamond Princess
Berita ini cukup langka di Indonesia. Baru ramai ketika puluhan kru WNI minta dijemput. Akan tetapi ini berita yang saya juga ikuti sehari-hari. Berita yang berujung pada kesimpulan, jarak sempit antar orang meningkatkan probabilitas penularan.

~~~~~~~~~~~~

Ketika Korea mendominasi berita, namun bukan tentang artis dan idolnya

Lonjakan angka yang terjangkit di Korea kemudian menjadikannya headline news selama beberapa hari. Pelajaran berharga yang dipetik adalah bahwa kegiatan berkumpul banyak orang sangat rentan membuat lonjakan angka penularan. Sekalipun itu untuk beribadah.

Sekali lagi ya, betapa dulu banyak menyia-nyiakan nikmat ibadah bersama-sama. Kemudian beberapa pekan berikutnya giliran di negara sendiri harus meniadakan berbagai shalat jamaah di mesjid.

Awalnya hanya suara sedih mua’adzin dari negara Timur Tengah yang bisa kita dengar melalui video viral. Akan tetapi akhirnya suara sedih itu juga terdengar setiap hari, 5 waktu, dari mesjid di dekat rumah. Untaian kalimat Adzan yang harus berganti, tidak jarang membuat sang mua’adzin bergetar dan bahkan lupa lanjutan kalimat berikutnya.

Bagaimana sedihnya mereka mungkin tidak terbayangkan oleh kita semua.

~~~~~~~~~~~~

Ketika lelah dan menjauhi berita..
….

Kemudian, Italy menjadi trending topic dunia
Saya gak sanggup bacanya. Betapa sedihnya rakyat Italy dan berbagai negara Eropa pastinya.

Terbayang mungkin dalam beberapa peka, Kita lah yang akan berganti posisi dengan mereka. Pikiran itu hanya bisa selesai dengan kembali berdoa kepada Allah. Angkatlah wabah ini dari bumi ini, dan jagalah seluruh muslimin dan muslimah di seluruh dunia. Amin.

~~~~~~~~~~~~

Akhirnya giliran Indonesia yang siaga

Saya menyebut masa ini sebagai titik awal perjalanan dan perjuangan masyarakat Indonesia melawan virus ini.

16 Maret 2020

Saya terbangun dari tidur dan memandangi wajah anak-anak. Betapa mereka adalah Apple of the eyes. Keindahan dunia yang sesungguhnya.

“ya Allah, aku ingin hidup 1000 tahun lagi untuk membersamai mereka”

Ah ya Allah, begitu banyak waktu selama ini terbuang untuk hal-hal kurang bermakna.

17 Maret 2020

Begitu banyak doa dan harapan tentang upgrade diri yang terkabul di masa ini. Bagaimana makanan jadi serba sehat, makanan tidak terbuang, most of time didedikasikan untuk anak-anak.

Sampailah ke masa titah suami tidak boleh keluar rumah dan work-from-home pun sudah dideklarasikan.

18 Maret 2020

Pening dan burem seharian. Melihat yang sesungguhnya masih bisa wfh, namun tidak. Apapun alasannya saya pahami.

But this is a whole new different situation, this is crisis when no one sure how to get out.

Sesungguhnya wfh itu privilege, walaupun gak enak, keterbatasan akses maupun pengurangan pendapatan. Tapi yang sederhana ini bisa meringankan beban teman-teman kita di kesehatan, Garda terdepan dalam melawan virus ini.

Kemewahan ini pula yang tidak diperoleh teman-teman di layanan support, layanan publik, kebutuhan dasar, dan farmasi. Layanan yang harus tetap ada, baik di kantor kita, maupun kantor layanan publik lainnya, agar kita semua bisa #stayathome

Hargailah mereka. Caranya gampang. Stay at home. Jauhi kerumunan. Sesehat apapun.

Mereka tidak bisa pulang ke rumah dari tempat kerja demi keselamatan kita, maka tolong lah, tinggal di rumah saja demi mereka.

We don’t go home for you, so please stay at home for us

~para dokter dan suster~

Gak harus juga ya sampai ada kasus di orang terdekat baru menyadari betapa ini situasi berbeda.

Lebai. Biarin. Untuk keadaan seperti ini, lebai dalam preventif lebih baik daripada abai. Lebai boleh. Parno dan panik yang gak boleh.

Satu hal yang saya percaya, didahului iman dan taqwa kepada Allah serta tawakkal, hal yang bisa menyelamatkan kita semua sampai nanti masanya usai adalah Humanity. Kemanusiaan. Kondisi dimana kita berusaha menekan kepentingan pribadi demi keselamatan yang lain.

Susah. Pake banget. Jadi mulailah dari hal terkecil. Gak perlu juga membandingkan dengan artis korea atau konglomerat sana yang menyumbang miliaran. Cukup dengan kalau bisa di rumah, ya di rumah aja. Keluar hanya jika benar-benar perlu.

~~~~~~~~~~~~

19 Maret 2020

Betapa bangga ayah dan sumringah ketika bawa paket yang baru saja diantarkan kurir paket.

“No, ayah. Taro di atas rak. Itu tempat transit semua paket. Aku semprot dulu. Kamu cuci tangan. Baru beraktivitas yang lain lagi. ”

Kemudian dia bengong. Sekian.

~~~~~~~~~~~~

26 Maret 2020

Hari ini Bapak pembimbing mengingatkan untuk fokus disertasi. Untuk suatu hal yang butuh kontemplasi tingkat tinggi, tentunya ini gak mudah di masa ini.

Akan tetapi teringat, kita teh bukan siapa siapa. Bukan petugas medis yang tiap hari menyaksikan dan berhadapan langsung dengan mereka yang sakit dan mereka yang berpulang.

Beliau juga bercerita bagaimana dalam 2 hari kehilangan banyak sahabatnya. Kalau sedih ya sedih beliau, namun masih bisa mengingatkan untuk terus fokus.

Sedikit pikiran berkelebat. Saat ini kita semua sedang dikejar waktu. Bukan karena deadline, bukan karena beasiswa habis, akan tetapi bisa saja salah satu dari yang terlibat dalam perkuliahan ini yang waktunya habis.

Sehatkanlah Bapak pembimbing ya Allah. Sehatkanlah para pemikir besar yang dapat menyelamatkan negeri ini, yang dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik. Kami sudah kehilangan banyak pemikir besar, semoga amalan ilmu beliau beliau yang lebih dahulu meninggalkan kita, bisa menjadi jariyah yang tidak ada habisnya.

Amiin.

Hari ini teteh mengajak bungkus2in hand sanitizer. Buat siapapun yang lewat depan rumah dan masih jualan. Barangkali mereka lebih butuh untuk makan, sehat urusan belakang. Akan tetapi ya semoga yang kecil ini bisa menolong agar mereka tetap sehat dan mencari rezeki. Amin.

Hari ini death rate kembali naik. Hati ini bersedih. Akan tetapi hanya bisa berdoa, semoga semua yang sakit esok hari diberikan kesehatan. Angka kesembuhan semakin banyak. Angka kematian sedikit atau stuck gak naik naik. Amiin.

~~~~~~~~~~~~

27 Maret 2020

Kuterbangun dari tidur.

Kurapalkan doa, ya Allah muliakan hidup orang tua hamba, mertua hamba. Limpahilah mereka dengan kesehatan. Bahagiakanlah mereka, jangan hidup dalam ketakutan.

Ya Allah jagalah suami hamba jika harus bertugas di luar rumah. Jika harus bertemu banyak orang.

Berilah kami semua kesehatan.

Ya Allah tolong angkat wabah ini dari dunia ini. Tolong kami ya Allah untuk sanggup menerima segala ketetapanmu jika ini yang terbaik.

Ijinkan kami beraktivitas kembali di luar rumah. Ijinkan kami sehat. Ijinkan yang sakit agar diberikan kesembuhan. Bisa merasakan bulan puasa. Ijinkan semua shalat di mesjid kembali.

Teringat betapa banyak nikmat dan karunia yang dilewatkan karena silau akan dunia. Silau dengan segala fasilitas dan kemudahan akses informasi.

Maafkan kami ya Allah. Ampunilah kami semua. Izinkanlah kami mendekatkan diri padaMu ya Allah.

Jika sampai waktunya habis, kami sudah punya bekal yang cukup. Amin.

~~~~~~~~~~~~~~

28 Maret 2020

Hari ini berkesempatan mengisi perkuliahan online untuk Gform dan rekapitulasi. Mudah-mudahan ada manfaatnya walaupun hanya untuk sedikit orang.

Hal seperti inilah yang menjaga kewarasan. Setidaknya walaupun sedikit bisa melakukan sesuatu. Walaupun sesuatu itu untuk yang sehat, bukan meringankan beban yang sakit maupun tenaga medis.

Semoga esok hari juga diberikan kesehatan dan kelapangan pikiran untuk membantu kelancaran perkuliahan online mahasiswa di kampus sendiri.

~~~~~~~~~~~~~~

29 Maret 2020

Menghadapi hari-hari seperti ini itu setiap pagi saya mencoba untuk mengucapkan syukur hamdalah atas wonderful life yang telah diberikan. Berkah rahmat yang telah diberikan, dan terus berdoa diberikan kesempatan semakin mendekatkan diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Ada quote dari sebuah tauziah yang saya peroleh di WAG. Intinya potongannya seperti ini:

“…jawablah dengan benar…”

Maksudnya adalah menyikapi keadaan dengan tindakan yang benar.

Ini selalu terngiang di kepala saya. Jika hati masih selalu cemas, jika keadaan tidak bertambah baik, saya selalu kembali ke potongan quote ini.

Bahwa ada hal yang masih salah jawabannya. Saya tidak merefleksikan terhadap orang lain, pemerintah, negara lain atau bagaimana. Hanya terhadap diri sendiri dulu saja.

Banyak ruang perbaikan yang diberikan oleh Allah kepada saya dan keluarga. Masih bisa memperbaiki ibadah, sikap, cara hidup, dan berbuat sesuatu untuk orang lain. Sedikit-sedikit memang. Tidak apa-apa. Setidaknya masih diberikan waktu πŸ™‚ syukur yang tak terhingga untuk itu semua.

Kemarin malam abang demam. Demam biasa pun di masa seperti ini bisa membuat hilang logika. Cemas. Panik. Teringat lagi quote di atas.

Masih ada jawaban yang salah

Hari ini saya tersadar, bahwa satu perbaikan diri yang harus dilakukan adalah kembali ke home treatment. Hal yang perlu dilakukan secara sabar, tidak ada jalan pintas dengan bertanya ke dokter, dan harus rutin dilakukan.

Benar juga. Saat ini rekan dokter pastinya masih riweuh, kasian kalo harus juga mengurus orang sakit lainnya. Kami yang di rumah seharusnya bisa lebih menjaga diri dan kesehatan.

Ah itu lesson learned untuk hari ini. Alhamdulillah. Semoga hari esok lebih baik.

~~~~~~~~~~~~~~

12 Mei 2020

Ah it’s been a while since I write in this blog.

Sedikit saja kali ini ingin menuangkan isi hati. Sedih rasanya melihat rakyat masih gigih berjualan, gak laku. Hal yang tidak mungkin dilakukan jika negara kita dalam kondisi lockdown.

Sampai gak tau lagi, manakah yang lebih baik. Diam tenang menunggu bansos, atau berusaha di luar sana.

Selalu jampe-jampe yang menenangkan hati adalah mereka yang tetap berusaha ini mungkin akan ringan hisabnya. Habis harta yang yang perlu dipertanggungjawabkan di akhirat. Mungkin di dunia kitanya kasian pada mereka, mungkin di akhirat, kitanya minta ukuran pertolongan pada mereka.

Kemarin rasanya saya merasa pintar, sehingga ingin Indonesia seperti negara lain. Mengikuti kebijakan yang dilakukan negara lain.

Kemudian, saya melihat negara lain, yang dalam suatu hal lebih dr Indonesia, namun dalam hal lain tidak.

Saya belajar kembali, bahwa manusia teh ilmunya setitik debu pisan. Bahkan sebenarnya manusia gak tau pasti mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi saat ini, semua serba baru. Dalam kondisi yang faktor terkait ya unlimited, alias banyak sekali konflik kepentingan. Dalam kondisi normal aja kita semua masih tertatih.

Sayangnya di Indonesia orang pintar ya banyak sekali. Semua mau berkomentar versi yang menurut mereka benar. Yakin benar? Kenapa sih gak tenaganya tu buat sesuatu yang memang tahu ilmunya, bukan saling menyerang. Berperanlah sesuai perannya. Lebih membantu. Toh, lapisan masyarakat kita sungguh banyak. Ruang kontribusinya besar.

Malah pada memilih menyerang orang yang dari bidang berbeda, dalam posisi kitanya juga belum tentu paham. Atau orang yang harus berpikir multi aspeka, sedangkan kitanya cuma paham 1 aspek aja. Atau merasa paham banyak hal padahal baru setitik debu.

Yakin ya, lebih memilih cara hidup seperti itu, daripada nabung pahala. Yakin ya, kita teh pantas hidup dalam kondisi yang lebih baik, padahal kitanya masih begini begini aja.

Sekian kekesalan 2 hari ini. Semoga beberapa bulan lagi tulisan ini sekedar jadi memento, masa lalu, yang tidak terulang lagi.

~~~~~~~~~~~~~~

13 Mei 2020

Saat ini kondisinya semacam suram. Dalam hal angka mungkin tidak, dalam hal kenyataan, iya. Akan tetapi kembali saya berpikir. Manfaatnya apa kalau resah gelisah rusuh ribut? Gak ada. Gerd kambuh paling banter. Gak mau banget, apalagi di bulan puasa.

Jadi kondisi intinya sama, hal yang harus dilakukan masih sama, kesempatan yang bisa dilakukan juga sama. Jadi bersikaplah sama, terus berdoa, terus bersyukur, dan semoga terus diizinkan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, walaupun kecil.

Semoga Allah cukupkan ikhtiar dan doa kita untuk bisa bangkit.

Semoga kita semua diberikan yang terbaik. Dicukupkan bekal akhirat dan dunia.

Ya Allah sayangilah mereka yang kurang mampu, cukupkan lah rejeki dan perut mereka. Luangkanlah hatinya, bahagiakan mereka. Amin.

Ya Allah, lapangkanlah hati para pemimpin, dalam hal apapun. Bukakanlah pikirannya atas berbagai solusi yang terbaik dari semua solusi sulit yang ada. Amin.

Ya Allah, ijin kan anak-anak kelak hidup dalam kondisi yang lebih baik, ntah apapun itu. Kondisi sehat dan tanpa ketakutan panjang. Amin.

At a moment like this, I can’t even differentiate between good or bad. Coz maybe it seems good, but actually on the other side, it is really bad.

~~~~~~~~~~~~~~

14 Mei 2020

Hari ini anak anak sungguh ceria.. Banyak teriakan dan canda tawa.

Dan ini semua nyata. Saatnya dinikmati dan disyukuri. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan.

Ketika resah, ada bait-bait kalimat yang saya selalu coba ulang-ulang.

Semua ada, semua hal yang diinginkan di dunia sudah Allah berikan, yang belum kesampaian justru kewajiban untuk menjadi hamba dan makhluk yang lebih baik. Ya Allah terima kasih untuk kehidupan indah yang sudah diberikan. Jikalau umur tidak panjang, terima kasih sudah memberikan kesempatan merasakan surga dunia dalam wujud berkat dan rahmatMu.

~~~~~~~~~~~~

21 Mei 2020

Tentunya topik baju lebaran dan belanja saat ini menjadi hal menyakitkan bagi sebagian besar orang, termasuk saya. Sudah gak paham lagi, kenapa sampai harus bebelian.

Banyak orang patah hati, terutama karena merasa semua perjuangan ini sia-sia. Ya Allah, cukupkan ikhtiar kami ya Allah. Pasti tidak ada yang sia-sia kan ya.

Dulu hasil TM saya adalah futuristic. Ketika tes ulang kemarin, kekuatan futuristik itu merosot. Ntah berhubungan atau tidak. Barangkali karena tes nya di masa pandemi, maka pikiran otomatis hanya sampai beberapa hari ke depan.

Doanya pun hanya itungan minggu.

Sampaikan lah ke Ramadhan.

Sampaikan lah ke lebaran.

Sampaikan lah ke ultah abang (7 hr setelah lebaran)

Udah itu aja. Saya pribadi sampai gak tau mau berdoa apa. Gak tau apa yang membuat diri lebih pantas dari yang lain untuk tetap sehat.

Cukupkanlah ikhtiar kami ya Allah. Kuatkanlah kami menerima segala ketetapanmu. Masukkanlah kami ke golongan orang-orang soleh, berpulang dalam khusnul khotimah, dan yang hisabnya mudah ketika di akhirat kelak

22 Mei 2020

“mendoakan orang lain, cukupkan perut rakyat ya Allah, berikan kebahagiaan pada mereka”

Tapi terus yang didoakan gak mau diselamatkan.

Ini masa-masa saya bisa relate dengan jelas (walaupun jauh dari sempurna) perjuangan dakwah para nabi dan rasulullah. Umat bebal Sedari dulu sudah ada. Sekarang pun. Bukan apa-apa, sebabnya sama, kejahiliyahan.

Ini teh bener-bener bukan saja perjuangan melawan covid-19, tapi juga stupidity. Ya Allah gusti. Mereka yang tetap keluyuran atas dasar kurang penting itu bukan gak tau, bukan gak punya hati nurani, tapi belum paham. Titik. Paham kan cuma diperoleh dari ikhtiar, keterbukaan, keikhlasan hati, dan restu Maha Pencipta.

Ingin rasanya mendoakan semoga yang umplek-umplekan ada yang kena, trus diberitakan, trus was was massal. Ya tapi apa gunanya. Ada pula harus umplek2 an untuk sekedar antri BLT. Sekedar memanjang kan hidup. Ntah kenapa yang mendistribusikan gak kepikiran cara lebih baik daripada di antraian. Misal dibagi beberapa gitu. Ya tapi sekali lagi, saya mah penonton. Komentar bisa, ngritik bisa, tapi belum tentu ide sendiri bisa diterapkan.

Saat ini satu salah, yang menanggung ramai-ramai.

Tetap yang paling menderita adalah nakes dan rakyat miskin tapi nurut.

Buat apa kan membuat mereka menderita. Yang ada justru mendoakan terus menerus.

Justru ketika saya merasa, ini kita dapet presiden sayang rakyat lho, gimana kalo yang cuek. Udah gitu, teriak bantuan pemerintah, udah lah dikasih, dipake belanja baju.

Gakpapa sih. Tapi janganlah sampai menawarkan diri untuk jadi inang corona dengan memaparkan diri. Ah ya Allah. Tulisan gini ya hanya bisa hamba ceritakan padamu. Ingin sekali bisa ngomong di depan yang masih wira wiri belanja, mbo ya kasian sama nakes.

Halah Boro-boro. Bener sih. Ini kan ke keluarga juga gak sayang, ya walaupun atas nama sayang belanjanya. Tapi caranya salah. Sesungguhnya bukan karena sayang keluarga, tapi karena tradisi yang sayang dilewatkan oleh orang tersayang. Beda kan.

Ya Allah, izinkan kami sehat, bisa melakukan sesuatu untuk mengurangi kejahiliyahan, dikuatkan menghadapi ini sampai saatnya nanti mereda. Selamatkan bangsa ini ya Allah, sekalipun kami jauh dari pantas. Amin.

~~~~~~~~~~~~

This is the most scariest time, but we’re in this together. Maybe. Not sure anymore, coz people like to be citizen of Korea, Japan, what again? Ya anything is okay, except our own country.

~~~~~~~~~~~~

Sudah, saya speechless. Speechless tapi tulisan panjang 😁.

Selalu, hormat saya setinggi-tingginya untuk semua rekan di sektor apapun yang harus tetap masuk kantor menjaga amanahnya. Semua hanya demi masyarakat lainnya bisa bekerja di rumah.

Doa teriring selalu untuk rekan di dunia medis. Semoga selalu diberikan kesehatan, dimudahkan, ketabahan dalam menjalankan tugas.

Doa juga selalu teriring untuk mereka yang golongan paling rentan, dan mereka yang uang kerja hari itu untuk makan hari itu. Serta mereka yang akses ke hape dan tv pun terbatas.

Doa juga untuk para pemimpin kita, semoga diberikan keleluasaan berpikir dan kelapangan hati dalam mengambil keputusan sesuai hati nurani dan keselamatan rakyat.

Ya Allah, jagalah rakyat Indonesia dan Bantulah kami melewati semua ini. Indonesia bisa.

Stay at home.

Keep Social Distance.

Stay Safe.

Stay Healthy.