Learning about Mentorship

Inilah fase akhir dari kelas bunda cekatan. Belajar menjadi mentor dan mentee, dalam utamanya menjadi mentee. Mentor adalah dia yang mau sharing pengetahuan. Mentee adalah dia yang mau belajar dan berkembang dengan didampingi mentor.

Saya sudah pernah mengalami menjadi pengajar dan fasilitator belajar. Untuk mentoring ini ternyata cukup berbeda. Kita diminta untuk menggali potensi dengan cara yang intense. Satu lawan satu. Prinsipnya adalah setiap orang punya kebutuhan belajarnya sendiri. Oleh karena itu, pendampingannya juga harus satu-satu.

Bu Septi mengatakan ya beginilah cara belajar seharusnya. Ya setuju, walaupun memang untuk ideal seperti itu, butuh banyak effort jika ditetapkan di pendidikan yang berbasis massa dengan keterbatasan jumlah pengajar.

Motivasi dan kemampuan identifikasi kebutuhan belajar juga salah satu bekal yang perlu dimiliki, agar program seperti ini bisa berhasil. Ya setidaknya kita bisa tetapkan dulu di dalam rumah sendiri bersama anak masing-masing. Anak sendiri aja sudah berbeda satu sama lain. Pun kebutuhan belajar mereka. Apalagi banyak anak dari banyak orang tua. Hehe. Pasti beragam juga bekal terkait hal ini sesuai bagaimana pola pengasuhan di rumahnya.

Ah PR pisan ya. Menduplikasi sistem seperti ini dalam lingkup yang lebih besar. Eh ini bukan bagian dari isu yang harus dikerjakan di kelas bunda cekatan ini sih. Ini hanya pertanyaan besar yang sering saya tanyakan ke diri sendiri sebagai bagian dari dunia akademisi.

Anyway, now I should talk about the first and second week experience in Bunda Cekatan class. Surely, it is exciting😍. Let me tell you, one by one.

Being a mentor

Saya membuka mentorship di bidang online learning dan gform gsheet. Ya, inilah dua hal yang saya percaya diri sekaligus yakin belum banyak yang bisa, padahal butuh. Hehe. Sombong sih.

Ya bener. Ternyata justru saya berkesempatan belajar. Saya mendapatkan mentee yang keduanya memiliki tujuan akhir untuk berbagi. Senang dan semangat rasanya bisa ikutan turut serta.

Mentee pertama ingin belajar gform karena masih nol pemahamannya. Tujuannya ingin bisa membuat form pendaftaran kelas pelatihan dan merekap datanya. Pelatihan ini adalah bentuk kolaborasi dan sinergi, hal yang ingin dia tuju dalam mindmap belajar nya. Jadi memang gform dan gsheet adalah benang merah untuk mendukung dia bersinergi dengan komunitas.

Selain itu, mentee ini juga guru. Sehingga perlu dukungan dalam pengetahuan mengenai Online learning. Saya terharu skaligus senang karena kali ini saya benar-benar mendapatkan gambaran nyata kondisi lapangan tentang online learning di level sekolah menengah. Khususnya untuk kasus mereka yang dalam keterbatasan biaya untuk pulsa.

Ini ketika mentor pun belajar dari mentee, karena selama ini saya tau nya teori ideal. Teori ini perlu dibentrokkan dengan dunia nyata, yang tidak ideal. Semoga dengan ini, kami berdua bisa sama belajar dan mencari solusi yang baik dan bisa diterapkan. Amin

Mentee kedua adalah dia yang ingin menggunakan gform dan gsheet untuk membantu ibu-ibu berjualan. Ya, inilah satu hal yang sayapun belum pernah mencoba. Bidang dagang.

Ini juga jadi momen mentor belajar bersama mentee. Konteks penerapannga lebih dikuasai mentee, teknisnya oleh mentor. Semoga dapat berkolaborasi untuk menemukan sesuatu yang baru.

Being a mentee

Saya mengambil topik mentee di bidang Tazkiyatun Nafs. Sejujurnya ini tidaklah pernah ada di mindmap belajar saya. Sekilas mendengar tentang konsep ini ya pernah. Akan tetapi belum pernah benar-benar mencari tahu.

Saya refleksikan kembali perjalanan selama di bunda cekatan untuk menemukan korelasinya. Tentunya bukan hanya bunda cekatan, tapi juga kondisi saat ini yang memang sedang berbeda. You know. Pandemi dan segala efeknya.

Awalnya dulu saya membuat peta belajar semua yang mendukung kegiatan di ranah publik, baik untuk belajar maupun mengajar. Seiring waktu saya pahami bahwa ini ranah yang saya bisa, dan akan terus bisa karena ada ruang untuk berlatih. Sedangkan ada ranah penting dengan ruangan berlatih besar tapi kalau tidak ‘diadakan’ maka ya berlalu begitu saja.

Apa itu? Menjadi cekatan di rumah 🙂 Kesempatan di rumah selama berminggu-minggu, dan bahkan bulan, menjadikan saya banyak melakukan introspeksi. Ada sebuah hal besar yang mengalami perubahan mindset.

Dulu saya menggunakan argumen bahwa bekerja di ranah publik itu adalah panggilan dan juga karena saya kurang bisa produktif di rumah. Nah di sini saya sadar, alasan pertama memang tidak akan pernah bisa dinegasikan. Akan tetapi alasan kedua bisa.

Oiya, belok dulu ke perihal lain. Ini nantinya juga berkaitan dengan tulisan pada paragraf sebelumnya. Saya gampang banget emosian dalam menghadapi teteh, kemudian abang. Pendek banget sumbu sabarnya. Paling hanya itungan menit. Saya sampai mencari-cari alasannya. Mulai dari alasan kesehatan, sampai alasan bahwa anak-anak ini memang gifted, alias tidak biasa.

Menyambung yang sebelumnya, akhirnya saya menyadari, ada hal yang hilang jika saya menekuni ranah publik saja. Berbagai pekerjaan rumah, belum yang rutin, yang sederhana bisa dilakukan di wiken, seperti bikin kue, menemani anak main, nyuapin anak, dan menemani anak belajar, ini sebenarnya besar pembelajarannya.

Sabar. Harus alon-alon supaya klakon.

Ya. Bekerja dan sekolah itu kan disertai timeline dan deadline. Tugas selesai, selesai pula urusan. Nah, ini gak bisa di rumah. Untuk sekedar check-done 1 tugas aja bisa seharian atau bahkan berhari-hari.

Ini menjadi penyadaran saya, bahwa bersinar di luaran itu mudah. Hanya perlu “mau”. Sedangkan bersinar di “dalam” itu perlu banyak bekal. Oleh karena itu dalam stage kelas bunda cekatan sebelumnya, saya mencoba mengosongkan pikiran dulu, untuk mencari benang merah kehidupan. Halah. Maksudnya, mencari sebenarnya apa yang harus dicari dan ditekuni.

Hasilnya ya ingin lebih belajar sabar dan menekuni kegiatan ibu yang di dalam rumah. Tentunya, berhenti bekerja di ranah publik bukan pilihan. Akan tetapi pivot fokus masih bisa dilakukan. Semoga bisa.

Nah, proses ‘mengosongkan’ diri ini berujung pada keinginan belajar membersihkan diri, membersihkan hati. Dengan demikian, semoga bisa lebih sabar dalam menjalankan semua peran yang ada, tanpa meniadakan satu sama lain. Juga dalam menerima ilmu sesuai dengan adabnya.

Inilah pencarian yang berujung pada tazkiyatun nafs. Benang merah atas mindmap belajar saya. Rasanya semua ilmu gak akan pernah sempurna dipelajari, apalagi diamalkan, jika ada hati yang belum bersih.

Alhamdulillah pisan, setelah pertama kali ngobrol dengan mentor, persis ternyata dengan yang saya butuhkan. Allah ya menunjukkan jalan teh dari mana saja, via clue, yang kemudian dirangkai. Tazkiyatun nafs inilah kunci keseimbangan ilmu dan amal. Juga jawaban mengapa banyak orang berilmu tidak bisa mengamalkan sesuai ilmu yang dimilikinya. Istilah dr mentor adalah tidak seimbang.

Tazkiyatun nafs secara garis besar meliputi 3 hal, dan harus berurutan. Tauhid. Amalan (perintah dan larangan. Ilmu.

Jadi kita harus paham dulu alasan penciptaan kita di muka bumi beserta kewajiban dan haknya. TM salah satu upaya juga memahami diri sendiri sebagai pelengkap dalam memahami konsep penciptaan tentang diri.

Selanjutnya kita memahami perintah dan larangan yang harus kita turuti. Ini baru bisa kita laksanakan jika kita benar paham siapa kita dan apa tujuan penciptaan kita.

Kemudian yang terakhir barulah ilmu. Kebanyakan orang lompat ke ilmu. Sehingga tidak paham bagaimana menerapkannya, termasuk saya. Atau menerapkan tapi pada hal yang kurang tepat.

Fiuuh. Sekian dulu jurnalnya. Semoga cukup merangkum apa yang perlu didokumentasikan dalam perjalanan program mentorship ini.

Ujungnya ya semoga dengan pengalaman ini, jadi bisa membersamai anak lebih baik lagi. Juga bisa berperan sebagai Mentor anak-anak, yang mampu menggali potensi mereka sekarang dan kelak. Amin.