Menghadapi Anxiety dalam Mendampingi Anak Belajar

Kepala cenut-cenut, pusing di antara kedua alis, nafas cepat, dan selalu rasanya siap meledak. Tidak jarang omelan panjang dengan tone super tinggi pun terucap. Kemudian teringat bahwa saya dalam kondisi semua fasilitas ada, ilmu punya, di rumah pula. Jadi semacam: trus apa yang mau dikeluhkan?

Rangkaian pikiran ini semacam looping tak hingga hampir setiap hari ketika harus menemani teteh/abang mengerjakan tugas sekolahnya. Buat para ibu pasti paham, semuanya diakhiri dengan rasa gak enak dan kasian ke anak. Esok hari tantangan yang sama datang, dan siklus di atas kembali berulang. Terus saja begitu.

“Ya Allah ini teh harus gimanaa, mohon berilah petunjuk.”

Ketika hambanya bertanya, Allah selalu memberikan jawaban dari arah yang tidak diduga. Saya hanya perlu merangkai pencerahan yang terserak dari berbagai tempat.

Anxiety

Kemudian pagi ini entah kenapa ada sebuah artikel yang saya baca di catchmeup memuat tentang kesehatan mental dan anxiety. Ya tanpa referensi jurnal pun kita semua paham bahwa tingkat anxiety banyak orang meningkat tajam di masa pandemi. Hehe tapi bener sih, ada kok hasil penelitiannya di Amrik dan di Jakarta (disampaikan oleh Jakarta Smart City di sebuah seminar).

Hal yang menjadi highlight pada bacaan tersebut adalah umumnya orang merasa “ah gue masih mending, harus bersyukur, coba orang lain, lebih kasianan, asa malu pisan kalau mengeluh”.

Nah!

Di lain waktu, ada seorang teman yang memiliki background ilmu psikologi mengatakan bahwa tingkat anxiety saya tinggi ketika saya ngobrol ke beliau.

This is exactly what’s on my mind. Everyday: Saya tidak pantas mengeluh.

Semua kekhawatiran dan kegalauan selalu berakhir dengan kondisi saya tu masih jauh lebih baik daripada orang lain di luar sana. Support system ada, semua baik-baik saja, jadi gak punya hak buat mengeluh. Padahal sebenarnya every feeling is valid. Setidaknya diakui oleh diri sendiri, bukan denial.

Iya juga sih, malu, shallow, but this is me, and I have to accept it first so I know what to do next and move on.

Anxiety yang menjadi momok saya sesungguhnya bukan yang umum berkaitan dengan pandemi yaitu kesehatan, keberlangsungan mata pencaharian dan makan. Ya sesekali khawatir tentang kesehatan pasti ya. Wajar. Dampak pandemi adalah mengembalikan saya ke rumah, dan di situ semua rasa dan denial yang biasanya terpendam dari dulu jadi terbuka satu per satu.

Orang diuji di ranah yang justru dia merasa kuasai

-self reflection-

Sepertinya pernah mendengar hal serupa dengan quote di atas, tapi lupa dimana hehe. Mudah-mudahan bukan halusinasi 🤭. Ya begitulah, selama ini saya banyak mendalami teori belajar. Akan tetapi ketika berkenaan dengan anak sendiri seperti mentah bin mental tak terpakai ilmunya.

Ujung-ujungnya memang ilmu sabar, bertahan pada proses, dan konsistensi yang dibutuhkan. Again, all of those are not my specialties. Justru ayahnya anak-anak yang punya ketiganya.

Though, then I understand, there are so much on his shoulders, not just work, but thousands of people interests. Yang sama ayah yang kegiatan fisik dan fun ajah di hari libur deh 😊. Ya sesekali ayah juga jadi tempat curcolan keajaiban anak-anaknya.

Selama ini saya gak suka merasa gak bisa, karena ini ranah yang saya dalami. Kemudian ekspektasi terhadap diri sendiri tanpa sadar juga ikut meninggi. Belum lagi dikelilingi lingkar dekat yang berisi orang-orang hebat yang mampu membersamai anaknya dengan baik.

Kemudian ada pula berbagai keterampilan rumah tangga yang saya pun nol. Berbagai event dan kursus online yang diikuti pun semakin membuat nyata hal yang seharusnya saya sebagai perempuan bisa, tapi enggak. Mulai dari pilah sampah, masak, bebenah, berkebun, dan lain-lain, yang mana orang lain kalo ngerumpi topik itu bisa asik banget, dan saya lebih sering gak paham.

Makin lah tinggi ekspektasi ke diri sendiri. Yang kemudian jadi stuck. Gak maju kemanapun. Gak mau melakukan apapun.

Sebelumnya saya menganggap ini wajar dan memang seharusnya memang seperti ini. Kemudian saya pun mendapat kesempatan diskusi dengan penyintas depresi dan dia bercerita bahwa asal mulanya adalah ekspektasi terhadap diri. Ternyata hal yang kita anggap sederhana, kemudian berputar-putar di dalam otak, sampai kemudian ‘until too late‘ bisa menjadi hal berbahaya.

This is not healthy. Kemudian akhirnya juga berefek buruk karena lebih cepat ngomel ke anak-anak. Juga menjadi tersesat tak tau arah. Gak tau harus gimana, mulai darimana, dan gak tau lagi apa yang perlu dikejar.

Sebuah pernyataan bahwa School from home itu berat untuk semua pihak benar adanya. Akan tetapi selama 8 bulan ini saya menolak kebenaran itu. Again, segala kemudahan dan fasilitas sudah diberikan Allah, jadi merasa gak boleh ngeluh.

Flashback

Kemudian saya mengingat-ingat kembali perjalanan hidup dari dulu sampai sekarang. Segala pencapaian yang ada. Kemudian saya tersadar pada sebuah muara:

Saya bisa ada di suatu titik karena saya fokus di sana, dan tidak mengerjakan hal lainnya.

Maka tidak mungkin juga tetiba sakti bisa multi-tasking dan berharap semua berhasil. Saya tidak pernah latihan untuk semua itu. Jika mau bisa ya perlu waktu belajar kembali.

Ini kemudian yang perlahan saya coba pegang dan terima. Gak enak banget rasanya. Di saat ekspektasi terhadap diri tinggi sekali, namun harus mengalah pada kenyataan bahwa saya: belum bisa.

Merelakan

Akibat dari pencerahan ini adalah mau tidak mau saya mundur dari berbagai hal yang less priority. Bukan karena tidak penting, tapi karena yang ingin saya kejar itu masih sulit. Perlu tenaga dan sumbu sabar sangat panjang. Mendampingi anak-anak belajar.

Perlahan ekspektasi terhadap diri diturunkan. Semacam ya uwes lah, memang iya ada banyak kebermanfaatan dan eksistensi perlu dikejar. Sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang sudah diterima.

But, at this time, Saya perlu meluruskan dan menemukan titik nyaman dulu. Memperbaiki diri dulu. Fokus dengan 1 hal utama dulu. Selama beberapa waktu. Toh gak bisa keluyuran juga kan hehe.

Sampai nanti saatnya tiba perlahan mengejar kembali mimpi-mimpi kebermanfaatan diri di luar rumah. Tapi tidak sekarang.

Memahami kembali hakikat belajar

Ada kalanya saya ikut ayah keluar rumah, sekedar meluruskan pikiran yang ruwet dan refresh semangat. Di sana biasanya kemudian Allah menyisipkan gambaran betapa anak-anak itu baik-baik saja. Apa yang mereka lakukan sehari-hari juga mengandung banyak pembelajaran kehidupan.

Perolehan pemahaman mereka akan suatu hal baik-baik saja. Fitrah belajarnya juga baik-baik saja.

Rasa ingin tahu (Intellectual Curiosity) baik-baik saja. Kreativitas (creative imagination) juga baik-baik saja. Rutin ngoprek berbagai hal untuk menemukan suatu hal yang baru (Art of Discovery & invention) juga sudah. Kemudian, ketika sesekali diingatkan bahwa semua berawal dan kembali ke Allah maha pencipta, mereka juga masih bisa relate. Perihal prilaku dan adab juga ketika mamah lelah ngomel dan mengingatkan, mereka juga semacam autopilot menjalankan (Noble Attitude). *)

*) 4 tujuan belajar pada materi perkuliahan bunda sayang Ibu Profesional

Ya pastinya sesekali ada yang tetap membuat jerit-jerit karena prinsipil, seperti fitrah gender dan menjaga aurat yang memang gak bisa dikompromikan.

Lalu apa yang salah dengan anak-anak?
Lalu kenapa berbagai kekhawatiran itu tetap ada?

Yup, saya masih sering fokus atas berbagai to do list tugas sekolah. Semacam tanpa sadar menjadikan To Do list kosong itu jadi ambisi. Tanpa sadar juga membandingkan dengan anak lain yang sudah melesat kemana.

Lupa semua teori parenting dan belajar. Lupa pula bahwa hakikat belajar dan pendidikan sesungguhnya mengintegrasikan dengan nilai dan kehidupan sehari-hari di rumah dan di sekolah. Lupa pula anak lain teh ada ibunya masing-masing. Ibu yang memang sudah memiliki kualitas yang diperlukan: konsistensi dan sumbu sabar panjang.

Padahal sekolah juga sudah memfasilitasi bahwa semua tugas tanpa deadline. Jadi sebenernya cocok dengan pace belajar saya dan anak-anak yang moody. Ya itu tadi, ekspektasi ke diri sangat tinggi yang kemudian merembet juga pada ekspektasi ke anak.

Kembali galau dan merasa gagal, anak-anak ketinggalan sekolahnya bukan karena merekanya bebal, tapi karena ya simply masih anak-anak dan ibunya kurang sabar. Sama-sama susah fokus, mudah terdistraksi, lebih suka melakukan kegiatan yang disenangi, dan ketika mood baik, langsung cuss bisa mengerjakan banyak hal sekaligus.

Masalahnya mood anak-anak dan mamanya tidak sama timing-nya. Makanya jadi sering konflik.

This should be a fun process….

Jadi seringkali melupakan satu hal ini. Bersyukur saya kemudian dapat kesempatan diskusi tentang gaya belajar anak di kelas bunda sayang Ibu Profesional. Disitu ada 4 tujuan pembelajaran yang telah dipaparkan di atas. Jika dipetakan ke kegiatan ngelanturnya anak-anak sehari-hari, sebenarnya keempat tujuan tersebut masih on track.

Saya kemudian berpikir, bagaimana ya membuat seimbang, tapi dengan alasan pace dan cara belajar memang berbeda, bukan karena alasan males usaha lebih untuk mencapai standar yang ada.

Beda-beda tipis soale. Honestly.

Bagaimana pula ya maintain expectations agar hakikat belajar yang sebenarnya sederhana berjalan beriringan dengan yang ada di sekolah anak-anak. Sekolah dengan mekanisme yang sebenarnya juga sudah sangat ringan menurut saya jika dibandingkan sekolah lain 🙈, yang memang mendudukkan penanggung jawab pendidikan anak adalah orang tua.

Ya mungkin memang itu tadi, tantangan datang pada hal yang kita bisa dan suka. Kami sekeluarga benar-benar cinta dengan sekolah anak-anak. Justru karena life skill dan kesederhanaan pendekatannya-lah yang membuat ngos-ngosan.

Saya yang terbiasa kompetisi akademik tertulis kemudian harus belajar sabar bahwa setiap topik pelajaran dikaitkan dengan keterampilan kehidupan. Hal yang saya pun masih harus belajar banyak. Hal yang mungkin selama ini saya abaikan.

Memang PR tersulitnya itu menerima. Menerima bahwa saya perlu belajar kembali banyak hal dalam mendampingi anak belajar di rumah. Menerima saya tanpa bekal sumbu sabar yang panjang dan konsistensi terhadap rutinitas. Pikirannya lebih sering lompat-lompat, tapi di sisi lain ketika yang di pikiran sudah cukup, maka bisa komprehensif atau ngebut mengejar target.

Banyak banget salahnya

Ngancem ini itu, iming-iming ini itu, benar-benar saya sadari hanya ekspresi ketidakmampuan orang tua dalam membersamai anaknya. Gampangan ngomel daripada sabar mantengin. Gampangan ngasih iming-iming hadiah daripada sabar menunggu anak dapet mood belajarnya. Apalagi untuk hal yang dia tidak bisa.

“Kamu teh udah semua ada, semua fasilitas punya, bersyukur, gak kayak gini. Mending mamah kasih orang aja semua peralatan sekolahnya, di luar sana banyak yang butuh. Yang di sini punya tapi gak dipake”. Antara anaknya kemudian nangis karena sakit hati, atau diem aja karena udah lempeng.

Ya barulah setelah berkali-kali insiden, pencerahan itu datang. “anak umur segitu belum bisa relate dengan omelan tingkat tinggi macam itu”. Butuh hal kongkret ketika menjelaskan sesuatu. Hal yang terlihat, hal yang bisa dirasakan dan diterima.

Teladan

Kemudian yang terakhir kembali lagi ke sini. Susah juga kalau mamanya belum ‘beres’. Ada seorang teman mengatakan, ya kalau mau anak rajin belajar, ibunya kasih contoh bagaimana makna “rajin belajar” itu.

Kalau mau anak tidak mudah menyerah saat belajar, maka perlihatkan ke mereka, tidak menyerah dalam belajar itu seperti apa. Anak perlu contoh. Anak peniru ulung.

Selaras dengan pernyataan ini, menurut Bandura, most behavior is formed through modelling. Perilaku anak mayoritas terbentuk dari hasil meniru. Itu makanya perlu kasih contoh atas tiap hal yang kita berikan ekspektasi ke mereka.

“mamah kok gak nangis pas disuruh ngulang ngaji sama ustadzah”

Runni (8 tahun)

Tidak pernah sebelumnya kegiatan sederhana semacam belajar ulang hafalan surah pendek justru menjawab permasalahan saya dan anak. Anak butuh contoh, dan gak sengaja contoh itu saya perlihatkan ketika dia ikut duduk ngeliatin saya nyoba hafalan surah pendek, yang benar-benar pendek.

Sesekali saya diminta mengulang. Runni ternyata belajar dari situ, bahwa mengulang bacaan dan hafalan adalah bagian dari cara belajar Al-Quran. Bahwa wajah lempeng saya ketika diminta mengulang itu juga jadi pelajaran berharga buat dia. Belajar itu lama, perlu diulang berkali-kali, capek iya, nangis boleh, tapi bisa juga tanpa nangis.

Sederhana, tapi jawaban Allah atas kesulitan kita sering kali datang dari hal yang tak terduga.

Hahaha panjang. Sekian dulu hasil mengurai kekusutan otak. Semoga setelah ini menjadi pribadi yang lebih baik. Amiin.