Tebus Mainan

“Mah, yang ini belum ditebus mainannya.”

Kala (4 tahun)

Bocah cilik itu tetiba menghampiri, setelah menangis panjang karena dia ingin bangun lebih dahulu dari kakaknya, jadi nangis pas tahu dia lebih siang bangunnya. Ini gak ada hubungannya sih dengan topik hehe. Ya itu tadi, anak-anak teh bisa gak mood karena hal yang gak disangka-sangka. Nah pas dia udah kembali waras dan tetiba melihat mainan teronggok, dia meminta jatah mainannya dengan setoran sebuah hafalan.

Jadi ini cara yang saya baru coba beberapa pekan terakhir. Anak-anak hanya boleh minta mainan setelah ada setoran hafalan. Ide tentang hal ini memang seperti ujug-ujug muncul. Padahal memang hasil pemikiran atas beberapa concerns.

Yang pertama adalah memorizing’s has never been my Forte. Kegiatan yang berkaitan dengan kemampuan tersebut mulai dari cara, tips, sampai dengan teladan, dan kesabaran benar-benar terbatas. Jadi ketika harus menemani anak murojaah hafalan, saya benar-benar mati kutu. Baik kesabaran maupun teladan, keduanya saya kurang mampu.

Yang kedua adalah benda konkret. Umur anak-anak masih perlu mengaitkan hal konkret sebagai alasan maupun capaian dalam melakukan sesuatu. Maka apresiasi yang bisa diberikan adalah benda konkret, selain tentunya mengapresiasi perasaan senang yang muncul karena “accomplish” sesuatu.

Yang ketiga adalah mengurangi tumpukan mainan tidak terpakai. Jika mainan didapatkan dengan mudah, maka pastinya mudah juga disia-siakan dan dilupakan. Saya kemudian bertanya ke diri sendiri, bagaimana jika mainan hanya boleh didapat atas dasar usaha yang mereka lakukan?.

Adanya berbagai alasan ini juga tidak langsung membuat yakin apakah ini cara yang benar. Saya pun kemudian bertanya ke seorang guru sekaligus ustadzah yang saya kagumi. Jawaban dari beliau cukup menenangkan sekaligus meluruskan hal yang sebetulnya perlu diperhatikan.

Cara ini adalah cara untuk memulai. Hadiah menjadi cara termudah untuk membuat manusia termotivasi. Akan tetapi memang perlu dipahami cara ini tidak bisa dilakukan terus menerus. Pembiasaan serta pemberian pemahaman ‘mengapa harus melakukan sesuatu’ itu akan tetap menjadi PR besar yang dilakukan sepanjang hayat.

Pada penerapannya saya menggunakan squishy dan mobilan mini. Rentang harga 15rb-25rb. Adapun aturan main berbeda antara teteh dan abang.

Untuk teteh 1x tebusan mainan itu hanya jika telah menyelesaikan salah satu dari:
✅ Hafalan surah agak panjang
✅ 5 halaman latihan mengaji
✅ 10 halaman murojaah dari materi mengaji yang sudah dilewat
✅ Menuliskan word Bank & beberapa cerita buku bahasa Inggris 5 buah
✅ Latihan bahasa Arab 5 topik

Untuk abang aturan mainnya adalah:
✅ Hafalan 1 doa / surah pendek

Sudah 😁
Penuh dengan berantem tentunya. Mereka merasa kok berat pisan syarat cuma mau dapet mainan aja. Trus nangis guling-guling deh jadi senjata utama. Ya tetapi ketika coba diterapkan, walaupun nangis-nangis mereka masih stick to the rule.

Saya menyediakan mainannya berjejer di suatu sudut. Iming-iming pakai kata-kata biasanya gak dianggep sama mereka. Udah gitu mamanya pelupa pula. Jadi harus terlihat dulu apa yang bisa diperoleh dari apa yang diusahakan.

“Tah silakan kalau mau, tebus dulu”.

Akhirnya dari kegiatan penuh teriakan ada kalanya jadi sukarela mengajukan diri. It’s so heartwarming. Keduanya tu kenceng banget kalau ngehapal, cuma malesnya itu lho.

Sekali lagi memang saya pahami ini bukan cara yang bisa dipakai jangka panjang. Tapi ya bagi yang gak beride harus memulai dari mana barangkali bisa jadi cara untuk memulai. Toh pada penerapannya lama-lama yang terjadi adalah antara inisiatif sendiri untuk menyelesaikan hafalan/belajarnya, atau merelakan tidak punya mainan baru dan memiliki rasa kepemilikan tinggi atas mainannya. Keduanya sama-sama menyenangkan hati kan.😊