Jurnal Berbenah: Pakaian

Tempo hari saya mengikuti kegiatan untuk belajar mengenai bebenah. Ya, hal yang orang lain mah udah bisa dari kapan, di sini saya justru masih belajar. Hehe. Di sini saya tidak menyebutkan nama metodenya, karena memang dari 2 kelas yang saya ikuti, keduanya meminta untuk tidak share materi di luar kelas.

Jadilah tulisan ini saya buat untuk kenang-kenangan, namun tidak detail.

Pakaian jadi hal pertama yang mengawali rangkaian cerita mengenai jurnal bebenah, karena ini 1 hal yang sudah proven dan memiliki success story.

Niatnya hanya menaikkan kualitas hidup melalui kemudahan dalam memilih dan mengambil pakaian. Mindset berpikir yang seharusnya dipegang, dan bukan justru berpegang pada naiknya kualitas hidup = naiknya harga pakaian yang dipakai.

Success story menjadi label untuk objek bebenah pakaian karena sudah sustain (berkelanjutan). Alias sudah di titik optimal, tidak berubah-ubah, sistem yang ada sudah yang paling nyaman, dan mempertahankannya juga not big a deal.

Hal yang akhirnya saya pahami adalah bebenah bukan = merapikan, karena jika definisinya demikian. Maka bubar jalan haha. Selalu berantakan si rumah mah. Prinsip yang perlu dipegang adalah sudah bisa menciptakan kondisi anggota keluarga paham letak benda termasuk anak-anak, tidak ada kasus hilang/ketelingsut, dan bisa meletakkan kembali di tempatnya.

Sejauh ini yang berhasil baru pakaian. Haha. Memang prosesnya tidak langsung serta merta karena ikut kelas. Beberapa tahun terakhir sudah mencoba, tapi on off.

Kesenangan tersendiri ayah gak nyari-nyari suatu hal dan ribut pas mau berangkat di pagi hari. Kebahagiaan yang sederhana pula anak-anak bisa ambil baju sendiri tanpa harus hancur tumpah ruah 1 lemari. Ya memang, pada akhirnya kebahagiaan sebagai ibu dan istri kadang kala cukup dengan hal-hal seperti ini ya hehe.

Prinsip yang dipakai adalah sebagai berikut (tidak mengacu ke materi tertentu saja, dari berbagai bacaan dan kelas bebenah, dan disesuaikan dengan kondisi keluarga):

  • Jumlah sesuai kebutuhan saja, tidak berlebih, tidak kurang. Di sini saya mengasumsikan baju tersedia beserta printilan setidaknya cukup untuk 1 minggu tanpa mencuci.
  • Semua yang kekecilan dan kebesaran untuk siapapun tidak lagi disimpan, melainkan dikumpulkan untuk diserahkan kepada yang lebih membutuhkan
  • Secukupnya lemari masing-masing ketika semua cucian dan seterikaan masuk ke lemari
  • Baju yang sifatnya khusus hanya disimpan yang benar-benar pasti dipakai: kegiatan formal ayah, baju lebaran (yg memang udh 2 taun ini sama 🙈 karena suka banget, bukan pelit 🤭)

Ya begitu deh, ada tentunya beberapa tips dan prinsip. But like I said above, Saya gak tulis detail karena bisa jadi haknya kelas bebenah tertentu.

Sekian.