Teteh, Gak Usah Shalat!

“sekarang kenapa lagi ngomelnya?“

Sebuah pertanyaan tercetus sebagai reaksi pak suami yang sudah lempeng mendengarkan perseteruan istrinya dan anak perempuannya. Yang berakhir dengan jawaban long silence disertai muka cemberut.

“itu tu, cobain deh.. Anaknya kalo disuruh pura pura gak denger. Kalau dilarang, dilakukan. Ya udah aku balik aja.”

“Teteh cantik, shalat..”

Mulai dari yang intonasi ala princess sampai naik ke jadi ratu jahat. Biasanya ya lempeng pula dia menghadapi segala intonasi itu.

“Runniii, udah gak usah shalat ajah!”

Langsung lah anaknya jerit-jerit dan ngamuk. Sama reaksinya kalau saya mengucap kalimat keramat:

“ya udah terserah Runni aja, mamah gak mau ngingetin lagi”

Antara yang gemes gemes piye gitu. Ya jika direnungi dan dikembalikan ke tujuan awal mengapa anak harus shalat, ya sebenarnya kelakuan teteh justru on track, imwo (in my waras opinion).

Anaknya kalau dibiarkan aja ya tetap shalat sebenere. Cuma deadliner aja. Ya dia suka heboh sendiri kalau sudah mepet waktu, tapi belum shalat. Jadi lari-lari wudhu dan shalat. Sendiri. Gak pake diingatkan.

Di umur segitu, punya kesadaran akan ibadah wajib, sebenarnya kan alhamdulillah banget ya.

Kalau sudah selesai merenung gini kemudian jadi timbul sebuah pertanyaan: jadi baiknya didiemin saja atau diingatkan ya? 😁 Didiemin malah jalan. Diingetin banyak ngeyel. Kemudian terpikirkan juga, apa efek diingatkan ini yang lama-lama membentuk ingatan, atau sebenarnya ya memang fitrah dia?

Satu tujuan belajar yaitu noble attitude sebenarnya sudah terbentuk, yang dalam kaitan pembiasaan ibadah. Tapi ya gitu deh. Sebagai ibu teh saya suka bingung arah, apa yang dituju, apa yang dikejar, suka gak sinkron dengan makna sesungguhnya.

Yang dikejar shalat lengkap. Yang kejadian shalat kadang masih bolong tapi memang karena anaknya terlupa.

Memang akhirnya bagaimana ibu bisa merefleksikan makna dan hasil belajar anak ya. Mau apa sih yang dilihat. Mau apa sih yang dikejar. Mau yang bikin jerit-jerit dan ngomel panjang, atau yang bikin mensyukuri keadaan?.

Hehe inilah mengapa harus banyak belajar dan refleksi hasil belajar anak ya. Supaya tidak selalu terlihat ada saja kekurangan anak 😊, yang padahal itu sebenarnya kelebihan.

Note: cacatan pengamatan gaya belajar dan tujuan belajar anak untuk Noble Attitude.