Ya kamu kan ngurusin negara

Jadi sesekali saya dan pak suami ngobrol ketika lagi ada kesempatan berdua saja. Biasanya sambil makan. Kemudian berbagai topik obrolan random keluar.

“eh ayah, bapak-bapak tu tau gak sih kalo ibu-ibu teh sutris ngurusin anak di rumah pas sfh? “

Kemudian reaksi khas bapak-bapak pun keluar. Apa itu? Ya tanpa reaksi. Kemudian sebelum ada komplain, maka beliau menyambut dengan pertanyaan sesuai standard operating procedures:

“Emang sutris kenapa?”

“Ya rusuh aja, bagi waktunya kan susah.”

“Kamu kok kayak yang baik-baik aja?”

“Ya kamu kan ngurusin negara, masa aku curhat urusan beginian.”

Kadang kala suami bertanya perkembangan sekolah anak-anaknya. Pasti sebenarnya beliau ingin lebih terlibat. Setidaknya tahu para bocah sedang apa. Tapi memang saya lebih sering cerita yang hal unik-unik saja. Tidak semua hal. Khawatir merepotkan beliau.

Ya SFH ini selain membuat ibu jadi lebih pening karena berperan jadi guru di rumah, tetapi membuat anak-anak lebih banyak interaksi dengan ibunya. Privilege yang dulu harus berbagi dengan sekolah dan guru. Pada pelaksanaannya, setiap hari rumah pasti ramai. Mungkin mengajarkan sesuatu ke mereka itu mudah. Akan tetapi mengkondisikan mereka tetap senang, tetap tertib, itu yang sulit.

Selain karena saya memang selama ini belum paham bagaimana caranya, juga karena anak lebih manja ketika yang berbicara adalah orang tuanya dan di rumah. Semacam yang ini teh tempat istirahat dan main, kenapa jadi tempat mengerjakan berbagai tugas. Hehehe.

Buat para ayah pun sama. Hanya saja untuk ayahnya anak-anak saya lebih suka berbagi kegiatan yang fun. Jadi anak-anak bisa senang gitu ketika main atau belajar bareng ayah, sesuka mereka, tanpa tuntutan tugas dan kurikulum.

Pun saya memahami bahwa ada amanah besar yang dipegang suami. Sehingga gak harus semua hal dibagi rata soal SFH bocah ini. Walaupun kadang gemes. Ini kayaknya kalau sama ayahnya akan lebih cepat selesai deh. Anak-anak kan cenderung lebih segan dan nurut dengan ayahnya daripada mamanya. Again, karena mau kayak apapun mamah ngomel, ujungnya pasti tetap rebutan mamah.

Barangkali ini semua kelak jadi kenangan berharga ya jika diberikan umur panjang. Betapa banyak cerita yang dialami perihal School from home sekaligus menyeimbangkan antara amanah ayah di luar rumah. Sayapun belajar banyak dalam prosesnya, walaupun masih jauh dari ideal. Semoga semua bisa berjalan lancar, sekarang, dan ke depannya serta diberkahi Allah.

Amin.