Memahami Kembali 4E: Easy, Enjoy, Excellent, & Earn

Ada kalanya diri merasa hanyut tak tentu arah mengikuti berbagai hal dan mengerjakan berbagai hal. Terkadang merasa berhasil, terkadang masih merasa sangat tertinggal.

Kemudian 4E ini datang. Awalnya, dan masih pun sampai sekarang, merasa jauh sekali dari kondisi ideal. Pribadi ideal. Apalagi jika sudah sampai E yang terakhir, yaitu Earn.

Menyaksikan pergerakan yang sangat cepat di sekitar saya seringkali membuat diri bertanya-tanya, kok saya masih di sini-sini aja ya.

Kemudian saya coba renungi lagi. Apakah benar seperti itu? Perasaan ini tentunya benar jika dilihat dari sisi self-improvement. Akan tetapi menjadi salah jika dilihat dari sisi kurang bersyukur.

Apakah hal yang saat ini dikerjakan terasa mudah. Easy. Iya. Hanya terkadang printilan yang mengiringi yang sulit terkejar.

Apakah yang saat ini dikerjakan mudah dinikmati? Enjoy. Iya. Hanya saja karena manajemen waktu masih kurang baik dan belum mampu mengurutkan apa yang perlu diselesaikan sehingga lupa menikmati.

Apa yang saat ini dikerjakan, atau sebagian yang saat ini dikerjakan sudah baik. Excellent. Iya sudah ada. Hanya saja terkadang masih minder karena hanya sedikit sparing partner di ranah ini, dan sedikit juga yang merasa memerlukan. Jadi jarang ada kesempatan berbagi dan bermanfaat di hal yang saya sangat bisa tersebut. Berbeda jika ranah excellent itu adalah perihal pekerjaan ibu-ibu. Serasa temannya banyak, yang butuh banyak.

Ah mungkin saya hanya kesepian saja karena jarang ngobrol sama orang โ˜บ๏ธ

Apakah saat ini bisa memperoleh pendapatan dari apa yang disenangi? Lha iya sudah. Eh iya sudah ya. Trus kenapa masih merasa terintimidasi karya-karya lainnya ๐Ÿ˜Š

Ah mungkin saya hanya bersedih dan cemas karena hal yang saya bisa justru terkait ranah publik, bukan domestik. Maka rasa menjadi orang gagal itu akan selalu ada. Lha wong domestik kan amanah utama perempuan, istri, dan ibu.

Nah mari mundur ke belakang. Sebelum membahas mengenai 4E, harusnya membahas passion, character, dan habit dulu. Lagi-lagi inipun saya terhanyut.

Passion, karakter, dan habit yang saya tetapkan untuk dieksplorasi bukanlah hal yang saya harus lakukan. Jadinya galaunya gak habis-habis. Every thing that’s related with passion, semacam yang baik-baik saja. Tinggal kapan butuh, aku bisa. Gitu lah gampangnya. Ibarat kata disuruh menelusuri 4E pun semuanya terpenuhi.

Tapi bukan itu. Hal yang saya perlu lakukan masalahnya bukan itu. Hal yang perlu saya bangun karakter dan habit nya itu bukan itu ๐Ÿ˜Š.

Akhirnya kadang gak ada yang selesai, gak ada yang dikerjakan. Karena selalu ada di persimpangan. Keduanya membuat bahagia dan fulfilled, hanya saja yang satu effortless, yang satu benar-benar bukan zona nyaman tapi harus.

Ada 1 hal yang bisa jadi lesson learned. Selama ini saya berjibaku dengan to do list panjang yang tak kunjung selesai. Kemudian saya menemukan Bullet Journal yang membantu mengelola to do list ini agar lebih manageable. Nah setelah tau materi tentang character dan habit, saya menemukan mekanisme baru. To do list saya diubah jadi habit. Bukan tentang ngapain. Tapi meluangkan waktu secara rutin untuk ngoprek tentang hal itu.

Ya kita tahu ya sekarang ini setiap manusia pasti punya sekian Project paralel di kehidupannya. Biasanya to do list adalah mengenai bagaimana menyelesaikan project tersebut. Akhirnya selalu timpang. Yang deadline nya paling dekat yang akan dikerjakan. Sampai sekarang pun masih dengan pola yang sama ๐Ÿ™ˆ

Saat ini tapi saya coba berpikir ulang bagaimana jika bukan to do list tapi habit. Sekian jam untuk project A, sekian jam untuk project B, dan mulai dari durasi kecil. Sempet terlaksana, ya habis itu lupa lagi karena kembali ke pola lama: waktu tersisa untuk yang dekat Deadline.

Well tapi dipikir-pikir jika ini benar sudah menjadi habit, mungkin suatu saat nanti akan ada masa dimana tidak ada lagi Deadline mepet. Jika masa itu datang, mudah-mudahan sudah ada karakter-karakter baru yang terbentuk dalam menjadikan diri pribadi yang lebih baik. Amin.

Oiya, btw ini tulisan merangkap jurnal untuk sebuah kelas. Ada 2 poin yang perlu diselesaikan. Yang pertama sudah saya bahas di atas. Yang kedua adalah beberapa portfolio kontribusi. Saya tidak jabarkan di sini karena sifatnya sebaiknya tidak terlalu dipublikasikan. Saya sampaikan sebagai link yang dalam beberapa waktu akan saya hapus (link nya) untuk kerahasiaan kelas.