Belajar Menajamkan Rasa

Suatu pagi, ada sebuah postingan di Explore IG yang menarik mata saya.
Biasanya saya tidak ingin melihat lebih dekat karena ada label video viral.
Tapi tidak kali ini.

Di postingan tersebut terlihat seorang pedagang melayani pembeli pertama di hari itu.
Tampak biasa memang.
Sudah sering saya jumpai video serupa.
Namun entah mengapa kali ini terasa sekali sedihnya.
Banyak rasa campur aduk saat melihatnya.
Pun saat mengetik artikel ini rasa nyesek itu tetap terasa.

Berbagai pikiran terlintas.
Kasihan.

Pelanggannya yang dulu, hari ini pada di rumah saja, trus siapa yang beli?
Itu maskernya pakai uang apa belinya?
Itu sewa lapak/tokonya bagaimana bayarnya?
Itu bahan hari itu kalau gak habis dikemanakan?
Itu bahan hari itu belinya pakai uang apa?
Hari itu makan sehari-hari gimana karena belum tentu untung?
Keluarganya bagaimana semisal hari itu tidak ada untung, dikirimi uang dari mana?
Trus dia bisa akses bantuan pemerintah gak?

Kemudian saya melihat betapa ikhlasnya pedagang tersebut melayani pembeli.
Jleb rasanya.

Belum tentu ada yang beli saja dia tetap bertahan.
Belum tentu untung saja dia masih tetap buka.
Belum tentu ada yang datang, dia tetap berpenampilan layak dan sopan.

Si saya? Dasteran di rumah dan terkadang merasa mager ngapa-ngapain.
Apa yang menguatkan pedagang ini dan teman-temannya?
Apa yang membuat mereka pantang menyerah?

dan apa yang saya kemudian bisa saya teladani?
Jauh sekali rasanya kepantasan diri dibandingkan mereka.

Mungkin ini semua cara Allah mengingatkan saya.
Bahwa di tengah kondisi cukup, banyak sekali hal yang tetap terlewatkan.
Banyak usaha yang tidaklah maksimal.
Banyak kegiatan hanya asal-asalan.
Banyak penampilan tanpa mau kerepotan berdandan.

Ya Allah.
Tolonglah ya Allah bantu.
Mohon mudahkan rejeki para pedagang ini.
Cukupkanlah perut mereka.
Bahagiakan mereka.
dan sampaikanlah kami semua di masa paska pandemi,
ketika kondisi lebih damai untuk kami semua.
Amiiin.

Note: ini juga makanya gak boleh sering-sering keluyuran di socmed haha.. mampir di 1 postingan saja bisa sejuta rasa dan pikiran..