Memilah Prioritas Peran dari Ilmu Bebenah & Pilah Sampah


Hihihi.. Iyaaa tampak gak ada hubungannya blas..
Tetapi hal ini benar terjadi pada saya..
Bahwa dari prinsip dan semangat dari apa yang diajarkan pakar-pakar bebenah, manfaatnya bisa sampai ke memberanikan diri membenahi dan memilah peran..

Ya rumah tetep dong berantakan. Hehe.
Shopping ya masih tetap juga.
Kan membantu membangkitkan perekonomian UMKM ^__^ (kontribusi dan ngeles beda tipis)

Melepaskan hal-hal, baik barang maupun amanah, itu butuh latihan mental.
Apalagi hal tersebut benar-benar disayang-sayang dan merupakan sumber kesenangan pribadi.
Padahal mungkin kita jarang memanfaatkan, atau bisa jadi sebenarnya kita bisa menunda untuk memperoleh kesenangan dari barang tersebut.

Halooo.
Siapa sih ibu yang tidak menyatakan bahwa keluarga adalah prioritas utama?
Gak ada. Begitupun dengan saya.

But, do we really living honestly with that statement?

Ini pertanyaan renungan yang perlu kita jawab. Secara jujur.
Demikian pula dengan saya.

Bukan ilmu parenting,
Bukan ilmu suami istri,
Bukan ilmu keluarga.

Ilmu bebenah dan pilah sampah lah yang kemudian menjadi jawaban atas pertanyaan “how I live with the statement, that my family is my priority”.

Memilah prioritas, menunda peran, dan bahkan melepaskan peran.

Melepaskan suatu barang yang kita sayang, dan memberikan ke orang lain, atas dasar kebermanfaatan, itu tidak mudah lho.. Butuh latihan mental..

Bukan hal yang mudah pula untuk mengubah mindset, bahwa memberi atau berdonasi, tidaklah harus barang bekas, dan tidak harus pula mengeluarkan dana untuk membelikan sesuatu yang baru. Bisa lho ternyata memberikan benda yang sangat kita sayang-sayang, benda yang harganya lebih mahal daripada yang kita pertahankan di rumah, dan bisa pula benda yang lebih cantik daripada yang kita pakai.

Asasnya adalah kebermanfaatan.
Jika itu bermanfaat bagi orang lain, on more closer period, alias sering dipakai, maka itu sah-sah aja dilepaskan untuk orang lain.

Gak harus kan the helper squad (ART, driver) kita pakai barang yang lebih murah / jelek daripada yang kita pakai. Prinsipnya, di saya dan suami gak terpakai. Saudara juga jauh semua. Maka kasih aja ke orang terdekat, the helper squad, atau siapapun yang mereka ingin tujukan. Udahlah mereka hidup pas-pasan, kalau dikasih barang, pasti inginya kirim ke keluarga di kampung. Belajar gak kita dari mereka?

Banyak barang yang sifatnya pemberian, dan lupa pula kapan dapatnya. Mungkin beberapa tahun lalu, saat ukuran tubuh saya dan suami jauh berbeda. Saya lebih kurus. Ayah lebih mengembang. Sekarang, tidak muat terpakai.

Kemudian kita melihat salah satu helper squad memakai suatu baju yang kita berikan, dan harganya jutaan, namun dia gak sadar (dan tidak kami kasih tahu supaya gak jumawa), tapi begitu sumringahnya dan jadi sering dipakai.

Padahal, di saat yang sama, kami tidak menyisakan satupun barang dengan harga serupa. Justru jauh di bawahnya. Barang yang sering dipakai justru yang harganya so so kan?! Karena memang itu yang nyaman. Kalau kata Marie Kondo, pertahankan yang “sparks joy”. Tapi yang demikian entah kenapa yang murah meriah hahaha. Mungkin memang saya kurang sense seni dan fashionnya >.<

It feels so satisfying

Nah ketika berhasil menerapkan pilah terhadap barang, ternyata menerapkan pada konteks peran dan kegiatan ternyata lebih mungkin untuk dilakukan.

Melepaskan zona nyaman, zona bahagia, zona aktualisasi diri, dan zona apresiasi diri, dengan alasan supaya bisa belajar lebih banyak di zona tidak nyaman.
Kemudian yang dilepaskan pun ranah kontribusi dengan jampe-jampe ini untuk kebermanfaatan orang banyak.
Ini jelas bukan hal yang mudah.

Setelah denial cukup lama. Lama banget malahan haha. Hampir setahun pandemi.
Barulah saya mau mengakui bahwa saya tidak mampu ideal membersamai anak-anak sekolah di rumah.

Mengapa denial?
Ya saya teh dosen, risetnya tentang PJJ, berkutatnya sama teori belajar dan mengajar, dan kemudian mati kutu ketika menghadapi anak kecil-kecil PJJ. Aib kan.

Lama sekali rasanya kenaifan itu berganti dengan kerendahan hati.
Ya kali anak kecil butuh ibunya S3 untuk menemani belajar.
Anak kecil butuhnya ibu yang telaten, konsisten mengingatkan hal-hal sederhana, mudah, tapi dilakukan setiap hari.
Anak kecil butuhnya ibu yang sabar mendampingi pekerjaan yang harusnya 5 menit beres tapi ini butuh jutaan tahun, eh seharian maksudnya.

Zona tidak nyaman banget kan. To Do list panjang, cuma 1 yang selesai. Bahkan gak selesai, lanjut besok. Belum lagi pelupanya. Baca doa buka kelas tiap hari pun sering skip, atas alasan “oh mamah lupa”. Hahaha >.<

Nemenin sekolah : masuk list terbawah anak belom setoran tugas >.<
Kerjaan mamah : apa kabar, lama tak bersua
Sekolah mamah : mandeg
Dampingi ayah : sering kena omel lupa ini itu

Di sisi lain, hal yang harus dilepaskan adalah zona nyaman yang:
Dengan effort kecil untuk suatu event saja, apresiasinya datang tak berkesudahan.
Dengan waktu singkat saja, paparan materi yang dibuat bisa sampai ke ratusan orang, kadang menyentuh angka ribuan, dalam lingkup nasional.
Dengan tenaga sedikit, bisa menampilkan sesuatu yang menimbulkan kepuasan dan kebahagiaan diri. Yang terkadang sampai: oh ya Allah saya lupa betapa bahagianya saya mengerjakan hal ini.
Dengan hanya membawa nama “Ami”, saya bisa eksis dengan kondisi masih banyak sahabat yang tidak tahu saya istri siapa hihihi.. Kadang nyaman lho gak bawa-bawa nama besar ayah ketika mencari prestasi di luar sana.

Nah, kalau begini, mending zona tidak nyamannya ditinggalin kan, dan berprestasi dengan mudah di zona nyaman. Toh memberikan manfaat juga untuk orang lain.

Tapi gak gitu juga kan cara berpikirnya.

Justru sekarang saatnya menaklukan tantangan dengan mengubah segala ketidaknyamanan menjadi nyaman, dan harapannya menjadi ‘effortless‘ suatu saat nanti.

Kembali ke prinsip dan semangat bebenah maupun pilah sampah.
Kuncinya tetap memilah mana yang disimpan, mana yang bisa diberikan ke yang lain, mana yang bisa ‘dibuang’, serta mana yang bisa ditunda perolehan kesenangannya. Kemudian kembali lagi ke ‘kebermanfaatan’ yang paling hakiki (cie bahasanya), yaitu bagi keluarga.

Bahwa untuk memaksimalkan suatu peran, ada kalanya memang perlu ada peran yang ditunda dulu.
Apalagi bagi pribadi yang banyak kurangnya, seperti saya.
Ini semua dilakukan untuk memperluas ruang berpikir, demi kedalaman fokus dan pikiran, agar bisa menyingkap berbagai hikmah dan wawasan akan hal yang sebelumnya tak terlihat di depan mata. Ini semua dalam rangka terus memampukan dan menyamankan diri di zona tidak nyaman.

Kapan lagi lho berbagi pahala dengan guru dalam mengajarkan ilmu dasar ke anak-anak.
Kapan lagi juga memberikan manfaat lebih bagi pendidikan.
Toh masih sama-sama bidang pendidikan hehe.
Kalau biasanya di ranah pendidikan orang dewasa, maka kali ini untuk anak usia dini.

Ya PR-nya hanya melalui fase bersedih-sedih ria saja, bahwa tidak ada lagi apresiasi yang menyenangkan hati, tidak ada lagi kesenangan effortless, dan tidak ada lagi capaian terukur..
dan kemudian justru bertemu dengan kegagalan setiap harinya karena kekurangmampuan diri..

Namun di sisi lain,
Kegagalan-kegagalan tersebut diselingi momen berharga akan capaian yang tidak disangka-sangka..
Bukan hal menyenangkan, bukan pula hal memuaskan sebagaimana perasaan ketika mencapai hal-hal dengan targetan terukur.

Melainkan perasaan baru yang menghangatkan hati.
Ada pula kesadaran baru bahwa ada ya kegiatan yang membuat kita capek, lelah pikiran maupun hati, namun hal tersebut tidak akan pernah membuat diri lelah untuk merasa lelah.

Well, maybe that’s the perks of being a mother, our life is always changing, but into a good way, and There’s always a time when we create our very own definition about what happiness really is.