Mengubah Stress-ku Menjadi Fokusmu: Living with Less Digital Waste

Cuung yang pernah?? Gak mungkin si saya saja kan yang pernah merasakannya.. Apalagi kalau di grup yang anggotanya banyak.. Lieur..

Dulu saya hampir selalu mencoba meminta cara yang berbeda di setiap grup chat yang menggunakan cara jaman batu seperti itu. Hampir selalu pula tidak banyak yang peduli. Seiring waktu perulangan terkadang membuahkan hasil.

“nanti mba Ami ngomel, jangan bikin list gondrong”
“aduuuh namaku ilang, lirik mba Ami yang pasti udah dongkol dari kapan tau”

Berbagai percakapan serupa yang lucu-lucu gimana gitu seringkali muncul.. Pencapaian saya akhirnya memang sekedar mengkonotasikan diri dengan anti list gondrong di WAG. Well, it’s a small start.

Eh pada tau kan list gondrong itu apa? Itu lho yang kita bikin daftar sesuatu di chat group, dan di-copy paste berkali-kali setiap ada yang mau isi.

Semua prinsip kualitas data dilanggar, mulai dari data redundan, gak cuma sekali, belasan or bahkan puluhan kali. Data sulit di-retrieve, alias dicari kembali. Ada pula data missing. Ya itu tadi, tetiba nama hilang dari daftar karena ketimpa yang lain.

Data redundant is the biggest nightmare in getting useful information

Anyway, at some point I stopped doing that.. Berkoar-koar sana sini untuk menghentikan kelakuan jaman batu yang sepertinya memudahkan, but on the long run, justru menyulitkan. Mulai dari yang merasa deg-degan untuk mengingatkan, kemudian makin lempeng, kemudian judes bin sarkasme.. Sampai ke titik ya sudahlah.. People don’t change in a night..

Seringkali saya merasa menjadi orang paling lebay atau bodoh karena mengangkat topik sederhana sebagai sebuah isu yang harus dipikirkan bersama-sama.

Masih teringat jelas di ingatan bahwa saya mengajukan hal yang sama di grup KIP (Konferensi Ibu Profesional) pertama di Yogya paska acara. Hanya sekedar listing alamat FB/IG dengan membuat list panjang tersebut di grup WAG, namun saya minta dalam Google Docs supaya rapi. Ditolak tentunya, karena ribet. Saya nyatakan, ini lahan perjuangan saya, tema change maker saya. Akhirnya ide tersebut diterima. Tentunya tetap tidak ada yang mengisi Google Docs saya hehe.

Pun hal yang sama terjadi di berbagai grup, mulai dari yang berisi percakapan ringan sampai ke ranah profesional. Ya sudah, tidak apa-apa. Mungkin sayanya aja yang rese’.

Tapi, benarkah tidak apa-apa. Sebuah isu kan tidak akan muncul jika tidak ada masalah.

Saya merenung lebih dalam, mengapa ya hal sederhana macam ini jadi sebuah isu besar buat saya. Jawabannya adalah karena saya merasa pusing, deg-degan, terdistraksi, dan terpicu emosi negatifnya.
Tapi kenapa? Adakah hal lain yang memicu masalah yang sama?

Ketika ditelusuri, ternyata pemicu perasaan tidak nyaman tersebut ada banyak!!!

Keruwetan folder Downloads pada laptop, penumpukan file foto di Gallery HP, banyaknya icon-icon aplikasi, notifikasi, email bertebaran di laptop dan HP. Banyak!!! Sudah kah, itu saja? Tidaaak..

Saya telusuri lagi perasaan ketika menggunakan media sosial, lebih parah lagi ternyata. Feeling helpless karena tetap tidak kuat terhadap pesona medsos, tetapi diri tidak selalu punya kemampuan menjaga kandang waktu.

Terlebih lagi, ketika kita tidak bisa menjaga perasaan untuk merasa bagai itik buruk rupa di pojokan ketika melihat berbagai bling-bling di layar HP. Belum lagi masalah seringnya terdistraksi dari berbagai niatan melakukan sesuatu.

Saya mencoba memulai perjalanan panjang mengurangi berbagai perasaan tersebut. Tidak ada contohnya tentunya. Karena gerak saya berlawanan dengan berbagai jurus marketing dan kebiasaan orang banyak.

Kemudian saya mencoba menelaah kembali, mengapa saya dan hanya saya?

Sampai kemudian ada seorang teteh berkata: “Ami, otak kamu ramai sekali”.
Komentar yang menyamankan hati bahwa ada alasan logis di balik ini semua.
Saya ternyata tidak mengada-ada. Saya ternyata stress sendirian bukan tanpa alasan.

Beliau memberikan pendapat berdasarkan hasil assessment talent mapping saya. Perpaduan kekuatan saya justru terkadang membuat keramaian seperti pasar malam di dalam pikiran. Pemicunya adalah setiap saya menerima informasi. Oke lah kalau sedikit. Kalau banyak?

Apakah kemewahan memperoleh sedikit informasi tepat guna dan sesuai sasaran sekarang bisa kita dapatkan? Oh tidak. Banjir informasi dimana-mana. Distraksi dimana-mana. Tidak jarang saya nge-hang dan kembali merasa paling bodoh sedunia. Ketika orang kebanyakan menjadi paham dengan banyaknya informasi, tapi saya merasakan sebaliknya.

Nah, mungkin itu kata kuncinya. Saya berbeda. Maka cara saya memang perlu berbeda. Antimainstream istilah kerennya. Tidak apa-apa. Tidak usah malu.

Mulailah saya mencari cara membenahi diri sendiri. Saya sudahi dulu mengajukan complaint sana sini ke berbagai grup atau media sosial. Menciptakan lingkungan yang nyaman untuk saya dengan meminta orang lain mengikuti cara saya itu bukanlah solusi.

Kemudian perlahan-lahan jalan menuju pencerahan terbuka. Tidak jauh-jauh dari ranah edukasi. Saya memperoleh kesempatan mensosialisasikan materi literasi digital, dan saya memilih menyentuh sisi yang berbeda tapi menjadi menjadi momok buat saya. Jalan yang sekaligus membuktikan bahwa jika Allah berkehendak, berkarya dan berdampak tidak selalu harus dalam kondisi ahli, bahkan ketika “fase menyembuhkan diri” pun bisa.

Sekali, dua kali, eh kok banyak yang mengamini kondisi dan materi yang saya paparkan. Semua apresiasi yang saya peroleh sungguh positif. Aha, berarti saya tidak sendirian. Di berbagai kesempatan tersebut saya memperkenalkan sebuah istilah yang saya karang sendiri.

Digital waste: sampah digital; berbagai data/informasi yang tidak memiliki manfaat

Tentunya saya tidak klaim saya yang menemukan istilah tersebut. Saya hanya merasa bahwa saya berhasil melabuhkan petualangan karena stres ke suatu konsep yang belum banyak orang sadari. Ketika di-googling memang istilah ini belum banyak dipakai. Akan tetapi dari yang sedikit itu, ternyata sudah ada yang menggunakan dan maksudnya sama, yaitu masih seputar data dalam jumlah besar dan mengganggu.

Seiring dengan hal ini, sedari dulu saya memang ingin punya media sosialisasi edukasi literasi digital, yang tertuang dalam nama att.IT.ude, ya attitude, istilah yang punya kedekatan makna dengan prilaku positif. Penekanan ada pada IT karena konteksnya memang prilaku positif dalam menggunakan Information Technology.

Because IT is nothing without attITude

Ide ini sempat tertuang dalam website dan instagram. Akan tetapi karena isinya biasa saja yaitu materi literasi digital secara umum, sayapun mengalami masa-masa kehilangan arah bagaimana caranya memajukan ide ini. Sampai saya bertemu dengan konsep digital waste ini.

Ya begitulah awal mula saya mulai bisa mendapatkan obat atas “stress” saya, sekaligus memfokuskan diri terhadap edukasi literasi digital yang mungkin antimainstream.

Kemudian kesempatan berbagi dalam lingkup luas datang ketika kelas Bunda Produktif di Ibu Profesional, yaitu di Hexagon City Virtual Conference. Saya memilih untuk mengisi materi via IG live. Lagi-lagi semuanya diawali dengan keminderan. Orang mah topiknya cantik, manajemen rumah tangga. Lha aku? Asa kurang menarik dan geek sekali.

Paska acara tersebut, japrian apresiasi yang menyenangkan hati mulai berdatangan. Datangnya pun dari mereka yang selama ini saya jadikan guru-guru kehidupan saya. Senang sekali rasanya.

Kemudian, sekali lagi kesempatan itu datang ketika saya diminta sharing soal tema ini sebagai awalan kelas Bunda Sayang Ibu Profesional batch 7. Niatan mundur dari dunia Ibu Profesional, menjadi sejenak tertahan hihi. Kesempatan semacam ini pasti saya terima dengan senang hati.

Oiya, behind the story, saya memang memutuskan mundur dari berbagai hal baik di ranah sosial maupun profesional, untuk menata peran di dalam rumah. Ya tapi semua hanya jadi angan-angan, karena semua pihak dimana saya mengajukan pengunduran diri, bereaksi semacam pura-pura gak tahu, dan tetap melibatkan saya di berbagai diskusi. Haha. Ya sudah, mungkin memang masih diberikan kepercayaan.

Back to topic. Permintaan ini kemudian tumbuh dari hanya 1 sesi menjadi 1 topik materi perkuliahan, disertai tantangan implementasi 12 hari. Awalnya saya hanya lempeng menjalaninya. Ketika menyusun materi dan live streaming pun saya hepi-hepi saja tanpa beban. Inilah ranah saya di mana saya tahu konsepnya, telah mengimplementasikannya, dan bermain dengan segala emosi di dalamnya. Sharing about it is piece of cake. Berikut sedikit teaser-nya πŸ™‚

Setelah bulan berganti, dan perkuliahan Bunda Sayang berganti topik, tetiba saya tersadar. It was really once in a lifetime opportunity.

Saya tidak hanya berkesempatan menjadi fasilitator sebagaimana cita-cita lama saya, juga menjadi tim kurikulum walau tidak banyak kontribusinya, dan tanpa sadar saya bisa menorehkan legacy sebuah materi perkuliahan di sebuah kelas berisi para ibu pembelajar hebat.

Kayak yang keren kan, walaupun enggak. But really, it has been an honour.

The goals are to lessen the distraction, regain our focus, and better, regain our selves.

Inilah manfaat yang sekaligus menjadi tujuan saya dalam menekuni topik ini. Tujuan yang sama yang saya bagikan kepada yang lain di berbagai sesi sharing. Itu momok saya. Ini stress saya. Akan tetapi, kita bisa sama-sama perbaiki untuk bisa kembali fokus.

Tantangan 12 hari yang sungguh mengharukan. Sayanya saja tidak pernah mendokumentasikan, apalagi rutin straight 12 hari. Ide ini bisa bergulir jadi ribuan jurnal / postingan para ibu pembelajar jadi kesenangan besar buat saya. Apalagi ada testimoni bin curhatan bahwa mereka senang menjalani dan bisa kembali fokus pada hal yang benar-benar penting. Bahkan tidak sedikit cerita dengan aksi yang jauh lebih besar dan ekstrim dari saya. This is the truest form of happiness. Ketika kita berbagi hanya sedikit, tapi bisa berdampak.

Eh iya ya. Keren ya kalau dipikir-pikir. Haha. Baru sadar pas menulis ini.

“Mbaaa, sehari setelah menyimak materimu, aku bisa left 100 WAG”
Eh. Banyak amat.
Oh iya ya, saya kan sudah lama di Ibu Profesional. Jadi banyak kegiatan yang selalu disudahi dengan pembubaran grup. Jadi sedikit grup aktifnya. Lagi-lagi komunitas belajar yang satu ini membantu saya memperoleh kemudahan hidup.

Ah tibalah kita di penghujung cerita. Akhirnya stress-ku bisa menjadi fokusmu πŸ™‚

Sungguh menyenangkan rasanya sharing suatu hal yang sudah kita lakukan (doing), sudah ada proof of concept, dan sudah berkelanjutan dijalankan (sustain).

Topik yang saya tekuni bukan sekedar karena latar belakang studi saya, melainkan upaya untuk sembuh, untuk bisa bertahan dari stress saya. Yang jika direnungi ya karena alasan ingin bisa menjalani peran sebagai istri dan ibu yang lebih baik lagi. Walau terasa masih sangat jauh perjalanan.

Well, hopefully it becomes a small step which will grow into bigger one during time.

Ya begitulah cerita saya. Tulisan ini sesungguhnya diniatkan untuk ikut berpartisipasi dalam Konferensi Ibu Pembaharu dengan mengambil tema perempuan di era digital. Ya pada akhirnya jadi treatment tersendiri untuk pikiran dan hati. Berbagi sedikit memento, yang semoga bisa jadi penyemangat diri maupun siapapun yang membacanya. Inilah sedikit kado dari saya untuk semua. Inilah kado dari rumah untuk dunia. Eh iya kan, mahasiswa bunda sayang dan bunda produktif kan tersebar di seluruh dunia hehe.

Last but not least, terima kasih sebesar-besarnya untuk semua rekan yang memberikan kesempatan dan panggung untuk saya bisa berbagi (syukur-syukur berdampak). Tanpa apresiasi dan dorongan, saya mungkin masih teronggok di pojokan berkutat dengan berbagai perasaan negatif tapi tidak punya solusi atasnya.

The End


Eits jangan di-close dulu. Ada after credit nya lho kayak drama korea..
Bonus tulisan tentang apa yang saya lakukan untuk menghindari digital waste. Silakan bisa di-relate jika senasib, tapi bebaskan cara sesuai kebutuhan masing-masing.

Sebagaimana saya belajar dari teman-teman di ranah sustainable living, bahwa tujuan sesungguhnya itu bukan mengelola sampah tapi mengurangi dan bahkan meniadakan sampah. Begitupula dengan digital waste, kita usahakan jangan sampai ada.

Medsos pertemanan: Unfriend yang membawa hati jadi tidak enak. Silaturahmi itu kalau ada kedekatan hati dan saling berpikir positif, dan tidak terbatas sebuah media saja. Prilaku buruk seorang teman di media sosial seharusnya tidak memutus silaturahmi. Maka unfriend jadi tidak haram kan dengan niatan menjaga hati saya terhadap orang yang di unfriend. Postingan toxic itu digital waste lho. Oiya ada lagi. Saya raja tega tidak accept request friend. Gak sombong kok. Jika berjodoh, pasti bisa bertemu di forum lainnya πŸ™‚

Medsos untuk obrolan: Keluar grup itu tidak haram lho. Siapa bilang memutus silaturahmi? Pernah gak mengalami perang batin antara menjaga kesehatan mental diri atau menjaga hati orang lain yang kenal juga cuma nama? Grup dibaca juga enggak, tapi bikin penuh. Ini termasuk dalam definisi digital waste juga kan.

Notifikasi itu didesain untuk tidak dilewatkan. Jadi kita yang perlu menata agar tepat guna. Untuk saya, semua notif grup jelas mati. Japrian sekalipun saya matikan notifnya. Notifikasi hanya saya hidupkan untuk lingkar terdekat dan urgent. Ada yang bilang, kalau perlu banget pasti telepon. Notif yang sampai membuat distraksi itu digital waste. Eh iya kalau sesuai teorinya, harusnya notifikasi yang benar itu tidak mengganggu lho.

Medsos bling bling: Unfollow sampai tersisa hanya di angka yang managable. Untuk saya hanya 20an. Tematik. Jika sedang belajar atau tertarik suatu topik maka akan follow beberapa akun terkait. Jika move on dari topik tersebut, maka unfollow dan ganti following akun lain dengan topik selaras hal yang sedang dipelajari. Postingan yang membuat hati emak jadi insecure itu adalah the ultimate digital waste. Hihihi. Jadi kalau ada request foll-back, punten, pasti akan saya jawab hanya dengan senyuman karena bukan seperti itu cara main saya πŸ™‚

…dan masih banyak lagi.
Kita bertemu di sesi sharing lainnya ya. Saya tidak tulis semua supaya ada panggilan menjadi narasumber dan bisa menuangkan hasrat curcol tapi yang mendengarkan banyak hehe.
See U.

Wassalammualaikum.